INILAH.COM, Jakarta – Saat ini, analis masih memberikan outlook overweight untuk saham-saham perbankan. Tapi, jika BI rate naik 25 bps menjadi 100 bps, outlook turun menjadi netral. Mengapa?
Thendra Crisnanda, analis BNI Securities mengatakan, apabila suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) dinaikkan kembali, pihaknya akan mengubah outlook saham-saham perbankan dari overweight menjadi netral. Menurut dia, outlook netral berlaku jika BI rate naik 100 basis poin.
Hingga saat ini, lanjutnya, BI rate sudah naik 75 basis poin dari 5,75% ke 6,5%. Artinya, untuk 100 basis poin, ada ruang kenaikan BI rate sebesar 25-50 basis poin. "Jika BI rate naik di atas 100 basis poin, akan menjadi tekanan negatif bagi bisnis perbankan," katanya kepada INILAH.COM. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Emiten-emiten bank mulai merilis laporan keuangan untuk semester I-2013. Apa komentar Anda?
Menurut saya, pertumbuhan laba perbankan untuk semester I-2013 masih bagus. Sebagian besar, laba bersih emiten masih inline dengan ekspektasi pasar dengan rata-rata pertumbuhan kredit di atas 20% untuk bank-bank besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) [3,890 -20 (-0,5%)], PT Bank Mandiri (BMRI) [7,200 -125 (-1,7%)], PT Bank Negara Indonesia (BBNI) [8,725 -200 (-2,2%)], dan PT Bank Central Asia (BBCA) [27,375 -150 (-0,5%)].
Lantas, faktor apa yang jadi fokus pasar pada saham-saham perbankan?
Perbankan concern pada potensi inflasi dan kenaikan BI rate lanjutan yang tentu akan memberikan suatu tekanan negatif pada fundamental emiten perbankan. Ini akan terefleksi pada penurunan loan growth (pertumbuhan pengucuran kredit).
Hingga level berapa risiko inflasi?
Inflasi ada potensi di atas 8% hingga akhir 2013. Ekspektasi BI sendiri di level 7,2%. Tapi, jika BI tidak bisa menjaga tingkat inflasi dan rupiah terus melemah, akan ada tambahan dari sisi imported inflation. Inilah yang nantinya ditakutkan bisa mendorong tingkat ekspektasi inflasi di atas 8%. Ini akan menjadi kenyataan jika BI tidak bisa menjaga stabilitas distribusi harga pangan maupun dari sisi nilai tukar rupiah. Nantinya, akan memberikan efek domino.
Rupiah bagaimana nasibnya?
Kita sendiri memperkirakan, rupiah akan mencapai titik kesetimbangan baru (ekuilibrium) di level 10.500-an per dolar AS. Tapi, kalau bicara kurs rupiah di Non-Delivery Forward (NDF) di Singapura, rupiah tembus 11.000 untuk kontrak 12 bulan. Imported inflation akan terdongkrak oleh pelemahan rupiah ini.
Dengan terdepresiasinya rupiah, barang-barang impor menjadi lebih mahal sehingga harga di pasar domestik juga meningkat. Padahal, tanpa memfaktorkan imported inflation pun, barang-barang di pasar domestik juga sudah terangkat seiring kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan momentum puasa dan lebaran. Semua akan akan terakumulasi dalam lambungan inflasi. Lengkap sudah. Juli-Agustus, berat untuk menekan inflasi.
Kalau begitu, bagaimana dengan arah BI rate?
Berdasarkan pandangan dari economist kita, BI rate akan berada pada kisaran 6,5% hingga 6,75% hingga akhir tahun. Artinya, masih ada ruang kenaikan BI rate sebesar 25 basis poin dari level saat ini.
Bagaimana dampaknya terhadap perbankan nasional?
Tingginya kenaikan BI rate akan terefleksi pada kenaikan suku bunga kredit yang sudah terjadi. Setelah BI rate naik 75 basis poin ke 6,5%, kenaikan suku bunga kredit bisa mencapai dua kali lipatnya, 150 basis poin. Kondisi ini bisa mendorong risiko kenaikan Non-Performing Loan (NPL). Rata-rata NPL saat ini masih berkisar 2% dari batas sehat 3%. Pertumbuhan kredit saat ini berkisar antara 17-20%. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang berada di atas 20%.
Nasib saham-saham bank?
Secara umum, kalau kita lihat saham-saham bank masih bagus. Tapi kita masih mencermati dan menilai bagaimana kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan. Sebab, dengan tingginya tingkat inflasi, jadi kemungkinan BI rate akan kembali dinaikkan.
Apabila suku bunga (BI rate) dinaikkan kembali, kami akan mengubah outlook saham-saham perbankan dari overweight menjadi netral. Outlook netral berlaku jika BI rate naik 100 basis poin. Hingga saat ini, BI rate sudah naik 75 basis poin dari 5,75% ke 6,5%. Artinya, untuk 100 basis poin, ada ruang kenaikan BI rate sebesar 25-50 basis poin.
Mengapa jadi netral untuk outlook saham-saham perbankan?
Sebab, jika BI rate naik di atas 100 basis poin, akan menjadi tekanan negatif bagi bisnis perbankan. Tapi, secara umum, bisnis perbankan saat ini masih baik. Sekarang, kita tinggal menunggu konfirmasinya dari BI apakan menaikkan kembali BI rate atau tidak.
Tren harga saham-saham perbankan sendiri?
Dari sisi tren harga satu tahun, saham-saham perbankan berada dalam down trend. Tapi, tren 2-5 tahun masih naik.
Apa rekomendasi Anda untuk saham BMRI?
Untuk saham BMRI [7,200 -125 (-1,7%)], saya rekomendasikan buy dengan target harga Rp11.000 dalam 12 bulan ke depan. Outlook BBRI [3,890 -20 (-0,5%)] masih overweight dengan rekomendasi masih buy dengan target harga Rp12.000 dalam 12 bulan.
Saham BBNI?
Saham BBNI [8,725 -200 (-2,2%)] sendiri masih bagus. Sebab, di antara bank-bank BUMN, valuasi BBNI [8,725 -200 (-2,2%)] paling murah. Hal ini bisa dilihat dari Price to Book Value (PBV)-nya yang masih di bawah level 2 kali. Padahal, rata-rata PBV bank-bank BUMN berada di level 3 kali. Karena itu, upside potensial, potensi peningkatan harga saham BBNI [8,725 -200 (-2,2%)] didasarkan pada PBV-nya, masih bisa 50% dari harga saat ini dalam 12 bulan. Kita memiliki pandangan masih positif untuk saham BBNI [8,725 -200 (-2,2%)].
Bagaimana dengan saham BBCA?
PBV BCA sendiri sudah premium berada di level 4,47 kali dengan target consensus harga sahamnya hanya di Rp10.500 dalam 12 bulan. Karena itu, kita lebih rekomendasikan hold untuk BBCA [27,375 -150 (-0,5%)].