Wall Street Tumbang di Tengah Kekhawatiran Suku Bunga dan Lonjakan Yield AS
Thursday, May 30, 2024       04:23 WIB

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melemah, Rabu, di tengah kenaikan lebih lanjut imbal hasil US Treasury serta kekhawatiran mengenai waktu dan skala kemungkinan penurunan suku bunga Federal Reserve.
Dow merosot lebih dari 1% dan mencapai level terendah dalam hampir sebulan. Seluruh sektor di S&P 500 juga berakhir di zona merah, dengan utilitas yang sensitif terhadap suku bunga termasuk di antara sektor yang mencatat penurunan terbesar, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Rabu (29/5) atau Kamis (30/5) pagi WIB.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup menyusut 39,09 poin, atau 0,74%, menjadi 5.266,95, Nasdaq Composite Index kehilangan 99,30 poin, atau 0,58%, menjadi 16.920,58. Dow Jones Industrial Average anjlok 411,32 poin, atau 1,06%, menjadi 38.441,54.
Nasdaq mundur setelah ditutup di atas level 17.000 untuk kali pertama pada sesi Selasa, sementara indeks saham small-caps Russell 2000 melorot 1,5%.
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam empat minggu di 4,6%, melanjutkan kenaikan Selasa, setelah lemahnya lelang utang.
"Kita terus melihat kenaikan imbal hasil obligasi, yang menekan ekuitas...Itu merupakan kelanjutan dari pemulihan yang tidak stabil dan tidak merata ini," kata James Abate, fund manager Centre American Select Equity Fund.
Benturan ekspektasi mengenai besaran dan waktu potensi penurunan suku bunga membuat pasar tetap gelisah sejak awal tahun ini.
Inflasi yang stagnan dan komentar hawkish dari pejabat bank sentral memaksa trader untuk memangkas ekspektasi penurunan suku bunga menjadi hanya satu kali pada November atau Desember, menurut FedWatch Tool CME Group, dari sebelumnya beberapa pemotongan yang diprediksi pada awal tahun.
Saham menahan kerugiannya setelah dirilis Beige Book, sebuah survei yang dilakukan the Fed. Laporan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Amerika Serikat terus meningkat dari awal April hingga pertengahan Mei, namun perusahaan menjadi lebih pesimistis mengenai masa depan, sementara inflasi meningkat dengan laju yang tidak terlalu besar.
Fokus utama pekan ini adalah rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti periode April, Jumat, yang merupakan ukuran inflasi pilihan the Fed.
Setelah bel penutupan, saham Salesforce anjlok lebih dari 15%, ketika perusahaan tersebut merilis laporan keuangan dan memperkirakan pendapatan kuartal kedua di bawah perkiraan. Saham Salesforce mengakhiri sesi reguler dengan kenaikan 0,7%.
Selama sesi reguler, saham Marathon Oil melambung 8,4% setelah ConocoPhillips mengatakan akan membeli perusahaan tersebut dalam kesepakatan semua saham senilai USD15 miliar. ConocoPhillips ambles 3,1%. Sektor energi melorot 1,8%.
Saham maskapai penerbangan tersungkur, dipimpin American Airlines, yang jatuh 13,5% setelah perusahaan tersebut memangkas perkiraan laba kuartal kedua.
Dick's Sporting Goods melejit 15,9% setelah menaikkan perkiraan penjualan dan laba tahunan, sementara Abercrombie & Fitch meroket 24,3% karena menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahunan.
Volume di bursa Wall Street tercatat 12,24 miliar lembar saham, dibandingkan rata-rata 12,38 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (ef)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Salesforce Inc (0,66%)
-Apple Inc (0,16%)
-Johnson & Johnson (0,04%)
Saham berkinerja terburuk
-Unitedhealth Group (-3,76%)
-Intel Corporation (-2,99%)
-Caterpillar Inc (-2,41%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Marathon Oil Corporation (8,43%)
-Universal Health Services Inc (2,83%)
-United Airlines Holdings Inc (2,35%)
Saham berkinerja terburuk
-American Airlines Group (-13,54%)
-Valero Energy Corporation (-4,82%)
-Constellation Energy Corp (-4,41%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Innovative Eyewear Inc (131,46%)
-Brand Engagement Network Inc (107,87%)
-Onconetix Inc (79,93%)
Saham berkinerja terburuk
-Applied UV Inc (-76,28%)
-Faraday Future Intelligent Electric Inc (-62,03%)
-Cue Health Inc (-39,51%).

Sumber : Admin

berita terbaru