Mata Uang Asia Berjaya, Rupiah Melejit ke Posisi Tertinggi Dua Bulan
Monday, November 20, 2023       15:33 WIB

Ipotnews - Sebagian besar mata uang Asia berjaya, Senin, dipimpin dolar Taiwan dan won Korea Selatan, karena prospek berakhirnya kenaikan suku bunga Amerika Serikat membebani laju greenback.
Won melejit sebanyaknya 0,9% ke level tertinggi sejak 1 Agustus. Sementara, rupiah menguat sebanyaknya 0,6% ke posisi tertinggi sejak 22 September, demikian laporan  Reuters,  di Bengaluru, Senin (20/11).
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,13% menjadi 103,71, petang ini.
Dolar AS kehilangan keuntungan yang diperoleh pada awal tahun ini, karena penurunan tajam dalam imbal hasil US Treasury sejak awal November terus berlanjut menyusul data ekonomi yang menunjukkan perlambatan inflasi, sehingga meningkatkan ekspektasi Federal Reserve mendekati akhir siklus kenaikan suku bunganya.
Sementara itu, risalah pertemuan terakhir the Fed akan dirilis Selasa dan kemungkinan memberi warna pada pemikiran para pengambil kebijakan ketika mereka mempertahankan suku bunga stabil untuk kedua kalinya. Pertemuan kebijakan berikutnya dijadwalkan pada 12-13 Desember.
"Sampai kita mendapatkan lebih banyak data yang menggarisbawahi ketahanan ekonomi Amerika, dolar kemungkinan akan tetap rentan. Aset emerging market dan berisiko lainnya akan berkinerja lebih baik dalam jangka pendek," kata Win Thin, analis BBH Global.
Yuan China menguat lebih dari 0,5% versus dolar AS ketika mata uang tersebut didorong lebih tinggi oleh bank sentral. China mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah dalam penetapan bulanannya, sesuai ekspektasi, karena melemahnya yuan terus membatasi pelonggaran moneter lebih lanjut.
Peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura terapresiasi antara 0,1% dan 0,3%.
Sementara itu, berita tentang perkembangan Kuomintang dan Partai Rakyat Taiwan dalam pencalonan presiden bersama, pekan lalu, mendorong dolar Taiwan ke reli mingguan terkuatnya dalam setahun di tengah ekspektasi akan meredanya ketegangan Taiwan-China jika mereka menang, meski masih terjadi perselisihan mengenai siapa yang akan mencalonkan diri sebagai presiden.
Dolar Taiwan terapresiasi sebanyaknya 7% ke level tertinggi sejak 2 Agustus. Saham di Taiwan sebagian besar tidak berubah.
Di Thailand, perekonomian tumbuh jauh lebih lambat dari perkiraan pada kuartal ketiga, terbebani lemahnya ekspor dan belanja pemerintah, sementara ekspansi yang lebih kuat diprediksi terjadi tahun depan. Baht Thailand mengurangi kenaikan awal dan diperdagangkan mendatar. Saham di Bangkok menguat 0,2%.
"Meningkatnya risiko downside pertumbuhan memperkuat alasan bagi Bank of Thailand (BOT) untuk memulai jeda yang berkepanjangan," ujar Krystal Tan, analis ANZ Research.
BOT selanjutnya akan meninjau kebijakannya pada 29 November, setelah secara mengejutkan menaikkan suku bunga utama ke tingkat tertinggi dalam satu dekade sebesar 2,5% pada pertemuan September. (ef)

Sumber : Admin

berita terbaru