Kurs Rupiah Bisa Tertekan Ke Level Rp16.350 Per Dolar AS Pada Juni
Thursday, May 30, 2024       14:41 WIB

Ipotnews - Pelemahan kurs rupiah diprediksi berlanjut menuju level Rp16.350 per dolar AS pada bulan Juni 2024.
Mengutip data aplikasi IPOT sejak akhir tahun lalu hingga Kamis (30/5) pukul 14.32 WIB, kurs rupiah melemah dari Rp15.399 per dolar AS menjadi Rp16.260, turun 861 poin atau 5,6% secara year to date (YtD).
Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap kurs rupiah sepertinya akan bertambah besar ke depan. "Pelemahan kurs rupiah akan berlanjut dan diperkirakan mencapai Rp16.350 per dolar AS pada bulan Juni mendatang," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis siang ini.
Rafah jadi target serangan mematikan Israel. Tempat perlindungan sekaligus kota terakhir di Jalur Gaza itu mendapat perhatian seluruh dunia. Baru-baru ini tentara Israel meluncurkan dua serangan mematikan ke Rafah tepatnya pada Minggu (26/5) dan Selasa (28/5).
Di sisi lain, Milisi Houthi Yaman melancarkan serangan terhadap enam kapal di tiga wilayah perairan berbeda, sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Jalur Gaza juga pada Selasa kemarin.
Houthi disebut menargetkan serangan ke kapal curah Laax berbendera Marshall, kapal Morea and Sealady di Laut Merah, Alba and Maersk Hartford di Laut Arab, dan kapal Minerva Antonia di Mediterania.
"Apabila eskalasi konflik di Timur Tengah semakin besar dan melibatkan berbagai pihak lebih luas, bisa memicu kenaikan harga minyak dunia. Ini bisa berdampak terhadap perekonomian Indonesia melalui potensi kenaikan harga BBM bersubsidi," ujar Ibrahim.
Terakhir, tadi malam Gubernur Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari mengatakan bahwa sikap kebijakan bank sentral AS bersifat restriktif, tetapi para pembuat kebijakan tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan lagi.
"Saya rasa tidak ada yang benar-benar mengesampingkan kenaikan suku bunga. Saya rasa kemungkinan kami menaikkan suku bunga cukup rendah, namun saya tidak ingin mengesampingkan apa pun," kata Kashkari di London, Inggris pada Selasa malam (28/5).
Kashkari mengulangi pernyataan yang ia buat sebelumnya dalam sebuah wawancara di CNBC , ketika ia mengatakan para pejabat harus menunggu lebih banyak bukti bahwa inflasi mendingin sebelum memangkas suku bunga, terutama mengingat pasar tenaga kerja yang kuat dan ekonomi yang tangguh.
"Pertumbuhan upah masih cukup kuat relatif terhadap apa yang kami pikir akan konsisten dengan target inflasi 2%," ujar Neel.
Dalam risalah Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) minutes bank sentral AS the Fed yang dirilis pada pekan lalu, menunjukkan kekhawatiran dari para pejabat the Fed tentang kapan saatnya untuk melakukan pelonggaran kebijakan.
Pertemuan tersebut menyusul serangkaian data yang menunjukkan inflasi masih lebih tinggi dari perkiraan para pejabat The Fed sejak awal tahun ini. Sejauh ini, The Fed masih menargetkan inflasi melandai 2%.
Hal ini tercermin dari survei CME FedWatch Tool yang menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga kembali mengecil dari dua kali yang diperkirakan pada September dan Desember 2024, menjadi hanya sekali pada November 2024 sebesar 25 basis poin (bps).
"Ini juga menjadi faktor yang akan sangat menekan kurs rupiah ke depan," pungkas Ibrahim.(Adhitya)

Sumber : admin

berita terbaru