Investor "Wait and See" Data Inflasi Amerika dan China, Minyak Relatif Stabil
Tuesday, June 11, 2024       14:02 WIB

Ipotnews - Harga minyak relatif stabil, Selasa, karena investor menunggu data CPI Amerika dan China, serta hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai arah inflasi dan bagaimana hal tersebut akan mempengaruhi permintaan bahan bakar.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik tipis 5 sen, atau 0,06%, menjadi USD81,68 per barel pada pukul 13.41 WIB, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Tokyo, Selasa (11/6).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, bertambah 10 sen, atau 0,13%, menjadi USD77,84 per barel.
Harga melambung sekitar 3% ke level tertinggi dalam satu minggu, Senin, didukung ekspektasi musim liburan musim panas di Belahan Bumi Utara akan meningkatkan permintaan bahan bakar pada musim panas ini, sebuah keuntungan yang menurut beberapa analis kemungkinan tidak akan bertahan lama mengingat prospek suku bunga yang lebih tinggi masih ada.
Rilis data indeks harga konsumen (CPI) Amerika untuk periode Mei dan kesimpulan pertemuan kebijakan dua hari the Fed dijadwalkan Rabu.
"Keyakinan yang lebih besar mungkin diperlukan pada harga minyak untuk pemulihan yang lebih berkelanjutan dengan pergerakan di atas level USD83,00, mengingat tren harga minyak yang lebih luas masih cenderung turun," ujar analis IG, Yeap Jun Rong.
Trader juga berhati-hati menjelang rilis data makroekonomi dari China, Rabu.
"Potensi pendorong makro bagi harga minyak adalah data inflasi China yang akan dirilis besok," kata analis OANDA, Kelvin Wong.
"Ekspektasi konsensus memperkirakan adanya perlambatan lebih lanjut dalam tren deflasi harga pabrik di China...tetapi jika angka PPI mengecewakan, hal ini menunjukkan spiral risiko deflasi masih bercokol di China, yang pada gilirannya mungkin menyebabkan berkurangnya permintaan minyak," tambahnya, seraya mengatakan bahwa angka yang 'mengecewakan' adalah minus 2% (year-on-year) atau jauh lebih rendah.
Sementara itu, ekspor minyak mentah Saudi ke China selama tiga bulan berturut-turut juga memberikan tekanan lebih lanjut pada harga.
Margin kilang yang lebih tinggi membantu mendukung harga minyak, begitu pula potensi Amerika Serikat untuk meningkatkan pembelian minyak mentah untuk mengisi cadangannya, kata beberapa analis.
Margin keuntungan untuk kilang Singapura yang memproses minyak mentah Dubai rata-rata sekitar USD4 per barel dalam tiga sesi perdagangan terakhir, naik dari rata-rata Mei sebesar USD2,56 per barel, menurut data LSEG .
Prospek bahwa jika WTI tetap di bawah USD79, Amerika akan meningkatkan cadangan strategisnya memberikan dukungan terhadap harga minyak, kata Hiroyuki Kikukawa, Presiden NS Trading.
Amerika dapat mempercepat laju pengisian kembali Strategic Petroleum Reserve ketika program maintenance selesai pada akhir tahun ini, ungkap Menteri Energi Jennifer Granholm, pekan lalu. Amerika ingin membeli kembali minyak dengan harga sekitar USD79 per barel. (ef)

Sumber : Admin

berita terbaru