Nasib Saham BBRI
Wednesday, August 27, 2025       15:26 WIB

JAKARTA, investor.id -Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk () atau BRI tertekan pada perdagangan Rabu (27/8/2025). Di sekitar pukul 15.00 WIB, saham minus 2,16% ke Rp 4.080.
Tercatat sudah sebanyak 87,68 juta saham ditransaksikan, frekuensi 19.827 kali, dan nilai transaksi Rp 360 miliar. Saham BRI tertekan karena dorongan jual. Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, saham mencatatkan net sell Rp 145 miliar, tertinggi di antara saham-saham net sell . Pada perdagangan Selasa (26/8/2025) kemarin, saham emiten bank BUMN ini juga memerah 0,95%.
Pada perdagangan pekan lalu, saham juga mayoritas memerah. Padahal di pekan sebelumnya, saham Bank Rakyat Indonesia perkasa dengan dengan hampir selalu hijau dan hanya sekali ditutup memerah,
Sebelumnya diberitakan kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk () membaik pada Juli 2025, kendati laba bersih masih turun. Analis masih mempertahankan rekomendasi positif saham dengan target harga di atas posisi saat ini.
Berdasarkan catatan CLSA , laba bersih memang turun 38% secara bulanan menjadi Rp 3,79 triliun pada Juli 2025. Namun, penurunannya lebih rendah dari Juni yang mencapai 69%. CLSA masih mempertahankan rekomendasi outperform saham dengan target harga Rp 4.750. Saham kini diperdagangkan dengan PBV 2025 sebesar 2 kali.
Kinerja
"Per Juli 2025, laba bersih turun 9% menjadi Rp 28,6 triliun, setara 50% dari estimasi setahun penuh CLSA dan konsensus analis Bloomberg. Kontribusi kinerja bank only terhadap laba bersih mencapai 94%," tulis CLSA , Selasa (26/8/2025).
Per Juli 2025, CLSA mencatat, pertumbuhan kredit mencapai 5,3% secara tahunan dan 4,2% secara year to date menjadi Rp 1.267 triliun. Manajemen memprediksi pertumbuhan kredit tahun ini berkisar 6-7%, di bawah panduan resmi 7-9%.
Sementara itu, CLSA menggarisbawahi, margin flat secara bulanan, seiring stabilnya imbal hasil pinjaman dan biaya dana. memandu NIM konsolidasi tahun ini berkisar 7,3-7,7%. Per Juli lalu, pendapatan bunga bersih bank pelat merah ini tumbuh 1,6% menjadi Rp 65,4 triliun.
CLSA menambahkan, cost to income ratio (CIR) stabil, sekitar 37%, sedangkan biaya operasional naik 7,9% per Juli lalu. Biaya kredit turun menjadi 3,25% dari posisi Juni 3,38%. Manejemen memandu biaya kredit berkisar 3-3,2% tahun ini.

Sumber : investor.id
An error occurred.