Yield Obligasi Amerika Melonjak, Wall Street Melempem Setelah Cetak Rekor
Thursday, October 08, 2026       04:31 WIB
  • Dow turun 0,66%, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,22%.
  • Kenaikan yield Treasury dan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi serta suku bunga tinggi.
  • Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober turun menjadi 17,2%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Rabu, setelah imbal hasil US Treasury bertenor panjang kembali melompat, menghidupkan kekhawatiran mengenai inflasi dan membengkaknya utang. Sehari sebelumnya, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan tertinggi.
Ketiga indeks utama saham Amerika Serikat bergerak turun moderat. S&P 500 dan Dow mengakhiri tren penguatan selama empat sesi berturut-turut, sedangkan Nasdaq mencatat penurunan pertama dalam enam sesi.
Dow Jones Industrial Average ditutup melorot 341,41 poin atau 0,66% menjadi 51.179,87, indeks berbasis luas S&P 500 melemah 17,16 poin atau 0,22% ke posisi 7.801,77, sedangkan Nasdaq Composite Index kehilangan 61,19 poin atau 0,22% jadi 27.538,69, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Rabu (7/10) atau Kamis (8/10) pagi WIB.
Dari 11 sektor dalam S&P 500, industri mencatat penurunan persentase terbesar. Sebaliknya, saham sektor kesehatan menjadi penguat utama.
Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga berkinerja lebih buruk dibandingkan indeks saham berkapitalisasi besar, dengan penurunan 1,31% atau 37,09 poin menjadi 2.793,20.
Setelah reli pasar saham pada Selasa, harga minyak mentah Brent ditutup di atas USD100 per barel, sementara imbal hasil US Treasury bertenor panjang menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun.
Kekhawatiran mengenai pasokan akibat perang Iran mendorong harga minyak melonjak. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperbesar kemungkinan bank sentral mempertahankan siklus kenaikan suku bunga dalam waktu lebih lama.
Kekhawatiran tersebut, ditambah meningkatnya utang korporasi dan pemerintah, memicu aksi jual obligasi global yang mengguncang pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir.
"Investor mencari sedikit kelegaan dari harga minyak, yang kemudian akan memberikan kelegaan pada suku bunga dan pada akhirnya membantu pasar saham," kata Senior Portfolio Manager GLOBALT di Atlanta, Thomas Martin.
"Kuartal III seharusnya menjadi triwulan yang lemah dalam setahun; kita seharusnya mengalami koreksi. Itu tidak terjadi, jadi sekarang waktunya mengambil sebagian keuntungan," tuturnya.
Kerugian saham kemudian menyusut setelah harga minyak berbalik turun menyusul kesepakatan Badan Energi Internasional (IEA) untuk mempercepat pelepasan stok minyak dan memprioritaskan pasokan diesel.
Risalah rapat kebijakan moneter Federal Reserve periode September menunjukkan perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai alasan kenaikan suku bunga. Dalam rapat tersebut, the Fed secara bulat menyetujui kenaikan suku bunga pertamanya sejak Juli 2023.
Sejumlah peserta menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak guncangan harga energi, sementara pejabat lainnya menganggap kenaikan diperlukan guna menekan inflasi yang didorong oleh permintaan.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan probabilitas the Fed melakukan kenaikan suku bunga kedua secara berturut-turut pada akhir rapat Oktober hanya 17,2%, berkurang dari 37,6% sepekan sebelumnya, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
"Ekspektasi pasar terhadap the Fed akan naik turun seiring munculnya data baru. Masih ada ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut, tetapi itu tidak berarti kenaikan akan dilakukan pada setiap pertemuan. Itulah yang sedang dikatakan pasar; Oktober akan menjadi jeda," ujar Martin.
Seiring kenaikan imbal hasil acuan Treasury, suku bunga fixed mortgage 30 tahun melonjak pekan lalu ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun, menurut Mortgage Bankers Association. Saham sektor perumahan dan perusahaan pembangun rumah masing-masing menukik 2,3% dan 2,9%.
Saham perusahaan chip yang sepanjang tahun ini meroket lebih dari 80% juga terkoreksi 1,2%.
Saham SpaceX melorot 2,5% setelah sejumlah laporan media menyebut perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk tersebut tengah mencari pendanaan USD40 miliar untuk membiayai pembelian chip Nvidia.
Musim laporan keuangan kuartal III diperkirakan mulai berlangsung intensif pekan depan dengan sejumlah raksasa keuangan dijadwalkan menyampaikan kinerja mereka.
Investor diperkirakan mencermati sejauh mana belanja besar-besaran perusahaan untuk teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai menghasilkan keuntungan. Pelaku pasar juga akan mengamati petunjuk mengenai kondisi konsumen AS di tengah meningkatnya tekanan inflasi.
Analis saat ini memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 secara agregat tumbuh 30,6% secara tahunan pada periode Juli hingga September, berdasarkan data LSEG .
Di New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 3,34 banding 1. Sebanyak 115 saham mencatatkan level tertinggi baru, sementara 497 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.421 saham menguat dan 3.371 saham melemah, sehingga rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 2,37 banding 1.
S&P 500 mencatatkan sembilan rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 12 rekor terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 32 rekor tertinggi baru dan 250 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 16,21 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 17,57 miliar saham dalam 20 sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Amgen Inc (2,60%)
-Johnson & Johnson (1,44%)
-Amazon.com Inc (1,42%)
Saham berkinerja terburuk
-Caterpillar Inc (-5,75%)
-Honeywell International Inc (-2,24%)
-Sherwin-Williams Co (-1,92%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-NRG Energy Inc (4,84%)
-Moderna Inc (4,81%)
-Micron Technology Inc (4,06%)
Saham berkinerja terburuk
-Skydance Corporation (-6,72%)
-Caterpillar Inc (-5,75%)
-Mohawk Industries Inc (-5,45%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-China SXT Pharmaceuticals Inc (124,40%)
-Pinnacle Food Group Ltd (117,60%)
-Sunshine Biopharma Inc (75,92%)
Saham berkinerja terburuk
-Triller Group Inc (-71,75%)
-Innventure Inc (-52,56%)
-Caribou Biosciences Inc (-45,60%)

Sumber : Admin