- Dow naik 0,10%, S&P 500 turun 0,47%, dan Nasdaq anjlok 1,25%.
- Lonjakan minyak akibat konflik Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan suku bunga.
- Saham teknologi tertekan, Broadcom -4,4% dan Oracle -5,5%.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melemah, Kamis, karena lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan produksi minyak Amerika Serikat memicu kembali kekhawatiran inflasi serta potensi kenaikan suku bunga.
Di antara tiga indeks utama Wall Street, Nasdaq Composite mengalami tekanan paling besar, hanya dua hari setelah indeks yang sarat saham teknologi tersebut mencetak rekor penutupan. Sementara itu, penurunan S&P 500 relatif terbatas dan Dow Jones Industrial Average berhasil mencatat kenaikan tipis.
Dow Jones ditutup naik 51,77 poin atau 0,10% menjadi 51.231,64, indeks berbasis luas S&P 500 melorot 36,41 poin atau 0,47% ke posisi 7.765,36, sedangkan Nasdaq Composite Index merosot 345,35 poin atau 1,25% jadi 27.193,34, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Kamis (8/10) atau Jumat (9/10) pagi WIB.
Saham perusahaan semikonduktor menjadi salah satu kelompok dengan kinerja terburuk. Saham produsen chip, yang meroket lebih dari 80% sepanjang tahun ini, anjlok 3,4% setelah laporan Financial Times menyebut pendapatan tahunan OpenAI berdasarkan laju pendapatan saat ini sekitar USD20 miliar lebih rendah dari yang sebelumnya diindikasikan perusahaan tersebut.
Analis US Bank Wealth Management di Minneapolis, Minnesota, Terry Sandven, mengatakan pasar cenderung bergerak mendatar menjelang musim laporan keuangan kuartal ketiga yang dimulai pekan depan. Investor juga mencermati konflik Iran yang terus mendorong harga minyak.
Menurutnya, meski terdapat berbagai tekanan, kecenderungan utama pasar saham sepanjang tahun ini masih mengarah ke kenaikan.
Harga minyak melesat akibat kekhawatiran pasokan setelah serangkaian serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta pemangkasan produksi minyak Amerika akibat aktivitas badai.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika untuk pengiriman terdekat ditutup melompat 3,6%, sementara Brent melambung 4,1%.
Gangguan pasokan minyak global selama perang Iran mendorong harga minyak AS melejit lebih dari 60% sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan inflasi dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve.
The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September untuk pertama kalinya sejak Juli 2023 sebagai respons terhadap tekanan tersebut.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan the Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 69,2%.
Gubernur Fed, Christopher Waller, juga mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan. Namun, dia menegaskan waktu pelaksanaan kenaikan tersebut masih fleksibel. Ekspektasi tersebut sejalan dengan arah kebijakan yang diperkirakan pasar terhadap Bank Sentral Eropa (ECB).
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, saham energi menjadi pencetak kenaikan terbesar, sedangkan sektor teknologi mengalami penurunan paling dalam akibat tekanan saham semikonduktor.
Saham Samsung Electronics ditutup melemah di Korea Selatan meski perusahaan memperkirakan laba kuartalan mencapai rekor. Saham rivalnya, Micron Technology, anjlok 4,8%.
Tekanan terhadap saham teknologi juga meningkat setelah Wall Street Journal melaporkan Broadcom tengah menyiapkan pembiayaan senilai USD50 miliar untuk OpenAI. Oracle juga disebut sedang mencari pendanaan dalam jumlah yang belum ditentukan.
Kabar tersebut memicu kekhawatiran bahwa penerbitan utang dalam jumlah besar oleh perusahaan teknologi dapat meningkatkan persaingan memperebutkan modal di pasar.
Saham Broadcom menyusut 4,4%, sedangkan Oracle merosot 5,5%.
Di sisi lain, saham PepsiCo melonjak 3,7% setelah perusahaan minuman tersebut mengatakan akan melakukan tambahan pemangkasan biaya, meski menurunkan proyeksi laba inti tahunan.
Saham Starbucks turun 0,4% setelah muncul laporan bahwa jaringan kedai kopi tersebut tengah menjajaki kemungkinan mengakuisisi Chipotle Mexican Grill. Saham Chipotle justru meningkat 6,2%.
Palantir menguat 2,4% setelah Goldman Sachs menaikkan rekomendasi saham perusahaan penyedia perangkat lunak analitik data tersebut menjadi "buy" dari sebelumnya "neutral".
Di Bursa New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 1,28 banding 1. Sebanyak 110 saham mencatatkan level tertinggi baru dan 416 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.050 saham menguat dan 2.734 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap saham naik 1,33 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat empat saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 12 saham mencetak level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 33 saham pada level tertinggi baru dan 319 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 18,81 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 17,74 miliar saham dalam 20 sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Home Depot Inc (3,39%)
-Chevron Corp (3,12%)
-International Business Machines (2,77%)
Saham berkinerja terburuk
-Nvidia Corporation (-2,94%)
-Amazon.com Inc (-2,25%)
-Caterpillar Inc (-2,17%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-CoStar Group Inc (8,01%)
-Godaddy Inc (6,15%)
-Chipotle Mexican Grill Inc (6,11%)
Saham berkinerja terburuk
-Corning Incorporated (-6,38%)
-Vistra Corp (-6,35%)
-Oracle Corporation (-5,48%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Fly-E Group Inc (82,68%)
-Jianzhi Century Technology Group Co Ltd ADR (77,44%)
-Xiao-I Corp ADR (47,73%)
Saham berkinerja terburuk
-China SXT Pharmaceuticals Inc (-87,86%)
-DarkIris Inc (-55,35%)
-Mobile-health Network Solutions (-40,97%)
Sumber : Admin