- Dow turun 1,32%, S&P 500 0,87%, Nasdaq 1%.
- Walmart anjlok 9,2% setelah kinerja mengecewakan.
- Harga minyak memicu kekhawatiran inflasi.
Ipotnews - Tiga indeks utama Wall Street melemah, Kamis, tertekan kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury yang mengurangi minat investor terhadap aset berisiko. Sentimen pasar juga memburuk setelah kinerja Walmart mengecewakan serta harga minyak yang terus meningkat kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 703,84 poin atau 1,32% menjadi 52.759,21, S&P 500 turun 66,82 poin atau 0,87% ke posisi 7.641,16, sedangkan Nasdaq Composite Index menyusut 263,92 poin atau 1% jadi 26.067,17, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Kamis (20/8) atau Jumat (21/8) pagi WIB.
Penurunan tersebut membuat S&P 500 berada sekitar 2% di bawah rekor penutupan terakhir yang dicapai pekan lalu. Nasdaq juga berada lebih dari 3% di bawah rekor penutupan yang disentuh pada 2 Juni.
Saham Walmart menjadi salah satu sumber tekanan terbesar setelah anjlok 9,2%. Peritel tradisional terbesar di dunia itu gagal memenuhi ekspektasi Wall Street untuk penjualan toko yang sama pada kuartal terakhir, karena lonjakan harga bensin membuat konsumen mengurangi pengeluaran.
Kinerja Walmart turut menyeret sektor consumer staples dan consumer discretionary dalam S&P 500, yang menjadi dua sektor dengan pelemahan terbesar. Saham peritel lain seperti Costco, Dollar Tree, dan Albertsons juga ikut terkoreksi, masing-masing antara 1% dan 2,6%.
Mona Mahajan, Kepala Strategi Investasi Edward Jones, mengatakan kenaikan harga minyak mentah AS di atas USD87 per barel semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi konsumen Amerika Serikat. Investor sebelumnya sudah mengkhawatirkan daya beli konsumen setelah data penjualan ritel dan pasar tenaga kerja AS sepanjang Juli lebih lemah dari perkiraan.
"Ada pertanyaan mengenai seberapa tangguh konsumen dengan harga bensin dan tekanan inflasi yang masih tinggi," kata Mahajan.
Kenaikan imbal hasil obligasi juga menjadi tekanan bagi pasar saham. Wall Street sempat menguat pada Rabu setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan mengalokasikan dana lebih dari dua kali lipat dari perkiraan untuk membeli kembali obligasi pemerintah, dalam upaya meredam lonjakan imbal hasil.
Namun, pada Kamis, imbal hasil kembali meningkat dan saham pun tertekan. Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun dan 10 tahun sempat memangkas kenaikan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah mungkin kembali meningkatkan volume pembelian kembali obligasi. Namun, yield kemudian kembali bergerak naik.
"Ada beberapa hambatan yang dihadapi pasar ketika dibuka hari ini (Kamis). Salah satunya adalah kembali naiknya imbal hasil obligasi di seluruh kurva meski ada langkah Departemen Keuangan kemarin. Pergerakan itu berbalik sangat cepat, dalam waktu 24 jam," ujar Mahajan.
Sektor consumer staples melorot 1,93% dan menjadi sektor dengan penurunan terbesar di antara sektor utama S&P 500. Sektor kesehatan juga menyusut 1,93%, sementara consumer discretionary kehilangan 1,8%. Saham Amazon menjadi salah satu pemberat terbesar sektor tersebut berdasarkan kontribusi terhadap indeks.
Saham perusahaan pelayaran wisata Royal Caribbean Group dan Carnival Corp masing-masing terkoreksi lebih dari 4%, karena bisnis keduanya sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar.
Sebaliknya, indeks sektor energi S&P 500 melompat 0,4% seiring harga minyak mencatat kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut. Harga minyak terus terdorong oleh kebuntuan perundingan damai AS-Iran dan gangguan pasokan energi di Timur Tengah. Real estat menjadi satu-satunya sektor lain yang menguat, naik 0,15%.
Saham perusahaan terkait mata uang kripto seperti Strategy dan operator bursa Coinbase Global melonjak lebih dari 7%, sehari setelah Presiden AS Donald Trump mendesak Kongres untuk mengesahkan undang-undang terkait kripto.
Di sektor kesehatan, saham Moderna menjadi salah satu penurun terbesar dengan anjlok 23,5%. Penurunan itu terjadi sehari setelah saham perusahaan bioteknologi tersebut meroket hampir 177%.
Sementara itu, saham Deere melesat 6,9% setelah produsen peralatan pertanian terbesar di dunia tersebut menaikkan proyeksi laba bersih setahun penuh.
Saham Coty ambles 9,2% setelah pemilik merek kosmetik CoverGirl itu memperkirakan laba kuartal berjalan di bawah ekspektasi dan tidak memberikan proyeksi tahunan. Saham Advance Auto Parts bahkan terjun 24,5% setelah perusahaan mengeluarkan proyeksi penjualan tahunan yang lebih lemah.
Di Bursa New York ( NYSE ), saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 1,94 banding 1. Terdapat 156 saham yang mencatatkan level tertinggi baru dan 132 saham menyentuh posisi terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 1.672 saham menguat dan 3.217 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,92 banding 1.
S&P 500 mencetak 16 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan tiga saham mencatat level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 67 saham pada level tertinggi baru dan 104 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai sekitar 9,61 miliar saham, jauh di bawah rata-rata 20 sesi terakhir, yakni 16,64 miliar saham. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Travelers Companies (0,63%)
-McDonald's Corporation (0,63%)
-Walt Disney Company (0,36%)
Saham berkinerja terburuk
-Walmart Inc (-9,15%)
-Boeing Co (-3,20%)
-Home Depot Inc (-2,84%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Nordson Corporation (7,96%)
-Deere & Company (6,94%)
-CF Industries Holdings Inc (5,61%)
Saham berkinerja terburuk
-Moderna Inc (-23,55%)
-Walmart Inc (-9,15%)
-Intuitive Surgical Inc (-5,84%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Curanex Pharmaceuticals Inc (1.851,85%)
-Borealis Foods Inc (105,85%)
-Jianzhi Century Technology Group Co Ltd ADR (92,35%)
Saham berkinerja terburuk
-Profusa Inc (-44,22%)
-CDT Environmental Technology Investment Holdings Ltd (-39,20%)
-Tenon Medical Inc (-38,04%)
Sumber : Admin