Wall Street Merah Tipis, Yield Treasury Tembus Level Tertinggi 23 Tahun
Wednesday, September 30, 2026       04:23 WIB
  • Wall Street melemah: Dow -0,26%, S&P 500 -0,17%, Nasdaq -0,08%.
  • Yield Treasury 30 tahun naik ke 5,62%, tertinggi sejak 2002.
  • Investor menanti data PCE dan tenaga kerja AS untuk arah suku bunga.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melemah pada akhir perdagangan Selasa, ketika imbal hasil obligasi pemerintah terus meningkat menjelang rilis data inflasi dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Investor juga mencermati pernyataan pejabat Federal Reserve untuk mengukur arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 131,59 poin atau 0,26% menjadi 51.349,92, indeks berbasis luas S&P 500 terkoreksi 12,85 poin atau 0,17% ke posisi 7.670,84, sedangkan Nasdaq Composite menyusut 22,84 poin atau 0,08% jadi 26.797,54, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (29/9) atau Rabu (30/9) pagi WIB.
Imbal hasil US Treasury bertenor panjang kembali naik. Yield obligasi 30 tahun mencapai 5,6206%, level tertinggi sejak Juni 2002. Sementara yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan pasar, melompat ke 5,293%, level tertinggi sejak Juni 2007.
Namun, tekanan terhadap saham berkurang setelah yield turun dari level tertinggi intraday. Imbal hasil obligasi bertenor lebih pendek juga berakhir lebih rendah seiring harga minyak yang melemah setelah muncul tanda-tanda pemulihan ekspor dari Timur Tengah.
Pasar juga merespons pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang mengatakan bank sentral Amerika masih memiliki waktu untuk menilai data ekonomi sebelum memutuskan kapan kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan Oktober turun menjadi 51,5% setelah pernyataan Williams, dari hampir 70% pada awal perdagangan.
Harga minyak sebelumnya kembali melonjak dalam beberapa hari terakhir setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran berkurang. Kenaikan harga minyak mentah dan diesel memicu kekhawatiran inflasi serta mendorong yield Treasury lebih tinggi.
Sejumlah pejabat the Fed juga mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan apabila tekanan harga tidak mereda. The Fed sendiri telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini.
Sejumlah data ekonomi penting akan dirilis sepanjang pekan ini. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dari Departemen Perdagangan Amerika, Rabu, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter the Fed.
Data pasar tenaga kerja juga akan dirilis secara bertahap dan mencapai puncaknya pada Jumat melalui laporan payrolls pemerintah AS.
"PCE besok akan menjadi data penting, jadi kita akan melihat ke mana arah pasar setelah data tersebut," kata Tim Ghriskey, Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder, New York.
Menurut Ghriskey, konsumen Amerika menghadapi tekanan dari suku bunga dan harga bensin yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mulai memberikan tekanan terhadap saham-saham sektor konsumen.
Kenaikan yield meningkatkan biaya modal bagi perusahaan dan dapat membuat obligasi menjadi alternatif yang lebih menarik dibandingkan saham. Kondisi tersebut juga berpotensi menekan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Kepercayaan Konsumen Jatuh
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan melalui Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) bahwa jumlah lowongan pekerjaan, yang menjadi indikator permintaan tenaga kerja, menyusut 256.000 menjadi 7,079 juta sepanjang Agustus.
Angka tersebut berada di bawah perkiraan ekonom yang disurvei  Reuters  sebesar 7,225 juta.
Laporan terpisah dari Conference Board menunjukkan kepercayaan konsumen Amerika jatuh ke level terendah dalam hampir 12,5 tahun pada September. Rumah tangga memperkirakan kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja akan memburuk dalam enam bulan ke depan di tengah perang Iran dan kenaikan suku bunga.
Meski Williams menyerukan kesabaran sebelum menaikkan suku bunga lebih lanjut, sejumlah pejabat the Fed mengambil sikap lebih hawkish.
Gubernur Fed Michael Barr mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee memperingatkan bahwa membiarkan inflasi berada di atas target the Fed selama 5,5 tahun merupakan kondisi yang sangat berisiko.
Di sektor teknologi, saham terkait kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian setelah prospektus penawaran umum perdana (IPO) Anthropic memperlihatkan pertumbuhan perusahaan yang pesat dalam setahun terakhir, tetapi juga mencatat kerugian yang semakin besar.
Anthropic menargetkan valuasi lebih dari USD2 triliun, yang berpotensi menjadi tolok ukur baru bagi cara Wall Street menilai perusahaan-perusahaan pemimpin di bidang AI.
Saham Meta Platforms melesat 3,3%, meski OpenAI memperkenalkan agen AI yang selalu aktif bernama Dots, yang dapat menjalankan tujuan pengguna secara mandiri di berbagai aplikasi. Teknologi tersebut dipandang sebagai pesaing bagi Muse, produk AI terbaru Meta.
Saham peritel mobil bekas CarMax melompat 4,7% setelah melaporkan peningkatan laba dan pendapatan pada kuartal kedua.
Sebaliknya, saham Fair Isaac Corp anjlok 26,5% setelah Direktur Federal Housing Finance Agency Bill Pulte mengatakan perusahaan pembiayaan hipotek yang disponsori pemerintah, Fannie Mae dan Freddie Mac, akan beralih menggunakan satu sistem penetapan harga.
Di Bursa New York Stock Exchange ( NYSE ), saham yang melemah mengungguli saham yang menguat dengan rasio 1,66 banding 1. Di Nasdaq, rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,47 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat delapan saham yang mencetak level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 33 saham yang mencetak level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 34 saham pada level tertinggi baru dan 244 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 16,15 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 16,87 miliar saham dalam 20 sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Boeing Co (1,78%)
-Amgen Inc (1,31%)
-Caterpillar Inc (0,82%)
Saham berkinerja terburuk
-Apple Inc (-2,66%)
-Walmart Inc (-1,78%)
-Johnson & Johnson (-1,61%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Carnival Corporation (13,41%)
-Royal Caribbean Cruises Ltd (7,45%)
-Applied Materials Inc (5,16%)
Saham berkinerja terburuk
-Fair Isaac Corporation (-26,66%)
-Steel Dynamics Inc (-3,69%)
-Lululemon Athletica Inc (-3,69%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Onemednet Corp Class A (722,97%)
-Decent Holding Inc Class A (55,90%)
-SoundThinking Inc (50,09%)
Saham berkinerja terburuk
-NewGenIvf Group Ltd Class A (-79,12%)
-Neo-Concept International Group Holdings Ltd Class A (-47,06%)
-Digital Currency X Technology Inc Class A (-42,70%)

Sumber : Admin