- Wall Street melesat dipimpin sektor teknologi jelang laporan Nvidia.
- Sentimen AI dan turunnya imbal hasil AS mendorong pasar.
- Saham energi turun, sementara maskapai dan travel menguat.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melesat lebih dari 1 persen, Rabu, bangkit dari aksi jual tiga hari berturut-turut. Penguatan terutama ditopang sektor teknologi dan saham semikonduktor yang reli menjelang rilis laporan kinerja kuartalan Nvidia, emiten chip kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia sekaligus perusahaan paling bernilai secara global.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melonjak 645,47 poin atau 1,31 persen menjadi 50.009,35, S&P 500 melompat 79,36 poin atau 1,08 persen ke posisi 7.432,97, sementara Nasdaq Composite Index melambung 399,65 poin atau 1,55 persen jadi 26.270,36, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Rabu (20/5) atau Kamis (21/5) pagi WIB.
Investor global menaruh perhatian besar pada laporan keuangan Nvidia yang dipandang sebagai indikator utama kekuatan permintaan investasi di sektor AI. Ekspektasi tinggi terhadap belanja infrastruktur kecerdasan buatan disebut menjadi salah satu faktor yang menopang valuasi tinggi saham teknologi dalam beberapa bulan terakhir.
Saham Nvidia ditutup naik 1,3 persen, meski perdagangan setelah jam bursa berlangsung volatil setelah perusahaan tersebut memproyeksikan pendapatan kuartal kedua di atas ekspektasi Wall Street serta mengumumkan program pembelian kembali saham senilai USD80 miliar.
Sebelum laporan kinerja Nvidia dirilis, indeks semikonduktor Philadelphia SE sempat melejit 4,5 persen. Sejumlah saham membukukan keuntungan tertinggi, seperti Astera Labs dan Arm Holdings tercatat meroket masing-masing 17,7 persen dan 15 persen.
"Teknologi kembali menjadi penggerak utama hari ini (Rabu), dan tema AI. Kita beralih dari kekhawatiran kemarin tentang kenaikan suku bunga dan potensi inflasi dan lebih condong ke cerita tentang segala hal yang berkaitan dengan AI," kata Carol Schleif, Chief Market Strategist BMO Private Wealth di Minneapolis. "Ini sebenarnya agak tidak biasa karena kita akan memperkirakan pasar untuk tetap tenang menunggu hasil Nvidia. Tetapi jelas ada banyak optimisme."
Di sisi geopolitik, ketidakpastian terkait konflik Iran dan Amerika-Israel sebelumnya sempat menekan pasar selama tiga hari berturut-turut karena kekhawatiran kenaikan harga minyak yang dapat memicu inflasi dan mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga.
Namun pada Rabu, sentimen mulai membaik setelah adanya sinyal komunikasi lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pertukaran pesan dengan Washington masih berlangsung, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya bersedia menunggu beberapa hari untuk "jawaban yang tepat" dari Iran. Sebelumnya Trump menyebut negosiasi memasuki tahap akhir.
Meski investor masih memantau fluktuasi harga energi dan inflasi, Schleif mengatakan "mereka benar-benar ingin melihat lebih jauh dari apa yang terjadi di Timur Tengah" dan fokus pada potensi AI.
Selain faktor geopolitik, penurunan imbal hasil US Treasury bertenor 10-tahun turut menopang penguatan pasar saham setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 16 bulan terakhir.
Risalah rapat Federal Reserve terakhir juga memengaruhi sentimen pasar, dengan sejumlah pejabat bank sentral menyatakan perlunya membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga. Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Desember tercatat sekitar 36,8 persen, turun dari 42 persen sehari sebelumnya.
Ekonom Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai ketidakpastian terkait harga minyak, tarif, dan perkembangan AI membuat panduan kebijakan the Fed sulit dipastikan.
Dari 11 sektor utama S&P 500, delapan ditutup menguat. Sektor consumer discretionary dan teknologi mencatat kenaikan terbesar masing-masing 2,5 persen. Sebaliknya, sektor energi anjlok 2,6 persen.
Saham ritel seperti Target merosot 3,9 persen setelah memperingatkan kondisi ekonomi yang menantang, meski perusahaan tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahunan. Saham Walmart juga melorot 2,5 persen menjelang laporan kinerja yang akan dirilis.
Penurunan harga minyak justru mendorong penguatan saham maskapai penerbangan. Delta Air Lines, United Airlines, Southwest Airlines, dan Alaska Air masing-masing meroket antara 6 hingga 10 persen. Saham perusahaan pelayaran Carnival Corp dan Norwegian Cruise Line Holdings juga melejit lebih dari 8 persen.
Di sisi lain, saham Intuit ambles 3,9 persen setelah laporan Reuters menyebutkan perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja sekitar 3.000 karyawan.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik melebihi yang turun dengan rasio 3,39 banding 1 di NYSE , di mana terdapat 220 saham yang mencapai rekor tertinggi baru dan 119 saham menyentuh rekor terendah baru.
Di Nasdaq, 3.711 saham menguat dan 1.144 saham melemah, dengan jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 3,24 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 19 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 15 rekor terendah baru.
Aktivitas perdagangan di bursa Wall Street juga tetap tinggi dengan total 18,73 miliar saham berpindah tangan, sedikit di atas rata-rata 20 hari terakhir, yakni 18,55 miliar. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Goldman Sachs Group Inc (5,75%)
-Nike Inc (4,17%)
-Boeing Co (3,30%)
Saham berkinerja terburuk
-Chevron Corp (-3,00%)
-Walmart Inc (-2,50%)
-Unitedhealth Group (-1,51%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Enphase Energy Inc (13,67%)
-United Airlines Holdings Inc (9,99%)
-Super Micro Computer Inc (9,49%)
Saham berkinerja terburuk
-Hasbro Inc (-8,83%)
-CME Group Inc (-4,05%)
-Dow Inc (-3,95%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-HCW Biologics Inc (128,77%)
-Silexion Therapeutics Corp (92,53%)
-GCL Global Holdings Ltd (72,46%)
Saham berkinerja terburuk
-Lichen China Ltd (-61,48%)
-Society Pass Inc (-55,56%)
-Jayud Global Logistics Ltd (-52,11%)
Sumber : Admin