- Wall Street turun karena yield naik dan kekhawatiran inflasi.
- Konflik Iran jaga harga minyak tetap tinggi.
- Pasar tunggu risalah the Fed dan lapkeu Nvidia.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street kembali berakhir di zona merah, Selasa, dengan Nasdaq memimpin penurunan, setelah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke level puncak dalam lebih dari satu tahun di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga minyak dan belum adanya kepastian perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 322,24 poin atau 0,65 persen menjadi 49.363,88, S&P 500 melemah 49,44 poin atau 0,67 persen ke posisi 7.353,61, sementara Nasdaq Composite Index merosot 220,02 poin atau 0,84 persen jadi 25.870,71, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Selasa (19/5) atau Rabu (20/5) pagi WIB.
Penurunan ini menjadi sesi negatif ketiga berturut-turut bagi S&P 500 dan Nasdaq setelah reli kuat yang dimulai sejak akhir Maret. Investor mulai melakukan aksi ambil untung sekaligus mempertimbangkan kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Meski harga minyak Brent ditutup turun 0,73 persen, nilainya masih bertahan di atas USD110 per barel. Pasar terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah yang menyebabkan hampir tertutupnya Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan telah menunda serangan militer terhadap Iran yang dijadwalkan berlangsung Selasa setelah Teheran mengajukan proposal perdamaian baru. Namun Trump menegaskan Amerika Serikat masih dapat kembali melancarkan serangan jika pembicaraan gagal mencapai hasil.
Wakil Presiden AS JD Vance juga mengatakan negosiasi dengan Iran menunjukkan kemajuan dan kedua pihak sama-sama tidak menginginkan dimulainya kembali operasi militer.
Di tengah ketidakpastian tersebut, ekspektasi inflasi terus meningkat dan mendorong kenaikan tajam imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun. Yield sempat menyentuh 4,687 persen, level tertinggi sejak Januari 2025, sebelum sedikit turun ke sekitar 4,66 persen.
Managing Director Rosenblatt Securities, Michael James, mengatakan pasar belum melihat tanda-tanda konkret menuju gencatan senjata yang substansial. Menurutnya, selama konflik belum menunjukkan perkembangan nyata, harga minyak dan imbal hasil obligasi akan tetap tinggi sehingga tingkat kecemasan pasar terus meningkat.
Dia menilai kondisi tersebut membuat pasar saham semakin sulit bergerak positif dalam beberapa hari terakhir karena investor menghadapi ketidakpastian yang terus berlarut.
Pelaku pasar kini mulai memperhitungkan peluang lebih besar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai 41,7 persen, sementara peluang kenaikan 50 basis poin naik menjadi 15,7 persen dari sebelumnya hanya 4,7 persen sepekan lalu.
Investor kini menanti risalah rapat terakhir the Fed yang akan dirilis Rabu untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter dan sejauh mana pejabat bank sentral mendukung perubahan kebijakan dari pelonggaran menuju sikap netral atau lebih ketat.
Analis Natixis Investment Managers Solutions, Garrett Melson, mengatakan pasar sebenarnya masih mampu menghadapi kenaikan suku bunga yang berlangsung perlahan dan stabil. Namun menurutnya, lonjakan yield yang terlalu cepat justru memicu tekanan besar di pasar saham.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, enam di antaranya ditutup melemah. Sektor teknologi dan layanan komunikasi menjadi penekan terbesar indeks acuan tersebut. Saham pertumbuhan tinggi biasanya paling sensitif terhadap kenaikan yield karena valuasinya sangat bergantung pada proyeksi laba di masa depan.
Material menjadi sektor dengan penurunan terbesar setelah anjlok hampir 2,3 persen. Sebaliknya, sektor defensif kesehatan memimpin penguatan dengan kenaikan 1,1 persen.
Indeks saham perangkat lunak S&P 500 yang sempat menguat pada awal perdagangan akhirnya berbalik melorot 1,2 persen. Sementara itu, indeks semikonduktor Philadelphia bergerak sangat fluktuatif dan akhirnya ditutup nyaris stagnan dengan kenaikan tipis 0,03 persen setelah sebelumnya sempat ambles lebih dari 3 persen.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu. Kinerja perusahaan chip kecerdasan buatan terbesar di dunia itu dipandang penting untuk menguji apakah permintaan terkait AI masih cukup kuat guna menopang valuasi tinggi sektor semikonduktor dan teknologi global.
Di antara saham individual, Akamai Technologies tersungkur 6,3 persen setelah perusahaan layanan komputasi awan tersebut mengumumkan penawaran obligasi konversi senilai USD2,6 miliar.
Aktivitas perdagangan menunjukkan tekanan jual yang cukup luas. Di Bursa New York ( NYSE ), jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 2,66 banding 1, di mana terdapat 140 rekor tertinggi baru dan 225 rekor terendah baru.
Di Nasdaq, 1.544 saham menguat dan 3.193 saham melemah karena jumlah yang turun melebihi yang naik dengan rasio 2,07 banding 1. S&P 500 mencatatkan 18 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 22 rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 51 rekor tertinggi baru dan 180 rekor terendah baru.
Total volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 19,45 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 hari terakhir yang berada di level 18,38 miliar saham. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Verizon Communications Inc (2,09%)
-Amgen Inc (1,96%)
-Merck & Company Inc (1,52%)
Saham berkinerja terburuk
-Cisco Systems Inc (-2,94%)
-Boeing Co (-2,55%)
-3M Company (-2,08%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-EQT Corporation (4,00%)
-Hasbro Inc (3,69%)
-PG&E Corp (3,53%)
Saham berkinerja terburuk
-Akamai Technologies Inc (-6,24%)
-Enphase Energy Inc (-5,92%)
-FMC Corporation (-5,90%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-NeoConcept International Group Holdings Ltd (745,00%)
-InMed Pharmaceuticals Inc (135,29%)
-Amesite Operating Co (120,07%)
Saham berkinerja terburuk
-Jayud Global Logistics Ltd (-65,94%)
-Onconetix Inc (-61,56%)
-JStar Holding Co Ltd (-51,06%)
Sumber : Admin