Wall Street Ceria di Tengah Harapan Damai AS-Iran, Dow Cetak Rekor Penutupan
Friday, May 22, 2026       04:31 WIB
  • Wall Street semringah, Dow cetak rekor.
  • Sentimen dipengaruhi AS-Iran dan data ekonomi.
  • Saham campuran: Walmart turun, IBM naik.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street ditutup sedikit lebih tinggi pada perdagangan Kamis setelah sesi yang bergejolak, di mana harga minyak melemah dan sentimen pasar bergerak naik-turun akibat perkembangan terbaru negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Setelah sempat bergerak di zona merah pada pagi hari, pasar saham Wall Street berhasil berbalik arah dan mencatat penguatan di sesi sore. Pergerakan ini terjadi seiring harga minyak yang awalnya menguat kemudian berbalik melemah di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.
Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 276,31 poin atau 0,55% menjadi 50.285,66, mencatat rekor penutupan tertinggi baru. S&P 500 naik 12,75 poin atau 0,17% ke posisi 7.445,72, sementara Nasdaq Composite Index bertambah 22,74 poin atau 0,09% jadi 26.293,10, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Kamis (21/5) atau Jumat (22/5) pagi WIB.
Dari sisi geopolitik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat "tanda-tanda baik" dalam pembicaraan dengan Iran. Namun dia juga menegaskan kesepakatan diplomatik tidak akan mungkin tercapai jika Teheran menerapkan sistem pungutan di Selat Hormuz, jalur penting transportasi minyak dunia.
Sumber senior Iran kepada  Reuters  menyatakan belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat, meski kesenjangan dalam negosiasi disebut telah menyempit. Isu utama yang masih menjadi ganjalan adalah program pengayaan uranium Iran serta kontrol atas Selat Hormuz.
Chief of Investment Strategy Glenmede, Jason Pride, mengatakan volatilitas pasar dipicu reaksi investor terhadap spekulasi geopolitik yang terus berubah. Menurutnya, perhatian pasar kini kembali tertuju pada Iran setelah musim laporan keuangan perusahaan hampir berakhir.
Dia menilai pasar saat ini berada di level valuasi tinggi yang didorong oleh kinerja laba, sehingga ruang untuk kejutan positif semakin terbatas. Karena itu, pergerakan pasar dalam jangka pendek sangat sensitif terhadap rumor maupun perkembangan nyata terkait negosiasi Iran.
Sementara itu, Chief Investment Officer Huntington Wealth Management, Marc Dizard, menyebut gencatan senjata yang rapuh masih bertahan, memberikan sedikit dukungan bagi pasar. Namun dia menegaskan ketidakpastian tetap tinggi karena tidak ada pihak luar, kecuali lingkaran dalam Iran dan Amerika, yang benar-benar mengetahui kemajuan negosiasi secara pasti.
Dari sisi korporasi, investor juga mencerna laporan kinerja sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat. Saham Walmart anjlok 7,3% setelah peritel terbesar dunia itu memproyeksikan laba kuartal kedua di bawah ekspektasi dan mempertahankan target tahunan.
Chief Financial Officer Walmart, John David Rainey, menyebut konsumen mulai tertekan oleh harga bahan bakar yang tinggi. Dia juga memperingatkan, jika biaya tetap tinggi, inflasi ritel berpotensi meningkat pada paruh kedua tahun ini.
Tekanan tersebut turut menyeret sektor consumer staples yang melorot 1,6%, dengan saham-saham seperti Casey's General Stores merosot 3,3% dan Costco Wholesale melemah 2,2%.
Di sisi lain, saham Nvidia menyusut 1,8% karena aksi ambil untung setelah perusahaan semikonduktor terbesar dunia itu merilis proyeksi pendapatan yang optimistis dan program pembelian kembali saham senilai USD80 miliar. Meski demikian, indeks Philadelphia Semiconductor justru melompay 1,3% karena pasar menilai prospek sektor chip masih positif di tengah ledakan permintaan kecerdasan buatan.
Dalam data ekonomi, klaim pengangguran di AS turun, menandakan ketahanan pasar tenaga kerja yang masih solid dan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tetap fokus pada risiko inflasi.
Aktivitas manufaktur AS juga tercatat naik ke level tertinggi dalam empat tahun pada Mei, didorong penumpukan persediaan oleh perusahaan untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan kenaikan harga akibat perang Iran.
Pergerakan saham individu juga cukup ekstrem. IBM melambung 12,4% setelah kabar bahwa pemerintahan Trump akan mendanai sejumlah perusahaan komputasi kuantum, termasuk usaha baru IBM, dengan imbalan kepemilikan saham di beberapa korporasi tersebut.
Saham GlobalFoundries melesat 14,9%, sementara D-Wave Quantum meroket 33,4%, Rigetti Computing melejit 30,6%, dan Infleqtion melambung 31,5%.
Sebaliknya, Intuit jatuh 20% setelah memangkas proyeksi pendapatan tahunan untuk layanan pajaknya, TurboTax, serta mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja 17% dari total karyawan. Saham H&R Block juga ikut merosot 4,8%.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,51 banding 1 di NYSE , di mana terdapat 234 rekor tertinggi baru dan 106 rekor terendah baru.
Di Nasdaq, 2.985 saham menguat dan 1.798 saham melemah, karena jumlah yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,66 banding 1.
S&P 500 mencatatkan 11 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 96 rekor tertinggi baru dan 108 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 17,67 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,57 miliar saham. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-International Business Machines (12,43%)
-Cisco Systems Inc (3,38%)
-Honeywell International Inc (2,95%)
Saham berkinerja terburuk
-Walmart Inc (-7,27%)
-Salesforce Inc (-2,10%)
-Nvidia Corporation (-1,75%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Enphase Energy Inc (17,33%)
-Ralph Lauren Corp Class A (13,84%)
-International Business Machines (12,43%)
Saham berkinerja terburuk
-Intuit Inc (-20,02%)
-Walmart Inc (-7,27%)
-Deere & Company (-5,19%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Netcapital Inc (77,40%)
-Agape ATP Corp (69,86%)
-Akanda Corp (61,68%)
Saham berkinerja terburuk
-Digital Brands Group Inc (-56,18%)
-Society Pass Inc (-47,37%)
-Global Mofy Metaverse Ltd (-32,51%)

Sumber : Admin

berita terbaru