Wall Street Ceria Meski Ancaman Trump Memanas, Harapan Damai Masih Ada
Tuesday, April 07, 2026       04:36 WIB
  • Wall Street menguat seiring optimisme negosiasi AS-Iran meski ancaman eskalasi tetap ada.
  • Sektor jasa AS ekspansi lambat, lapangan kerja bertambah, tekanan inflasi tinggi.
  • Saham teknologi, kripto, dan beberapa sektor unggulan mencatat kenaikan signifikan.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street menguat, Senin, seiring investor mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengarah pada gencatan senjata, di tengah meningkatnya ancaman eskalasi dari Presiden Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz.
Ketiga indeks utama Wall Street mencatat kenaikan tipis. Indeks S&P 500 dan Nasdaq bahkan berada di jalur penguatan selama empat hari berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak Januari.
Dow Jones Industrial Average ditutup naik 165,21 poin atau 0,36 persen menjadi 46.669,88, sementara S&P 500 menguat 29,14 poin atau 0,44 persen ke posisi 6.611,83, dan Nasdaq Composite Index bertambah 117,16 poin atau 0,54 persen jadi 21.996,34, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Senin (6/4) atau Selasa (7/4) pagi WIB.
Dinamika pasar dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik terbaru. Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata langsung dari Amerika Serikat dan bersikeras menginginkan penghentian perang secara permanen, menurut kantor berita resmi Iran. Penolakan ini muncul setelah Trump mengeluarkan ultimatum keras, termasuk ancaman akan melancarkan serangan besar jika Selat Hormuz tetap ditutup bagi lalu lintas kapal tanker minyak.
Meski demikian, pelaku pasar mendapat sedikit angin segar dari laporan yang menyebutkan bahwa AS, Iran, dan sejumlah mediator regional masih terus membahas kemungkinan kesepakatan damai.
Chief Market Strategist Carson Group, Ryan Detrick, menilai meski resolusi konflik belum akan tercapai dalam waktu dekat, ada indikasi positif dari meningkatnya intensitas dialog antar pihak.
Dia juga menyoroti bahwa volatilitas pasar yang dipicu perkembangan harian dan berita memang cukup mengganggu, namun optimisme tetap terjaga menjelang musim laporan kinerja keuangan perusahaan yang akan segera dimulai. Kinerja korporasi yang solid dinilai dapat memperkuat keyakinan bahwa pasar masih berada dalam tren bullish.
Konflik antara AS dan Israel melawan Iran yang berlangsung lebih dari sebulan memang sempat mengguncang pasar global. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan sempat menekan pasar saham. Meski S&P 500 kini mencatat kenaikan beruntun, indeks tersebut masih merosot sekitar 3,9 persen sejak konflik dimulai.
Dari sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan sektor jasa Amerika masih mengalami ekspansi sepanjang Maret, namun dengan laju yang lebih lambat dari perkiraan. Di sisi lain, sektor tersebut mencatat penurunan tenaga kerja, sementara indikator harga yang dibayar--yang mencerminkan tekanan inflasi--melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022.
Sementara itu, laporan ketenagakerjaan Maret yang dirilis saat libur pasar Jumat Agung menunjukkan ekonomi Amerika menambah 178.000 lapangan kerja, jauh di atas ekspektasi pasar 60.000. Namun, data ini diimbangi oleh revisi kenaikan jumlah kehilangan pekerjaan pada Februari menjadi 133.000 dari sebelumnya 92.000.
Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, layanan komunikasi mencatat kenaikan terbesar, sementara utilitas menjadi yang paling tertinggal.
Saham sektor perjalanan dan rekreasi, dirgantara dan pertahanan, serta konstruksi perumahan tampil menjadi outperformers.
Salah satu pergerakan signifikan terjadi pada saham Soleno Therapeutics yang melejit 32,3 persen setelah Neurocrine Biosciences menyepakati akuisisi perusahaan obat penyakit langka tersebut secara tunai.
Kenaikan harga bitcoin juga turut mendorong saham perusahaan terkait kripto yang terdaftar di Amerika. Saham Coinbase melambung 1,9 persen, sementara Strategy melesat 6,6 persen.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat di Bursa Efek New York ( NYSE ) hampir dua kali lipat dibandingkan yang melemah, dengan rasio 1,93 banding 1. Tercatat 88 saham mencetak level tertinggi baru, sementara 54 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.918 saham menguat dan 1.788 saham melemah, dengan rasio kenaikan 1,63 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat tujuh level tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir dan dua level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 61 level tertinggi baru dan 70 level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 14,78 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 19,51 miliar saham dalam 20 hari terakhir. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Boeing Co (1,96%)
-American Express Company (1,85%)
-Cisco Systems Inc (1,79%)
Saham berkinerja terburuk
-Amgen Inc (-1,54%)
-Salesforce Inc (-1,15%)
-Johnson & Johnson (-0,85%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-VeriSign Inc (5,66%)
-Seagate Technology PLC (5,60%)
-Monolithic Power Systems Inc (5,50%)
Saham berkinerja terburuk
-Invesco Plc (-5,22%)
-Super Micro Computer Inc (-5,04%)
-Enphase Energy Inc (-3,67%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Xiao I Corp ADR (515,07%)
-Profusa Inc (144,06%)
-Focus Universal Inc (72,37%)
Saham berkinerja terburuk
-Inno Holdings Inc (-51,54%)
-JetAI Inc (-48,71%)
-Intercont (-35,51%)

Sumber : Admin