Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Rupiah Di Akhir Pekan
Saturday, June 20, 2026       13:02 WIB
  • Rupiah ditutup melemah 0,06% ke Rp17.804 per dolar AS pada Jumat (19/6), tertekan penguatan dolar setelah The Fed memberi sinyal masih berpeluang menaikkan suku bunga satu kali lagi tahun ini.
  • Sikap hawkish The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama serta kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor utama penguatan dolar AS.
  • Dari dalam negeri, MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek information flow karena isu transparansi pasar, namun tetap mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market sehingga menjaga optimisme arus modal asing.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir pekan, seiring menguatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi pada tahun ini.
Mengutip data Bloomberg pada Jumat (19/6) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp17.804 per dolar AS, melemah 10 poin atau 0,06% dibandingkan akhir perdagangan Kamis (18/6) yang berada di posisi Rp17.794 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan dolar AS didorong oleh sikap Federal Reserve yang masih cenderung hawkish meskipun pada pertemuan terakhir memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.
Menurut Ibrahim, pasar menyoroti proyeksi para pejabat The Fed yang masih membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan hingga akhir tahun.
"Sembilan dari 19 pembuat kebijakan Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini, memperkuat ekspektasi bahwa biaya pinjaman dapat tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada hari Rabu, tetapi komentar dari Ketua Kevin Warsh ditafsirkan oleh pasar sebagai sangat agresif, meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah dan mengangkat dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun," kata Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Ia menambahkan, fokus investor saat ini lebih tertuju pada komitmen bank sentral AS dalam mengendalikan inflasi dibandingkan potensi pelonggaran kebijakan moneter.
"Meskipun ekspektasi inflasi yang lebih rendah biasanya akan mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar, investor malah fokus pada kesediaan Fed yang diperbarui untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan harga terus berlanjut," ujar Ibrahim.
Dari faktor eksternal lainnya, sentimen pasar global juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ibrahim menilai kondisi pasar membaik setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri permusuhan dan memulihkan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Sentimen pasar telah membaik secara signifikan sejak Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz, jalur air vital yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak global.
Menurut dia, kesepakatan tersebut meningkatkan harapan bahwa pasokan minyak dunia akan kembali normal secara bertahap sehingga mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak. "Namun, pasukan Israel melancarkan serangan udara baru pada Kamis pagi, menimbulkan beberapa keraguan tentang kesepakatan perdamaian tersebut," imbuh Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang menurunkan penilaian Indonesia pada aspek information flow atau arus informasi menjadi negatif.
MSCI menyoroti masih terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perdagangan yang terkoordinasi di pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut dinilai mengganggu proses pembentukan harga yang wajar serta menyulitkan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar yang sesungguhnya.
Selain itu, MSCI juga mencermati keterbatasan pasar valuta asing Indonesia, termasuk belum tersedianya pasar mata uang lepas pantai yang efisien serta masih adanya berbagai pembatasan di pasar valuta asing domestik.
Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market. "Keputusan tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar karena mengurangi kekhawatiran terjadinya penurunan status ke kategori Frontier Market, sekaligus menjaga harapan terhadap masuknya kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik," tambah Ibrahim.
(Adhitya/AI)

Sumber : admin

berita terbaru
Monday, Jun 29, 2026 - 23:30 WIB
AI Report - Surat Menyurat Bursa (PTPW)
Monday, Jun 29, 2026 - 23:30 WIB
AI Report - Surat Menyurat Bursa (GOLL)
Monday, Jun 29, 2026 - 23:20 WIB
AI Report - Surat Menyurat Bursa (JMAS)
Monday, Jun 29, 2026 - 23:20 WIB
AI Report - Surat Menyurat Bursa (VISI)
Monday, Jun 29, 2026 - 23:20 WIB
AI Report - Surat Menyurat Bursa (DIGI)
Monday, Jun 29, 2026 - 23:20 WIB
AI Report - Surat Menyurat Bursa (BULL)
Monday, Jun 29, 2026 - 23:00 WIB
AI Report - Surat Menyurat Bursa (HUMI)