Konflik Iran Tak Kunjung Reda, Bursa Eropa Rontok dan Yield Obligasi Naik
Thursday, September 24, 2026       03:31 WIB
  • STOXX 600 turun 0,44% akibat minyak kembali di atas USD100 dan konflik Iran-AS.
  • Yield Treasury AS 10 tahun tembus 5,085%, tertinggi sejak 2007.
  • Sektor energi naik 1,3%, sementara asuransi dan konstruksi-material tertekan.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melorot pada perdagangan Rabu setelah harga minyak kembali menembus USD100 per barel, mendorong kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah di tengah konflik Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,44% atau 2,86 poin menjadi 639,92, setelah sempat menguat pada awal perdagangan, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Rabu (23/9) atau Kamis (24/9) dini hari WIB.
Sebagian besar bursa utama di kawasan Eropa juga berakhir di zona merah. Indeks DAX Jerman melemah 0,66% atau 168,22 poin jadi 25.410,63, FTSE 100 Inggris berkurang 0,03% atau 3,07 poin menjadi 10.705,26, dan CAC 40 Prancis menyusut 0,39% atau 31,50 poin ke posisi 8.123,41.
Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 1% dan kembali menembus level USD100 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak mencatat penurunan selama lima sesi berturut-turut dan sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan.
Investor mencermati pernyataan yang saling berseberangan antara Iran dan Amerika Serikat dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah kepada Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump dalam forum yang sama mengancam akan "memusnahkan" Iran.
Ketidakpastian terkait konflik tersebut kembali mendorong tekanan terhadap pasar obligasi. Yield obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan kawasan euro, berada di level 3,550%. Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun melesat ke 5,085%, level tertinggi sejak 2007.
Kepala Analis Interactive Brokers, Steve Sosnick, mengatakan sebelumnya terdapat harapan bahwa akan tercipta dialog yang dapat mempercepat berakhirnya konflik. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan belum banyak kemajuan.
"Kita telah bergerak cukup jauh dalam waktu singkat, sehingga pasar memang berada dalam posisi untuk melakukan aksi ambil untung," ujar Sosnick.
Hampir seluruh sektor utama dalam STOXX 600 mengalami tekanan. Saham energi menjadi satu-satunya sektor yang menguat, melompat 1,3%, seiring kenaikan harga minyak.
Saham perbankan yang memiliki kapitalisasi besar turun 0,4%. Sementara itu, sektor asuransi serta konstruksi dan material menjadi kelompok dengan penurunan terbesar, masing-masing merosot 1,7% dan 1,3%.
Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar global mengalami reli kuat pada awal pekan. Kendati turun pada Rabu, STOXX 600 masih mencatat kenaikan 0,8% sepanjang pekan ini setelah sebelumnya melemah selama tiga minggu berturut-turut.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi lonjakan harga minyak dan yield obligasi serta keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang telah menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, aktivitas bisnis zona euro justru menunjukkan penguatan. Survei Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global memperlihatkan aktivitas bisnis di kawasan tersebut meningkat pada bulan ini dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun, berlawanan dengan ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan perlambatan.
Pelaku pasar juga menantikan pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut akan menjadi perhatian investor untuk mencari petunjuk mengenai hubungan perdagangan kedua negara serta prospek ekonomi global.
Dari sisi saham individual, Arcadis anjlok 2,9% setelah perusahaan teknik asal Kanada, WSP Global, membatalkan tawaran pengambilalihan terhadap emiten konsultan dan teknik asal Belanda tersebut.
Saham KWS ambles 9% setelah produsen benih asal Jerman itu melaporkan penjualan bersih tahunan 1,63 miliar euro (USD1,86 miliar), melorot 3% dan di bawah estimasi IBES sebesar 1,68 miliar euro. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya luas lahan yang ditanami bit gula dan jagung.
Sementara itu, saham Adyen melemah 4,7% setelah perusahaan pemrosesan pembayaran asal Belanda tersebut menunjuk Niclas Neglen dari Klarna sebagai chief financial officer (CFO) berikutnya. Neglen akan mulai menjabat pada 1 Februari 2027. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin