Investor Cermati Negosiasi AS-Iran, Bursa Eropa Ditutup Relatif Flat
Thursday, June 25, 2026       03:30 WIB
  • STOXX 600 naik tipis, DAX tertekan oleh anjloknya saham Rheinmetall.
  • Saham tambang dan energi turun, sementara Segro melonjak karena tawaran akuisisi.
  • Sentimen pasar ditopang membaiknya kepercayaan bisnis Jerman dan prospek ECB.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa relatif mendatar pada perdagangan Rabu, seiring investor mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta sejumlah dinamika sektor korporasi yang memengaruhi sentimen pasar.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup menguat tipis 0,08 persen atau 0,53 poin menjadi 635,16, demikian laporan  Reuters,  di Bengaluru, Rabu (24/6) atau Kamis (25/6) dini hari WIB.
Namun, indeks acuan Jerman DAX melemah 0,62 persen atau 153,22 poin jadi 24.740,36, terutama akibat tekanan besar pada saham perusahaan pertahanan Rheinmetall. Sementara, FTSE 100 Inggris naik 0,31 persen atau 32,78 poin ke posisi 10.461,63 dan CAC Prancis bertambah 0,54 persen atau 44,78 poin menjadi 8.385,49.
Saham Rheinmetall merosot 18,7 persen dan mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah perusahaan setelah pemerintah Jerman membatalkan rencana pembangunan enam kapal fregat F126. Proyek tersebut sebelumnya diperkirakan dimenangkan oleh Rheinmetall, tetapi dibatalkan karena keterlambatan pengerjaan serta potensi pembengkakan biaya.
Sebagai penggantinya, Berlin memutuskan beralih ke fregat berukuran lebih kecil, yakni Meko A-200, yang diproduksi oleh unit galangan kapal TKMS milik Thyssenkrupp. Keputusan itu mendorong saham Thyssenkrupp melesat 16 persen.
Tekanan pada Rheinmetall turut menyeret sektor kedirgantaraan dan pertahanan Eropa yang turun 0,8 persen. Sementara itu, sektor industri dalam indeks STOXX 600 terkoreksi 0,2 persen.
Chief Equity Market Strategist Morningstar, Michael Field, mengatakan kondisi geopolitik global yang masih tidak stabil seharusnya menjadi faktor pendukung bagi saham-saham pertahanan. Namun, menurutnya, sentimen positif tersebut belum tercermin dalam pergerakan pasar saat ini.
Sektor berbasis komoditas menjadi kelompok dengan kinerja terburuk pada perdagangan hari itu. Saham pertambangan merosot 2,5 persen, sedangkan saham energi menyusut 2,3 persen, mengikuti kejatuhan harga logam dan minyak dunia.
Sebaliknya, sektor properti menjadi bintang utama dengan lompatan 3 persen. Saham Segro melambung 17,4 persen setelah perusahaan logistik asal Amerika Serikat, Prologis, secara terbuka mengajukan tawaran akuisisi senilai USD16,6 miliar. Langkah tersebut dilakukan setelah Segro menolak proposal awal yang diajukan Prologis. Kenaikan saham Segro tersebut menjadi lonjakan intraday terbesar sejak Maret 2009.
Di sektor teknologi, reli yang sempat terjadi pada awal perdagangan berbalik arah. Indeks sektor teknologi STOXX 600 ditutup melemah 0,3 persen setelah pada sesi sebelumnya mencatat penurunan harian terbesar dalam hampir lima bulan.
Produsen chip asal Jerman, Infineon, melorot 1,2 persen. Sementara itu, pemasok peralatan semikonduktor BE Semiconductor dan ASML masing-masing kehilangan 1,3 persen dan 0,5 persen.
Meski saham produsen memori di Asia berhasil pulih, pergerakan emiten teknologi di Amerika Serikat masih beragam menjelang pengumuman laporan keuangan kuartalan dari perusahaan chip Micron.
Kepala Strategi Investasi Global State Street Investment Management, Jennifer Bender, menilai aksi jual di sektor teknologi saat ini serupa dengan koreksi jangka pendek yang beberapa kali terjadi sepanjang tahun. Menurutnya, tekanan tersebut umumnya hanya berlangsung beberapa hari dan dipicu aksi ambil untung dari investor ritel maupun pelaku perdagangan jangka pendek.
Di pasar komoditas, harga minyak Brent tersungkur ke level terendah sejak dimulainya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pelemahan terjadi setelah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan mereda menyusul tercapainya kesepakatan damai. Meski demikian, investor masih berhati-hati karena terdapat perbedaan pandangan mengenai sejumlah poin penting dalam kesepakatan tersebut.
Dari sisi ekonomi, sentimen pasar mendapat dukungan dari data Jerman yang menunjukkan peningkatan kepercayaan dunia usaha pada Juni. Perusahaan di negara tersebut melaporkan kondisi bisnis yang lebih baik dibandingkan hampir dua tahun terakhir.
Pelaku pasar juga terus memantau arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia. Berdasarkan data yang dihimpun LSEG , investor kini memperhitungkan peluang adanya satu kali kenaikan suku bunga lagi oleh Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin