Harga Emas Dunia Naik Sekitar 1% Usai Minyak Anjlok Lebih dari 5 Persen
Wednesday, August 05, 2026       14:28 WIB

AI News - Emas spot mencapai US$ 4.086,36 per ons pada penutupan perdagangan Selasa 4 Agustus 2026, dipicu penurunan harga minyak mentah lebih dari 5% yang menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Poin Penting

  • Harga emas spot naik menjadi US$ 4.086,36 per ons pada penutupan Selasa 4 Agustus 2026.
  • Kontrak berjangka emas AS menguat ke US$ 4.152,60 per ons pada akhir perdagangan.
  • Harga minyak mentah turun lebih dari 5 %, mencatat level terendah tiga minggu.
  • Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September diperkirakan 57 % dan 61 %.
  • Harga perak naik 2,8 % ke US$ 59,82 per ons; platinum naik 7,1 % ke US$ 1.742,63; palladium naik 7,1 % ke US$ 1.354,27 per ons.

Mengapa Harga Minyak Turun dan Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Emas?


Penurunan harga minyak mentah lebih dari 5% disebabkan oleh pernyataan diplomatik antara Qatar dan Amerika Serikat yang menimbulkan harapan penyelesaian konflik Iran serta memperlancar aliran suplai melalui Selat Hormuz. Kompas mencatat bahwa penurunan energi meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga jangka pendek The Fed berkurang. Akibatnya, emas mendapatkan dorongan karena logam mulia tidak menghasilkan imbal hasil dan menjadi lebih menarik dalam lingkungan suku bunga yang diproyeksikan lebih rendah. Harga spot emas naik 0,8% menjadi US$ 4.086,36 per ons, sementara kontrak berjangka menguat 1,5% ke US$ 4.152,60 per ons, mencerminkan pergeseran sentimen investor ke aset safe-haven.

Apa Implikasi Penurunan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Federal Reserve Bagi Logam Mulia?


Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve mengurangi tekanan biaya kesempatan pada emas, sehingga meningkatkan daya tariknya sebagai lindung nilai inflasi. Kontan melaporkan bahwa peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan sekitar 61%, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan 57% yang disebutkan Kompas, namun tetap menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, yang tetap optimis bahwa inflasi akan mereda, memperkuat keyakinan pasar bahwa kebijakan moneter dapat tetap akomodatif. Dengan suku bunga jangka pendek diproyeksikan turun, permintaan emas diperkirakan tetap kuat, mendukung tren kenaikan harga yang sedang berlangsung.

Bagaimana Pergerakan Logam Mulia Lainnya Mencerminkan Sentimen Pasar?


Selain emas, logam mulia lain juga menunjukkan kenaikan signifikan yang mencerminkan sentimen risk-off di pasar global. Kompas melaporkan bahwa harga perak spot naik 2,8% menjadi US$ 59,82 per ons, sementara platinum dan palladium masing-masing melambung 7,1% ke US$ 1.742,63 dan US$ 1.354,27 per ons. Kenaikan simultan pada ketiga logam tersebut menandakan investor memperluas alokasi ke aset yang tidak berkorelasi dengan suku bunga, terutama ketika prospek inflasi dan kebijakan moneter menjadi lebih tidak pasti. Peningkatan harga logam ini menegaskan bahwa penurunan harga minyak serta ekspektasi suku bunga yang lebih rendah mendorong pergeseran portofolio ke arah logam mulia sebagai perlindungan nilai.

Bagaimana Data Tenaga Kerja AS Pekan ini Dapat Memengaruhi Kebijakan Suku Bunga The Fed?


Data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada Rabu 5 Agustus (laporan ADP) dan Jumat 7 Agustus (nonfarm payroll) menjadi faktor kunci bagi keputusan kebijakan The Fed. Kontan mencatat bahwa pasar menilai laporan tersebut sebagai indikator utama kesehatan ekonomi AS; penurunan penciptaan lapangan kerja atau pertumbuhan upah yang lemah dapat menurunkan kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, memperkuat tren positif bagi emas. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan dapat meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga, menurunkan daya tarik logam mulia. Oleh karena itu, investor memantau dengan cermat hasil ADP dan nonfarm payroll untuk menilai arah kebijakan moneter dan implikasinya terhadap harga emas ke depan.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News