Harga Emas Dunia Diproyeksikan Menguji Resistance $4.479 pada Pekan Depan
Monday, September 14, 2026       03:28 WIB

AI News - Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas dunia akan berfluktuasi namun berpotensi menguji level resistance $4.479 per troy ounce dalam pekan depan, dengan rentang perkiraan antara $4.102 hingga $4.650 per troy ounce.

Poin Penting

  • Penutupan perdagangan Jumat 11 September 2026: $4.348 per troy ounce.
  • Support pertama: $4.245 per troy ounce; support kedua: $4.102 per troy ounce.
  • Resistance pertama: $4.479 per troy ounce; resistance kedua: $4.650 per troy ounce.
  • Ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah meningkatkan volatilitas pasar komoditas.
  • Bank Sentral Tiongkok menambah cadangan emas sekitar 650 ribu troy ounce pada September 2026.

Mengapa Geopolitik Global Menjadi Pendorong Utama Harga Emas Pekan Depan?


IDX Channel melaporkan bahwa konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina serta perseteruan militer antara Amerika Serikat dan Iran menciptakan ketidakpastian ekonomi yang mendorong investor mencari aset safe-haven seperti emas. Di Eropa Timur, perang yang diproyeksikan berlangsung 3-4 tahun ke depan menekan suplai energi dan meningkatkan permintaan lindung nilai. Sementara itu, pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, yang kini hanya dilalui sekitar 7 hingga 10 kapal, memperburuk pasokan minyak global dan menambah tekanan inflasi. Kondisi tersebut menstimulasi permintaan emas sebagai perlindungan nilai, sehingga memperkuat prospek pengujian level resistance $4.479 dalam pekan mendatang. Dampaknya, harga emas dapat tetap berada dalam kisaran perkiraan $4.102-$4.650 per troy ounce.

Apa Pengaruh Kebijakan Moneter Amerika Serikat Terhadap Harga Emas?


Investor.id mencatat bahwa mayoritas ekonom memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis point pada bulan September 2026, langkah yang biasanya memberi tekanan negatif pada harga emas. Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang memegang aset non-bunga, sehingga investor beralih ke instrumen berbunga lebih tinggi. Selain itu, utang nasional AS yang telah melampaui $40 triliun serta lonjakan harga bensin hingga lebih dari $6 per galon memperkuat ekspektasi inflasi jangka pendek, yang secara bersamaan dapat menambah permintaan emas sebagai lindung nilai. Namun, kebijakan pengetatan moneter secara umum menurunkan daya beli emas, sehingga pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh keseimbangan antara kekhawatiran inflasi dan penarikan likuiditas. Bagi investor, pemahaman dinamika ini penting untuk menilai apakah harga akan tetap berada di atas $4.479 atau kembali turun ke level support.

Bagaimana Penambahan Cadangan Emas oleh Bank Sentral Tiongkok Memengaruhi Pasar?


Menurut Ibrahim Assuaibi, keputusan Bank Sentral Tiongkok menambah cadangan emas pada September 2026 mencerminkan kepercayaan institusional terhadap logam mulia di tengah ketidakpastian geopolitik. Penambahan tersebut meningkatkan permintaan institusional secara keseluruhan, yang dapat memberi dukungan pada harga emas meskipun tekanan kenaikan suku bunga AS sedang berlangsung. Selain memberi sinyal diversifikasi aset cadangan devisa, akumulasi emas oleh China juga memperkuat sentimen bahwa logam mulia tetap menjadi aset pelindung nilai global. Dampaknya, pasar dapat mengalami sedikit stabilisasi di sekitar level resistance $4.479, mengurangi volatilitas ekstrim yang biasanya dipicu oleh pergerakan geopolitik. Investor perlu memperhitungkan langkah tersebut bersama faktor lain untuk menilai arah harga emas dalam minggu ke depan.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News