AI News - PT Aneka Tambang Tbk mencatat harga jual emas Antam naik menjadi Rp2.630.000 per gram pada Rabu 23 September 2026, meningkat Rp3.000 dibandingkan hari sebelumnya, seiring penurunan harga minyak dunia yang menurunkan tekanan inflasi global. Kenaikan tersebut juga didukung oleh pelemahan harga spot emas dunia ke US$4.359,40 per ons dan sinyal diplomatik antara AS dan Iran.
Poin Penting
- Harga jual emas Antam naik menjadi Rp2.630.000 per gram, naik Rp3.000 dibandingkan hari sebelumnya.
- Harga buyback Antam meningkat menjadi Rp2.465.000 per gram, naik Rp3.000 dari nilai sebelumnya.
- Spot emas dunia menguat 0,4% ke USD4.359,40 per ons pada perdagangan Rabu.
- Harga Brent crude turun 1,68% menjadi USD98,48 per barel, menurunkan tekanan inflasi.
- Penurunan minyak mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Mengapa Penurunan Harga Minyak Mendorong Kenaikan Harga Emas Antam?
Bloomberg Technoz mencatat bahwa penurunan harga Brent crude sebesar 1,68% menjadi US$98,48 per barel mengurangi tekanan inflasi global, sehingga investor beralih ke logam mulia sebagai lindung nilai. Dengan inflasi yang lebih terkendali, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve melunak, menjadikan emas lebih menarik dibandingkan aset berbunga. EmitenNews melaporkan bahwa spot emas dunia menguat 0,4% ke US$4.359,40 per ons, yang selanjutnya mendorong harga emas Antam naik Rp3.000 menjadi Rp2.630.000 per gram. Dampaknya, pasar domestik melihat pergerakan harga emas yang lebih stabil dan mengurangi volatilitas yang biasanya dipicu oleh fluktuasi minyak.
Bagaimana Kenaikan Harga Antam Mempengaruhi Investor dan Pasar Domestik?
EmitenNews melaporkan kenaikan harga jual emas Antam menjadi Rp2.630.000 per gram serta buyback naik menjadi Rp2.465.000 per gram, masing-masing naik Rp3.000, memberikan insentif bagi pemilik emas untuk menjual kembali kepada Antam. Kenaikan tersebut meningkatkan nilai likuiditas aset bagi investor ritel yang mengandalkan emas sebagai penyimpan nilai, sementara mekanisme buyback yang lebih tinggi menurunkan selisih antara jual dan beli, memperkecil biaya transaksi. Bloomberg Technoz menekankan bahwa emas adalah aset non-yielding, sehingga dalam lingkungan suku bunga tinggi, investor cenderung mencari perlindungan di logam mulia. Dengan harga yang menguat, permintaan domestik diperkirakan akan tetap kuat, mendukung stabilitas pasar logam mulia di Indonesia.
Apa Implikasi Kenaikan Harga Spot Emas Dunia Terhadap Kebijakan Suku Bunga Federal Reserve?
Menurut EmitenNews, pejabat Federal Reserve masih memberikan pandangan beragam mengenai respons kebijakan moneter terhadap inflasi, namun penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi yang menjadi pertimbangan utama. Penurunan Brent sebesar 1,68% menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga pasar memperkirakan Fed dapat menahan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan. Spot emas dunia yang menguat 0,4% ke US$4.359,40 per ons mencerminkan sentimen investor global yang mencari aset aman ketika kebijakan moneter diperkirakan longgar. Artinya, jika tren penurunan minyak berlanjut, kemungkinan Fed akan tetap berhati-hati dalam menaikkan suku bunga, memberikan dukungan lanjutan bagi harga emas di pasar internasional dan domestik.
Sumber : AI News