Harga Emas Antam Diprediksi Turun Rp 15.000 ke Rp 2.615.000 pada Kamis 24 September 2026
Thursday, September 24, 2026       01:17 WIB

AI News - Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas batangan Antam akan turun sekitar Rp 15.000 menjadi Rp 2.615.000 per gram pada Kamis 24 September 2026, dipicu oleh penguatan rupiah dan penurunan harga emas dunia.

Poin Penting

  • Prediksi harga Antam turun sekitar Rp 15.000 menjadi Rp 2.615.000 per gram pada Kamis 24 September 2026.
  • Rupiah menguat 0,37 % ke Rp 17.818 per dolar AS pada penutupan Rabu 23 September 2026.
  • Harga emas dunia turun menjadi $4.347,39 per ons, turun 0,39 % secara harian pada Rabu 23 September 2026.
  • Harga jual emas Antam di Pegadaian tetap Rp 2.667.000 per gram pada 23 September 2026.
  • Harga buyback Antam di Pegadaian tercatat Rp 2.410.000 per gram pada 23 September 2026.

Mengapa Harga Emas Antam Diperkirakan Turun pada Kamis 24 September 2026?


Investor.id melaporkan bahwa penurunan dipicu oleh tiga faktor utama: penguatan rupiah, koreksi harga emas dunia, dan tekanan kebijakan moneter Amerika Serikat. Penguatan rupiah ke Rp 17.818 per dolar mengurangi nilai rupiah per gram emas, sementara harga emas global turun menjadi $4.347,39 per ons, menurunkan dasar harga logam mulia. Selain itu, pejabat The Fed seperti Thomas Barkin menekankan inflasi yang tinggi, menahan ekspektasi penurunan suku bunga dan memperkuat dolar, yang selanjutnya menekan emas dalam mata uang lokal. Kombinasi ini menjelaskan mengapa Ibrahim Assuaibi memproyeksikan penurunan sekitar Rp 15.000, menurunkan harga Antam ke Rp 2.615.000 per gram pada Kamis.

Bagaimana Penguatan Rupiah dan Penurunan Harga Emas Dunia Mempengaruhi Harga Antam?


Menurut Kompas, penguatan rupiah sebesar 0,37 % terhadap dolar AS menurunkan daya beli lokal untuk emas, sehingga konversi harga emas dunia yang lebih murah menjadi harga jual yang lebih rendah di pasar domestik. Pada saat yang sama, penurunan harga emas dunia sebesar 0,39 % menjadi $4.347,39 per ons menurunkan patokan nilai logam mulia, yang tercermin dalam harga Antam di platform Logam Mulia yang tercatat Rp 2.630.000 per gram pada Rabu 23 September 2026. Kedua dinamika ini berkolaborasi menurunkan harga Antam secara simultan, memberi sinyal bahwa investor domestik dapat membeli emas dengan biaya yang lebih ringan, namun sekaligus menurunkan potensi keuntungan bila harga kembali naik.

Apa Risiko Geopolitik dan Kebijakan The Fed yang Dapat Membalikkan Penurunan Harga Antam?


Data Investor.id menunjukkan bahwa meskipun penurunan harga saat ini bersifat sementara, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah tetap signifikan. Jika ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat, permintaan safe-haven seperti emas dapat melambung, meningkatkan harga kembali. Di sisi lain, kebijakan The Fed yang agresif-termasuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pekan lalu dan indikasi kemungkinan kenaikan lebih lanjut pada Desember dengan probabilitas 90 %-menjaga dolar kuat dan menekan emas, tetapi jika kebijakan pengetatan melambat atau inflasi mereda, ekspektasi pasar dapat beralih ke emas sebagai lindung nilai, memicu kenaikan harga Antam. Kedua faktor ini menjadi penyeimbang yang dapat mengubah arah pasar dalam beberapa minggu ke depan.

Bagaimana Perbandingan Harga Antam di Pegadaian dan Platform Logam Mulia pada 23 September 2026?


Laporan Kompas mencatat bahwa harga jual emas Antam di Pegadaian pada 23 September 2026 tetap Rp 2.667.000 per gram, lebih tinggi dibandingkan harga di Logam Mulia yang berada di Rp 2.630.000 per gram pada hari yang sama menurut Investor.id. Selisih ini mencerminkan margin tambahan yang mungkin diterapkan Pegadaian serta perbedaan likuiditas dan biaya operasional antara kedua jaringan penjualan. Selain itu, harga buyback di Pegadaian tercatat Rp 2.410.000 per gram, sementara harga beli kembali di Logam Mulia berada di Rp 2.465.000 per gram, menunjukkan spread yang sedikit lebih menguntungkan bagi penjual di Pegadaian. Perbedaan ini memberi pilihan kepada investor untuk menilai cost-benefit masing-masing outlet sebelum melakukan transaksi.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News