Dow Melonjak Lebih dari 1% ke Rekor Baru, Nasdaq Tertekan Aksi Ambil Untung Saham Chip
Friday, July 03, 2026       04:34 WIB
  • Dow cetak rekor penutupan; S&P 500 stagnan, Nasdaq turun.
  • Data tenaga kerja AS meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.
  • Apple menguat; saham semikonduktor dan Tesla terkoreksi.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir variatif, Kamis, dengan indeks Dow melonjak lebih dari 1% dan mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah. Penguatan tersebut ditopang data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Sebaliknya, indeks Nasdaq ditutup melemah akibat aksi jual pada saham semikonduktor, sementara indeks S&P 500 berakhir nyaris tidak berubah. Meski demikian, ketiga indeks utama Wall Street tetap membukukan penguatan sepanjang pekan menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada Jumat.
Dow Jones Industrial Average melesat 594,83 poin atau 1,14% menjadi 52.900,07, sekaligus mencatat kenaikan mingguan selama empat pekan berturut-turut, yang merupakan reli terpanjang sejak Oktober 2024, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Kamis (2/7) atau Jumat (3/7) pagi WIB.
Sementara itu, indeks berbasis luas S&P 500 naik tipis 0,01 poin ke posisi 7.483,24, sedangkan Nasdaq Composite Index justru melorot 207,36 poin atau 0,80% menjadi 25.832,67.
Secara mingguan, Dow Jones melambung sekitar 2%, S&P 500 melompat 1,8%, sedangkan Nasdaq mencatat kenaikan 2,1%.
Sentimen pasar dipengaruhi laporan nonfarm payrolls yang menunjukkan perekonomian Amerika hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja baru sepanjang Juni, jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 110.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran tercatat 4,2%, sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar 4,3%.
Data tersebut mengakhiri rangkaian laporan ketenagakerjaan yang sebelumnya memperlihatkan pertumbuhan lapangan kerja yang solid dan mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi sekitar 55%, dari sebelumnya 64,1% sebelum data dirilis.
Chief Executive Officer 50 Park Investments, Adam Sarhan, mengatakan laporan ketenagakerjaan tersebut bukan berarti risiko inflasi telah hilang. Namun, data itu cukup untuk mengurangi tekanan terhadap the Fed agar segera menaikkan suku bunga dalam jangka pendek.
Menurut dia, investor masih mewaspadai tekanan inflasi, terutama setelah lonjakan tajam harga minyak pada awal konflik Iran.
Saham Apple menjadi salah satu penopang utama Wall Street setelah melesat 4,8%. Kenaikan itu dipicu laporan  Nikkei Asia  yang menyebut perusahaan berencana meluncurkan lima model iPhone baru.
Di sisi lain, indeks saham semikonduktor anjlok 5,4%, memperpanjang pelemahan untuk hari kedua berturut-turut. Aksi ambil untung dinilai menjadi pemicu utama setelah sektor tersebut mencatat reli sangat kuat sepanjang tahun ini.
Managing Director Granite Wealth Management, Bruce Zaro, mengatakan investor kemungkinan merealisasikan keuntungan pada saham-saham chip yang telah melompat signifikan. Meski terkoreksi, indeks semikonduktor masih membukukan kenaikan sekitar 78% sejak awal tahun.
Saham Tesla merosot 7,5% meski produsen kendaraan listrik itu melaporkan pengiriman kendaraan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi analis. Pelemahan terjadi setelah saham Tesla menguat tajam sepanjang pekan menjelang publikasi laporan tersebut.
Di kelompok saham yang melemah, Bending Spoons ambles 11,3%, sehari setelah pemilik Vimeo tersebut meroket sekitar 40% pada debut perdagangannya di Nasdaq.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik di Bursa Efek New York ( NYSE ) mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,42 banding 1. Tercatat 318 saham mencetak level tertinggi baru, sedangkan 111 saham menyentuh level terendah baru di NYSE .
Di Nasdaq, sebanyak 2.419 saham menguat dan 2.548 saham melemah, sehingga saham yang turun sedikit lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 1,05 banding 1.
Baik S&P 500 maupun Nasdaq Composite tidak mencatat saham yang mencetak level tertinggi ataupun terendah baru dalam periode 52 minggu terakhir.
Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 19,92 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang mencapai 23,34 miliar saham. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Apple Inc (4,84%)
-McDonald's Corporation (4,07%)
-Walt Disney Company (3,91%)
Saham berkinerja terburuk
-Cisco Systems Inc (-3,70%)
-Caterpillar Inc (-2,83%)
-Nvidia Corporation (-1,56%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Genuine Parts Co (12,92%)
-Moderna Inc (10,01%)
-Equifax Inc (6,10%)
Saham berkinerja terburuk
-Teradyne Inc (-13,63%)
-KLA Corporation (-11,51%)
-Corning Incorporated (-10,86%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-ClearOne Inc (100,62%)
-CaliberCos Inc (85,96%)
-Big Tree Cloud Holdings Ltd (54,17%)
Saham berkinerja terburuk
-Token Cat Ltd DRC (-38,13%)
-Elicio Therapeutics Inc (-37,35%)
-Linkhome Holdings Inc (-37,04%)

Sumber : Admin