Dolar AS Terjungkal! Penjualan Ritel AS Anjlok, Pasar Mulai Ragukan The Fed
Saturday, August 15, 2026       08:59 WIB
  • Dolar AS melemah setelah penjualan ritel AS turun 0,6% pada Juli, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 0,1%.
  • Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi 31%, sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 69%.
  • Yen masih tertekan dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 1%, dengan level 160 per dolar berpotensi menjadi pemicu intervensi resmi baru.

Ipotnews - Dolar AS melemah pada Jumat (14/8) akhir pekan ini setelah data menunjukkan penjualan ritel AS secara tak terduga turun pada Juli, membantu mendorong euro dan pound sterling ke level tertinggi dalam beberapa bulan, ketika trader mempertimbangkan kebijakan Federal Reserve.
Penjualan ritel turun 0,6% pada bulan lalu setelah kenaikan 0,2% yang tidak direvisi pada Juni. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan penjualan ritel, yang sebagian besar merupakan barang dan tidak disesuaikan dengan inflasi, naik tipis 0,1%.
"Kami jelas melihat tanda-tanda konsumsi yang buruk," kata Juan Perez, direktur perdagangan di Monex USA di Washington. "Bukti ini jelas menunjukkan adanya perlambatan ekonomi di Amerika Serikat."
Data inflasi konsumen dan produsen yang lebih rendah dari perkiraan pada pekan ini telah mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September. Trader kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September hanya sebesar 31%, disertai peluang kenaikan suku bunga sebesar 69% pada Desember.
Kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja juga semakin dalam setelah laporan payrolls Juli menunjukkan perusahaan secara tak terduga mengurangi jumlah lapangan kerja pada bulan lalu.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, turun 0,25% menjadi 99,67. Euro naik 0,32% menjadi US$1,1564 dan sempat mencapai US$1,1585, level tertinggi sejak 17 Juni. Pound sterling menguat 0,33% menjadi US$1,353. Pound sempat mencapai US$1,3561, level tertinggi sejak 12 Mei.
Trader juga fokus pada konflik AS dengan Iran dan upaya untuk membuka Selat Hormuz. Harga minyak mentah naik pada Jumat akibat serangan baru terhadap kapal tanker dan perang pernyataan antara pemerintahan Trump dan kepemimpinan Iran.
Yen Jepang menguat 0,08% menjadi 159,37 per dolar. Yen berada di jalur penurunan mingguan sekitar 1% karena dampak intervensi AS dan Jepang baru-baru ini terus memudar. Kondisi tersebut membuat trader bertaruh bahwa kenaikan suku bunga atau pembelian resmi lainnya akan diperlukan untuk menghentikan pelemahan mata uang tersebut.
Reuters melaporkan Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga paling cepat pada September dan sedang mempertimbangkan kenaikan yang lebih agresif setelahnya. Sejak keluar dari stimulus besar-besaran selama satu dekade pada 2024, BOJ telah menaikkan suku bunga dengan laju sekitar dua kali setahun, termasuk pada Juni ketika menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sebesar 1%.
"Intervensi baru-baru ini gagal mengubah sentimen terhadap JPY. Sebaliknya, sentimen bearish terhadap JPY meningkat secara signifikan selama sebulan terakhir, mencapai level tertinggi dalam empat tahun," kata analis Bank of America yang dipimpin Ralf Preusser dalam laporan pada Jumat.
Sebagian besar fund manager yang disurvei bank tersebut untuk survei sentimen FX dan suku bunga terbaru meyakini bahwa suku bunga terminal 2% dapat menstabilkan mata uang tersebut, yang berarti empat kali lagi kenaikan sebesar 25 basis poin, tambah mereka.
Yen diperdagangkan pada level terendah dalam 40 tahun, mendekati 164 per dolar sebelum intervensi Juli, dan trader melihat level 160 sebagai potensi pemicu tindakan resmi baru. Pelemahan tersebut mencerminkan aksi jual serupa pada Mei, ketika yen juga kembali melemah setelah putaran pembelian resmi.
(reuters)

Sumber : admin