Data Ekonomi Domestik Memunculkan Sikap yang Lebih Hati-hati - Ashmore
Sunday, July 05, 2026       14:14 WIB
  • Ashmore menilai sentimen global membaik seiring normalisasi harga minyak, pulihnya pelayaran di Selat Hormuz, dan berlanjutnya diplomasi AS-Iran, mendukung aset berisiko.
  • Di Indonesia, kenaikan inflasi dan defisit neraca perdagangan mendorong Bank Indonesia tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.
  • Ashmore tetap merekomendasikan investasi selektif pada saham berfundamental kuat sambil mencermati perkembangan Selat Hormuz dan implementasi reformasi pasar Indonesia

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan pertama Juli 2026, Jumat (3/7), dengan mencatatkan lonjakan IHSG sebesar 2,28% ke level 5.875 namun masih lebih rendah dari sesi penutupan pekan sebelumnya di posisi 5.896. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih ekuitas sebesar USD153 juta sepanjang pekan.
 Weekly Commentary  PT Ashmore Asset Management Indonesia menyoroti sejumlah hal yang mempengaruhi pergerakan dana di pasar modal dalam dan luar negeri, sebagai berikut;

Apa yang terjadi pekan ini?
Ashmore mencatat, sektor yang paling tertekan sepanjang pekan ini adalah keuangan dan kesehatan, masing-masing merosot 1,35% dan 1,27%. Sebaliknya, sektor industri dan teknologi menjadi penggerak utama IHSG dengan lompatan masing-masing 4,86% dan 2,24%.
Di pasar komoditas dan aset, Bitcoin (+3,26%) dan harga batu bara (+3,09%) menjadi aset berkinerja terbaik pekan ini. Sebaliknya, gas alam terkoreksi 2,85% dan harga minyak sawit mentah (CPO) turun1,87%.
Di Amerika Serikat, data ketenagakerjaan periode Juni menunjukkan pelemahan. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2%, namun penambahan tenaga kerja nonpertanian ( nonfarm payrolls ) hanya mencapai57.000, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000. "Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum," tulis Ashmore.
Sementara itu, indeks manufaktur ISM Manufacturing PMI tetap berada di zona ekspansi pada 53,3, meski sedikit di bawah perkiraan. Di Kanada, pertumbuhan PDB sementara sesuai ekspektasi, namun melambat dibanding periode sebelumnya, menandakan moderasi aktivitas ekonomi.
Di kawasan Zona Euro, inflasi Juni melambat lebih besar dari perkiraan menjadi 2,8% secara tahunan ( year-on-year ), sehingga meredakan kekhawatiran terhadap tekanan harga. Tingkat pengangguran tercatat 6,2%, sedikit lebih baik dari ekspektasi, sementara indeks sentimen ekonomi meningkat menjadi 95, mengindikasikan prospek ekonomi mulai stabil.
Di Jerman, inflasi awal juga melambat lebih cepat dari perkiraan, meski pasar tenaga kerja belum menunjukkan perbaikan yang berarti.
Sementara itu di Asia, indeks kepercayaan konsumen Jepang meningkat tipis, namun masih berada di bawah ekspektasi, mencerminkan pemulihan sentimen rumah tangga yang masih terbatas.
PMI Manufaktur NBS China naik menjadi 50,3, melampaui perkiraan dan kembali masuk ke zona ekspansi. PMI Non-Manufaktur juga meningkat menjadi 50,2, menunjukkan sektor jasa dan konstruksi tetap bertumbuh meski dengan laju yang moderat.
Di Indonesia, inflasi Juni meningkat menjadi 3,34% YoY, lebih tinggi dari ekspektasi dan mendekati batas atas target Bank Indonesia, sehingga memperkuat prospek kebijakan moneter yang lebih berhati-hati ke depan.
Membaiknya minat pasar global pada aset berisiko
Ashmore melihat, sentimen pasar global membaik pada pekan ini seiring harga minyak yang terus kembali mendekati level sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah. Normalisasi tersebut didukung meningkatnya aktivitas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz serta berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pelaku pasar kini menilai risiko gangguan pasokan energi berkepanjangan semakin menurun. Arus pengiriman melalui Selat Hormuz mulai membaik dan pasokan minyak dalam jangka pendek terlihat lebih memadai.
"Kondisi ini memberikan sentimen positif terhadap prospek inflasi global, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang, khususnya negara pengimpor minyak seperti Indonesia," ungkap Ashmore.
Meski demikian, Ashmore menilai, perbaikan sentimen tersebut masih tergolong rapuh karena kesepakatan antara AS dan Iran belum bersifat final. Gangguan baru di Selat Hormuz berpotensi kembali mendorong kenaikan premi risiko harga minyak.
Sedangkan di Amerika Serikat, data ekonomi memberikan sinyal yang beragam. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2%, namun penambahan tenaga kerja nonpertanian ( nonfarm payrolls ) hanya mencapai 57.000, jauh di bawah ekspektasi 110.000, yang mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Menurut Ashmore, kondisi tersebut menciptakan dilema bagi Federal Reserve (The Fed). Pelemahan pasar tenaga kerja mendukung sikap yang lebih lunak ( less hawkish ), namun inflasi yang masih berada di atas target membuat bank sentral diperkirakan tetap menunggu bukti yang lebih kuat sebelum beralih ke kebijakan yang lebih akomodatif.
"Hingga saat ini, pasar masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026."
Ashmore juga melihat, rilis data makroekonomi Indonesia memunculkan kehati-hatian. Inflasi tahunan pada Juni meningkat menjadi 3,34%. Angka tersebut melampaui ekspektasi dan mendekati batas atas target Bank Indonesia.
Sementara itu, neraca perdagangan pada Mei secara tak terduga mencatat defisit USD1,61 miliar, berbalik dari ekspektasi surplus. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan pada neraca eksternal dan stabilitas rupiah.
"Meskipun penurunan harga minyak global diperkirakan membantu memperbaiki kondisi tersebut, Bank Indonesia dinilai masih akan mempertahankan sikap hati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya," papar Ashmore.
Untuk pasar saham Indonesia, Ashmore berpendapat, membaiknya sentimen global akibat turunnya harga minyak menjadi katalis positif, meski sejumlah faktor domestik masih membatasi penguatan pasar.
Saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat diperkirakan tetap menjadi pilihan utama investor. Sedangkan saham-saham yang lebih spekulatif kemungkinan masih diperdagangkan dengan valuasi yang tertekan hingga kepercayaan terhadap implementasi reformasi meningkat.
Di pasar obligasi, Ashmore menilai harga minyak yang lebih rendah mendukung prospek penurunan tekanan inflasi impor dan defisit transaksi berjalan. "Namun, kenaikan inflasi domestik dan munculnya defisit neraca perdagangan mengurangi peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek," imbuh Ashmore.
Secara keseluruhan, pekan ini memberikan sentimen positif bagi pasar global seiring normalisasi harga minyak dan meredanya kekhawatiran terhadap krisis pasokan energi yang berkepanjangan. "Namun, bagi Indonesia, data ekonomi domestik memunculkan sikap yang lebih berhati-hati karena inflasi meningkat dan neraca perdagangan berbalik mengalami defisit," sebut Ashmore.
Dalam kondisi tersebut, strategi investasi tetap difokuskan secara selektif pada saham-saham yang likuid dan memiliki fundamental berkualitas tinggi. "Faktor yang perlu dicermati pada pekan depan antara lain perkembangan arus pelayaran di Selat Hormuz, yang belum sepenuhnya pulih, serta keberlanjutan implementasi reformasi pasar di Indonesia." (Ashmore)


Sumber : Admin