Bursa Eropa Terkoreksi, Pasar Khawatir Lonjakan Biaya AI dan Kenaikan Suku Bunga
Wednesday, June 24, 2026       03:37 WIB
  • STOXX 600 turun 0,73% akibat sentimen suku bunga dan AI.
  • Saham teknologi memimpin pelemahan pasar.
  • Saham defensif menguat, Bunzl naik 5,6%, sementara Signify jatuh 14,8%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melorot, Selasa, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve serta kekhawatiran investor terhadap meningkatnya belanja perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) memukul sentimen pasar.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,73 persen atau 4,64 poin menjadi 634,63, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Selasa (23/6) atau Rabu (24/6) dini hari WIB.
Indeks tersebut sempat memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan perdagangan, namun tetap berakhir di zona negatif. Bahkan, STOXX 600 sempat menyentuh level terendah sejak 12 Juni, dengan mayoritas sektor mencatat penurunan.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman melemah 0,98 persen atau 246,11 poin jadi 24.893,58, FTSE 100 Inggris turun 0,09 persen atau 9,00 poin ke 10.428,85 dan CAC Prancis menyusut 0,71 persen atau 59,40 poin menjadi 8.340,71.
Sentimen negatif juga terlihat di pasar global. Bursa Asia lebih dulu ditutup melemah, sementara indeks utama Wall Street mengalami penurunan tajam. Di pasar komoditas, harga minyak mentah merosot sekitar 1 persen dan emas anjlok lebih dari 2 persen.
Sektor teknologi menjadi penekan terbesar bagi STOXX 600 setelah menyusut 3,7 persen, mencatat penurunan harian terdalam sejak Februari. Pelemahan ini mencerminkan perubahan sikap investor terhadap saham-saham yang sebelumnya melesat berkat optimisme terhadap perkembangan teknologi AI.
Saham produsen semikonduktor Infineon dan STMicroelectronics masing-masing ambles 6,3 persen dan 8,5 persen. Sementara itu, perusahaan peralatan semikonduktor ASML dan Aixtron terkoreksi masing-masing 5,7 persen dan 8,3 persen.
Padahal, sektor teknologi Eropa merupakan salah satu sektor dengan kinerja terbaik sepanjang kuartal ini. Namun, kenaikan suku bunga memunculkan kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan yang mengandalkan pembiayaan utang untuk mendukung investasi dan ekspansi AI akan menghadapi tekanan yang lebih besar. Infineon dan STMicroelectronics termasuk di antara perusahaan yang baru-baru ini memanfaatkan pasar utang untuk memperoleh pendanaan.
Kepala Komunikasi Investasi Global UBS, Kiran Ganesh, mengatakan investor mulai mencermati keberlanjutan model bisnis perusahaan yang terus menambah utang sebelum mampu menghasilkan imbal hasil yang memadai dari investasi mereka.
Menurutnya, jika perusahaan harus terus meningkatkan pembiayaan melalui utang sebelum investasi tersebut menghasilkan keuntungan yang cukup, investor dapat mulai mempertanyakan kualitas profil utang dan keberlanjutan pertumbuhan laba perusahaan.
Ganesh menambahkan tren penerbitan utang untuk mendanai investasi AI akan menjadi faktor penting yang perlu dipantau investor dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Di sisi lain, pasar juga meningkatkan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Berdasarkan data LSEG , pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga the Fed sebesar 25 basis poin dalam waktu dekat, dengan peluang lebih dari 50 persen untuk kenaikan tambahan dengan besaran yang sama hingga akhir 2026.
Di Eropa, investor juga tetap berspekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada tahun ini. Ekspektasi tersebut bertahan meski Presiden ECB Christine Lagarde pada awal pekan berupaya meredakan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi lanjutan.
Di tengah tekanan pasar, sektor defensif justru mencatat penguatan. Saham kesehatan melompat 1,9 persen, sementara barang konsumsi, termasuk makanan dan minuman, melonjak 1,7 persen karena dianggap lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi dan suku bunga tinggi.
Sebaliknya, saham-saham pertambangan Eropa berkurang 3,3 persen seiring melemahnya harga logam mulia di pasar global.
Pada level individual, saham Bunzl menjadi pencetak kenaikan terbesar di STOXX 600 setelah melambung 5,6 persen. Distributor perlengkapan bisnis asal Inggris tersebut meningkatkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunannya menyusul kinerja semester pertama yang lebih kuat dari perkiraan.
Sementara itu, Signify, produsen pencahayaan terbesar di dunia, menjadi salah satu saham dengan kinerja terburuk setelah anjlok 14,8 persen. Penurunan tajam terjadi setelah perusahaan memperbarui strategi bisnisnya dengan menargetkan margin EBITA yang disesuaikan sekitar 10 persen pada 2029, target yang dinilai kurang memuaskan oleh sebagian investor. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin