Bursa Eropa Sentuh Level Terendah Dua Pekan, Terpukul Ancaman Tarif Trump
Wednesday, January 21, 2026       03:21 WIB
  • Bursa Eropa jatuh ke level terendah hampir dua pekan akibat kekhawatiran tarif AS terkait Greenland.
  • Ancaman tarif Trump memicu kecemasan perang dagang dan membuat investor tetap waspada.
  • Mayoritas sektor melemah, meski beberapa saham menguat berkat kinerja emiten.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di zona merah, Selasa, menyentuh level terendah hampir dalam dua pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ancaman tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland, yang memupus optimisme pasar pada awal bulan ini.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melemah 0,7% atau 4,26 poin menjadi 602,80, mencatat penurunan dua hari terbesar dalam dua bulan terakhir, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Selasa (20/1) atau Rabu (21/1) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks CAC 40 Prancis melorot 0,61% atau 49,44 poin jadi 8.062,58, level terendah satu bulan, sementara DAX Jerman merosot 1,03% atau 255,94 poin ke posisi 24.703,12 dan FTSE 100 Inggris berkurang 0,67% atau 68,57 poin menjadi 10.126,78.
Trump mengancam akan memberlakukan gelombang tarif yang semakin besar mulai 1 Februari terhadap delapan negara Eropa hingga Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran akan kembali terjadinya perang dagang transatlantik.
Meski sebagian pelaku pasar masih meragukan sejauh mana Trump akan merealisasikan ancaman tersebut, investor tetap waspada karena presiden AS itu belum menunjukkan tanda-tanda melunakkan retorikanya.
"Pasar sudah bereaksi, tetapi jelas masih ada ruang untuk pergerakan yang lebih besar jika retorika meningkat lebih jauh. Trump kemungkinan akan terus aktif menyampaikan pandangannya. Namun perlu diingat, dia akan berbicara di Davos besok, dan itu menjadi lokasi ideal baginya untuk menyampaikan pandangan globalnya secara penuh," ujar sekelompok analis Deutsche Bank yang dipimpin Jim Reid.
Para pembuat kebijakan utama dunia berkumpul di Davos, Swiss, pekan ini, untuk menghadiri pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF), yang akan dicermati secara ketat oleh pasar untuk mencari sinyal kebijakan ekonomi dan arah geopolitik global.
Kinerja Emiten
Selain isu geopolitik, sentimen pasar Eropa pekan ini juga dipengaruhi laporan kinerja emiten dan rilis data ekonomi.
Saham Renault Group melonjak 2,2% setelah produsen otomotif Prancis tersebut melaporkan volume penjualan melesat 3,2% pada 2025. Saham perusahaan energi TotalEnergies menguat 1,4%, meski perseroan memperkirakan penjualan minyak dan gas alam cair (LNG) kuartal keempat 2025 akan lebih rendah, namun dengan margin pengolahan bahan bakar yang lebih kuat.
Di Inggris, saham perusahaan pembayaran digital Wise melejit 16% berkat kinerja kuartal ketiga yang solid. Sementara itu, saham Qiagen melambung 12,4% setelah muncul laporan bahwa perusahaan tersebut tengah mempertimbangkan berbagai opsi strategis di tengah minat baru dari investor.
Secara sektoral, sebagian besar sektor di STOXX 600 berada di area negatif, dipimpin sektor properti yang anjlok 1,9%, tertekan kenaikan imbal hasil obligasi zona euro.
Saham grup barang mewah LVMH menyusut 2,2% setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis guna menekan Presiden Prancis Emmanuel Macron agar bergabung dalam inisiatif Board of Peace miliknya.
Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Citigroup menurunkan rekomendasi saham Eropa daratan menjadi "netral" untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu tahun. Citi menilai eskalasi ketegangan transatlantik dan ketidakpastian tarif melemahkan prospek investasi jangka pendek di pasar saham Eropa. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin