Bursa Eropa Menguat, Saham Teknologi dan AI Jadi Motor Penggerak
Friday, May 15, 2026       04:24 WIB
  • Bursa Eropa naik didorong saham teknologi dan semikonduktor.
  • Investor mencermati negosiasi AS-China dan konflik Timur Tengah.
  • Eropa dinilai tertinggal di sektor AI, sementara ECB masih berpeluang naikkan suku bunga.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa menguat, Kamis, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan, didorong lonjakan saham teknologi, meski investor masih berhati-hati memantau perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan China.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melompat 0,76 persen atau 4,63 poin menjadi 616,05, ditopang kenaikan hampir di seluruh sektor perdagangan, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Kamis (14/5) atau Jumat (15/5) dini hari WIB.
Sektor teknologi menjadi penggerak utama pasar dengan lonjakan 2,6 persen. Kenaikan dipimpin saham semikonduktor, di mana STMicroelectronics melesat 5,4 persen, BE Semiconductor melambung 3,3 persen, dan Infineon melejit 5,7 persen.
Indeks DAX Jerman memimpin penguatan bursa regional dengan kenaikan 1,32 persen atau 319,45 poin jadi 24.456,26, FTSE 100 Inggris naik 0,46 persen atau 47,58 poin ke posisi 10.372,93 dan CAC Prancis bertambah 0,93 persen atau 74,30 poin menjadi 8.082,27.
Saham raksasa perangkat lunak SAP turut melonjak 3,6 persen setelah Bank of America menyebut momentum bisnis cloud perusahaan dan pertumbuhan backlog sekitar 25 persen berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan dua digit. Bank tersebut juga menilai dukungan leverage operasional, pengembangan kecerdasan buatan (AI), serta potensi ekspansi modal dapat menjadi katalis tambahan bagi kinerja SAP.
Meski demikian, eksposur Eropa terhadap perusahaan perangkat keras AI dinilai masih tertinggal dibandingkan Amerika Serikat dan Asia. Kondisi ini membuat banyak investor global memilih mencari peluang investasi di luar pasar Eropa.
Kepala Global Equities and Real Assets Wells Fargo Investment Institute, Sameer Samana, mengatakan tema AI menjadi salah satu faktor utama yang menekan performa pasar Eropa dalam beberapa tahun terakhir sejak kemunculan ChatGPT pada akhir 2022.
Menurut dia, ketertinggalan Eropa dalam industri AI menjadi alasan paling konsisten di balik underperformance pasar kawasan tersebut. Selain itu, ketergantungan pada impor energi dan ketidakstabilan politik juga turut membebani sentimen investor.
Gejolak politik di Eropa kembali menjadi sorotan setelah Inggris menghadapi ketidakpastian baru menyusul pengunduran diri Wes Streeting dari jabatan menteri kesehatan di pemerintahan Partai Buruh. Situasi itu memunculkan pertanyaan mengenai kekuatan kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer.
Perhatian investor global juga tertuju pada pertemuan bilateral Amerika Serikat dan China di Beijing. Pasar berharap Presiden Donald Trump dapat mendorong China untuk membujuk Iran mencapai kesepakatan dengan Washington guna mengakhiri konflik yang telah memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menyentuh level USD100 per barel.
Head of Investment Strategy RBC Wealth Management, Frdrique Carrier, mengatakan pelaku pasar masih menunggu perkembangan pembicaraan di China dan tetap fokus terhadap krisis di Timur Tengah yang dinilai menjadi faktor penting bagi stabilitas pasar global.
Di sektor lain, saham perusahaan luxury brand Burberry anjlok 6,8 persen setelah melaporkan penjualan kuartal keempat yang sesuai ekspektasi pasar. Sebaliknya, saham Watches of Switzerland melambung 19,2 persen usai perusahaan memperkirakan laba operasional tahunan melampaui proyeksi analis.
Sementara itu, perusahaan investasi 3i Group ambles 12,7 persen setelah pertumbuhan penjualan perusahaan portofolio utamanya, Action, melambat menjadi 2,4 persen dalam 19 pekan hingga 10 Mei, dibandingkan 6,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi kebijakan moneter, Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) Philip Lane menyatakan kenaikan suku bunga kemungkinan masih diperlukan untuk mengatasi inflasi. Saat ini, pasar uang memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga lebih dari dua kali sepanjang 2026. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin

berita terbaru