- Bursa Eropa melemah dipicu aksi ambil untung dan ekspektasi suku bunga tinggi.
- Pasar masih memperkirakan The Fed dan ECB menaikkan suku bunga tahun ini.
- Saab dan SES menguat, sementara Associated British Foods melemah.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melemah, Rabu, setelah mencatatkan kinerja kuartalan terbaik dalam hampir lima tahun. Investor mulai mengambil sikap hati-hati menyusul meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga Federal Reserve akan bertahan lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, di tengah perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,38% atau 2,42 poin menjadi 639,31, sehari setelah membukukan kinerja kuartalan terbaik sejak Oktober 2020, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Rabu (1/7) atau Kamis (2/7) dini hari WIB.
Bursa regional utama berakhir variatif. Indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,18% atau 18,78 poin jadi 10.478,34 dan CAC Prancis menyusut 0,79% atau 66,70 poin ke posisi 8.337,29, sedangkan DAX Jerman naik 0,18% atau 44,47 poin menjadi 25.040,28.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi. Indeks teknologi STOXX melorot 1,2% setelah pada kuartal sebelumnya mencatatkan performa terbaik sejak akhir 2001. Reli tajam sebelumnya mendorong valuasi saham teknologi Eropa mendekati perusahaan teknologi sejenis di Wall Street, sehingga memicu aksi ambil untung.
Produsen peralatan semikonduktor asal Belanda, ASML , menjadi salah satu pemberat utama dengan penurunan saham 4,6%, sementara perusahaan semikonduktor Soitec turut terkoreksi tipis.
Schneider Electric, perusahaan penyedia peralatan berbasis kecerdasan buatan (AI), kehilangan 3,1% setelah mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi Cognite Holding, perusahaan perangkat lunak AI dan penyedia data industri non-publik, senilai USD3,1 miliar dalam transaksi tunai.
Head of Active Equity Generali Asset Management, Luca Fin, mengatakan sektor teknologi masih memiliki prospek positif dalam jangka panjang karena tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan laba perusahaan dan kinerja pasar saham.
Menurut dia, dalam beberapa kuartal mendatang kesenjangan pertumbuhan laba antara perusahaan-perusahaan Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan semakin menyempit. Kondisi tersebut berpotensi menarik kembali aliran dana investor internasional ke pasar Eropa dan menopang penguatan bursa di kawasan tersebut.
Di sisi kebijakan moneter, perhatian investor tertuju pada pernyataan Chairman Fed Kevin Warsh dalam forum European Central Bank (ECB) di Sintra, Portugal. Warsh menegaskan bank sentral AS baru akan memutuskan apakah suku bunga perlu dinaikkan ketika rapat kebijakan berikutnya dimulai, seraya kembali menolak memberikan panduan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Kepala Riset Pasar AJ Bell, Dan Coatsworth, mengatakan kekhawatiran utama pelaku pasar saat ini adalah kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Dia menilai, meski Warsh berupaya menghindari pemberian sinyal kebijakan, investor tetap berusaha menangkap setiap petunjuk kecil yang dapat memberikan gambaran mengenai langkah the Fed selanjutnya.
Berdasarkan data yang dihimpun LSEG , pelaku pasar memperkirakan baik the Fed maupun ECB masih berpeluang menaikkan suku bunga masing-masing sedikitnya 25 basis poin sebelum akhir tahun. Walau harga minyak mentah telah kembali ke level sebelum konflik Iran, pasar masih mengkhawatirkan tekanan inflasi yang berpotensi bertahan lebih lama.
Sentimen geopolitik juga menjadi perhatian setelah Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan teknis tidak langsung di Doha. Menurut sumber yang mengetahui jalannya perundingan dan seorang pejabat Iran, kedua negara berupaya mencapai kesepakatan mengenai kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mengamankan gencatan senjata yang lebih permanen.
Di tingkat emiten, pemilik jaringan ritel Primark, Associated British Foods, anjlok 3,2% setelah menyatakan laba tahunannya diperkirakan masih berada di bawah capaian tahun sebelumnya.
Sebaliknya, produsen peralatan pertahanan asal Swedia, Saab, melonjak 3,3% setelah memperoleh kontrak pengiriman 16 pesawat tempur Gripen E kepada Ukraina dengan nilai sekitar 24,6 miliar krona Swedia (USD2,54 miliar).
Saham perusahaan operator satelit SES yang tercatat di Bursa Paris menjadi pencetak kenaikan terbesar di indeks STOXX 600 dengan lompatan 10%. Penguatan tersebut dipicu pengumuman Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) yang akan melakukan pemungutan suara terkait penyelenggaraan lelang spektrum frekuensi baru pada 2027. Analis menilai langkah tersebut akan memberikan dampak positif bagi prospek bisnis SES. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin