Bursa Eropa Kembali Tertekan, Harga Minyak Tembus USD90 Picu Kekhawatiran Inflasi
Thursday, August 20, 2026       03:31 WIB
  • STOXX 600 turun 0,11% ke 651,16; DAX dan CAC 40 melemah.
  • Harga minyak di atas USD90 memicu kekhawatiran inflasi.
  • Pasar memperkirakan ECB berpeluang menaikkan suku bunga 50 bps.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melemah, Rabu, mendekati level terendah dalam hampir tiga pekan. Penguatan harga minyak serta kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi mengimbangi sentimen positif dari penurunan imbal hasil obligasi setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan peningkatan dukungan likuiditas untuk surat utang berjangka panjang.
Imbal hasil obligasi zona euro turun setelah Departemen Keuangan AS menyatakan akan menggandakan ukuran dukungan likuiditas untuk utang jangka panjang. Sebelumnya, imbal hasil obligasi global mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun, Selasa, yang mengguncang investor dan memicu aksi jual aset berisiko.
Imbal hasil obligasi acuan Jerman bertenor 30 tahun turun setidaknya 1 basis poin, sementara yield 10 tahun relatif tidak berubah. Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang menjadi salah satu acuan penting bagi harga hampir seluruh aset di pasar keuangan, termasuk suku bunga hipotek.
Namun, langkah tersebut belum cukup untuk memperbaiki sentimen pasar. Tekanan inflasi masih menjadi perhatian besar bagi Eropa yang sangat bergantung pada energi, sehingga prospek perekonomiannya turut tertekan.
"Dengan harga minyak di atas USD90 per barel, kekhawatiran inflasi masih bertahan. Kekhawatiran fiskal terkait membengkaknya utang Amerika juga masih ada," kata Fiona Cincotta, analis City Index.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi global, melambat pada Rabu berdasarkan data terbaru. Kondisi tersebut terjadi ketika Amerika dan Iran saling menyampaikan klaim berbeda mengenai apakah jalur perairan strategis tersebut masih terbuka.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,11% atau 0,74 poin menjadi 651,16, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Rabu (19/8) atau Kamis (20/8) dini hari WIB.
Sementara, bursa regional utama Eropa berakhir variatif. Indeks DAX Jerman melemah 0,14% atau 37,03 poin ke posisi 26.091,33 dan CAC Prancis berkurang 0,09% atau 7,45 poin jadi 8.501,91, sedangkan FTSE 100 Inggris menguat 0,14% atau 15,31 poin menjadi 10.743,35.
Sektor kedirgantaraan dan pertahanan menjadi penekan terbesar dengan koreksi 1,6%, sedangkan saham perbankan Eropa melorot 1,5%.
"Bank menghadapi sejumlah hambatan. Perkembangan terbaru terkait imbal hasil obligasi, kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Eropa, serta dampaknya terhadap rumah tangga dan dunia usaha meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh ECB," kata Cincotta.
Pelaku pasar kini memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin oleh Bank Sentral Eropa (ECB) hingga akhir tahun, berdasarkan data LSEG .
Penurunan indeks tertahan oleh kenaikan saham sektor sumber daya dasar sebesar 3,3% yang mengikuti penguatan harga logam mulia. Saham sektor kesehatan juga melompat 1,4%.
Sementara musim laporan keuangan perusahaan mulai mendekati akhir, ekspektasi terhadap pertumbuhan laba perusahaan yang tergabung dalam STOXX 600 justru meningkat. Berdasarkan data LSEG I/B/E/S, pertumbuhan laba kini diperkirakan mencapai 24,1%, naik dari estimasi 23,4% pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, perhatian investor kembali tertuju pada harga energi dan dampaknya terhadap inflasi.
Inflasi konsumen zona euro tercatat naik 0,2% sepanjang Juli, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Di Inggris, inflasi konsumen meningkat menjadi 2,9% pada Juli dari 2,6% pada Juni yang merupakan level terendah dalam 15 bulan. Data dari Office for National Statistics menunjukkan kenaikan tersebut mencerminkan peningkatan 13% pada batas harga energi yang ditetapkan regulator Ofgem bulan lalu.
Investor juga menantikan risalah pertemuan Federal Reserve pada Juli yang akan dirilis Rabu. Risalah tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Di antara saham individual, FLSmidth & Co melonjak 6,3% setelah perusahaan industri asal Denmark tersebut membukukan pendapatan kuartal II di atas perkiraan analis.
Sebaliknya, Rockwool anjlok 5% setelah produsen wol mineral asal Denmark itu meningkatkan proyeksi pendapatan 2026, tetapi kenaikan tersebut masih di bawah ekspektasi investor. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin