- STOXX 600 turun 0,5%, mencatat penurunan 2,5% sepanjang September.
- DAX, CAC 40, dan FTSE 100 masing-masing turun 0,79%, 0,89%, dan 0,29%.
- Inflasi AS yang lebih rendah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa mencatat penurunan bulanan pertama dalam enam bulan, Rabu, tertekan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi global yang mengurangi daya tarik aset berisiko. Investor juga mencermati data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan.
Indeks STOXX 600 pan-Eropa ditutup turun 0,5% atau 3,19 poin menjadi 634,89 setelah sempat menguat pada awal perdagangan. Sepanjang September, indeks tersebut anjlok 2,5% dan melorot 1% pada kuartal III-2026, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Rabu (30/9) atau Kamis (1/10) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman merosot 0,79% atau 200,02 poin jadi 25.199,19, FTSE 100 Inggris melemah 0,29% atau 30,71 poin ke posisi 10.606,00 dan CAC 40 Prancis kehilangan 0,89% atau 71,36 poin menjadi 7.964,51.
Lonjakan harga energi akibat perang Iran, memburuknya kondisi fiskal pemerintah, serta meningkatnya penerbitan obligasi mendorong sejumlah bank sentral utama, termasuk Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB), menaikkan suku bunga atau mengambil sikap yang lebih hawkish pada September.
"Segalanya dimulai dengan langkah yang salah sejak Jackson Hole pada akhir Agustus. Kevin Warsh lebih hawkish dari perkiraan kami dan membawa kami ke jalur kenaikan suku bunga, yang kemudian menentukan arah sepanjang bulan," ujar Chris Beauchamp, Chief Market Analyst IG Group.
Harga minyak melambung hampir 14% sepanjang September dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sejak Juli, seiring terhentinya pembicaraan Amerika-Iran yang bertujuan mengakhiri perang.
Sektor energi STOXX 600 menyusut 0,9% pada Rabu, tetapi masih membukukan kenaikan 2,7% sepanjang bulan lalu, menjadi sektor dengan kinerja terbaik dibandingkan sektor lainnya.
Di pasar obligasi, yield surat utang pemerintah Jerman bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan zona euro, turun untuk hari kedua berturut-turut. Namun, yield tersebut masih berada di sekitar level tertinggi sejak 2009.
Data terbaru menunjukkan inflasi Amerika meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Agustus. Kondisi tersebut mendorong pasar mengurangi spekulasi terhadap kenaikan suku bunga AS pada Oktober.
Steve Sosnick, Chief Market Analyst Interactive Brokers, mengatakan pergerakan pasar saat ini banyak dipengaruhi momentum dan pasar obligasi. "Sebagian besar pasar Eropa berada di level terbaiknya pada hari itu sebelum laporan PCE dirilis, kemudian bergerak turun mendekati garis datar," ujarnya.
Menurut Sosnick, pasar global saat ini semakin terfokus pada perdagangan saham terkait kecerdasan buatan (AI), sementara Eropa memiliki eksposur yang lebih kecil terhadap perkembangan industri AI dibandingkan Amerika.
Hampir seluruh sektor dalam STOXX 600 berakhir di zona merah. Saham perbankan turun 0,8%, sementara sektor industri melemah 0,7%. Sektor asuransi menjadi yang paling tertekan dengan kerugian 1,4%.
Sebaliknya, saham perusahaan utilitas Inggris melesat setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengumumkan sejumlah kebijakan untuk sektor tersebut sehari sebelumnya. Pennon, SSE, dan National Grid masing-masing melonjak antara 2% dan 2,6%, sementara indeks sektor utilitas secara keseluruhan menguat 0,6%.
Data ekonomi lainnya memperlihatkan perekonomian Inggris tumbuh lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya pada kuartal II 2026. Di Jerman, inflasi melompat ke level tertinggi sejak Desember 2023.
Di antara saham individual, Nordnet menguat 1,1% setelah J.P. Morgan kembali memberikan cakupan terhadap saham tersebut dengan rekomendasi "overweight".
Sementara itu, saham Greggs, jaringan restoran cepat saji terbesar di Inggris, melambung 8,2% setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba tahunannya. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin