Bursa Eropa Jatuh ke Level Terendah Empat Bulan, Saham Bank Terpukul Krisis Utang
Friday, October 09, 2026       03:36 WIB
  • STOXX 600 turun 0,75% ke level terendah hampir empat bulan.
  • Saham perbankan anjlok 2% akibat kenaikan yield dan kekhawatiran utang.
  • DAX turun 1,18%, CAC 40 -0,51%, FTSE 100 -0,16%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melemah pada perdagangan Kamis, seiring anjloknya saham perbankan ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Aksi jual obligasi kembali meningkat dan harga minyak bertahan tinggi, memicu kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi dapat menekan pertumbuhan ekonomi.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,75% atau 4,74 poin menjadi 625,51, level terendah dalam hampir empat bulan, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Kamis (8/10) atau Jumat (9/10) dini hari WIB.
Saham sektor perbankan Eropa merosot 2%. Deutsche Bank Jerman, Banco Santander Spanyol, Societe Generale Prancis, dan UniCredit Italia kembali tersungkur untuk hari kedua berturut-turut, seiring imbal hasil obligasi pemerintah zona euro meningkat mendekati puncak terbarunya.
Analis Senior Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, mengatakan tekanan terhadap saham perbankan Eropa mencerminkan meningkatnya kekhawatiran mengenai krisis utang di kawasan tersebut. Kondisi ini membebani prospek pertumbuhan ekonomi ketika kenaikan harga energi mendorong ekspektasi inflasi lebih tinggi.
Menurut Ozkardeskaya, Bank Sentral Eropa (ECB) juga diperkirakan tidak akan dapat memberikan dukungan yang cukup untuk meredakan tekanan pasar.
Indeks CAC 40 Prancis ditutup melorot 0,51% atau 39,52 poin jadi 7.729,69, level terendah dalam lebih dari enam bulan. Prancis menjadi pusat perhatian investor karena pemerintahnya masih kesulitan mengendalikan defisit anggaran yang melampaui 5% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara, DAX Jerman terkoreksi 1,18% atau 297,39 poin ke posisi 24.806,97 dan FTSE 100 Inggris berkurang 0,16% atau 16,90 poin menjadi 10.441,60.
Kekhawatiran Fiskal Meningkat
Imbal hasil obligasi pemerintah zona euro melonjak, Kamis, karena kenaikan harga energi memperbesar kekhawatiran inflasi. Investor juga terus melepas obligasi negara-negara dengan tingkat utang tinggi, termasuk Prancis dan Italia, sehingga premi imbal hasil atau biaya pinjaman kedua negara tersebut meningkat.
Direktur Riset XTB, Kathleen Brooks, mengatakan pasar obligasi negara-negara maju akan sulit mencatatkan kinerja positif ketika harga minyak berada di atas USD100 per barel, terutama bagi negara dengan beban utang yang besar.
Brooks menambahkan, Prancis masih menjadi perhatian utama investor. Imbal hasil obligasi negara tersebut diperkirakan terus meningkat dan bertahan pada level tinggi selama pemerintah belum mampu mengatasi persoalan fiskal, sementara ECB dinilai belum menunjukkan keinginan untuk turun tangan meredakan tekanan pasar.
Aksi jual obligasi secara global, yang dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral serta meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang pemerintah, mendorong imbal hasil obligasi di sejumlah negara zona euro ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Hampir seluruh sektor dalam indeks STOXX 600 bergerak di zona merah. Sektor energi menjadi salah satu pengecualian setelah harga minyak melambung lebih dari 3% akibat kekhawatiran berkepanjangan mengenai pasokan dari kawasan utama penghasil minyak di Timur Tengah.
Risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve menunjukkan para pejabat masih terpecah mengenai perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sementara itu, sejumlah pejabat ECB meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat dengan menyatakan bahwa tren inflasi yang mendasari menunjukkan kondisi yang relatif lebih terkendali.
Di antara saham individual, Argenx ambles 15,8%, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak Desember 2023. Perusahaan biofarmasi yang berbasis di Belanda tersebut menghentikan uji klinis pengobatan penyakit Sjgren setelah analisis menunjukkan uji coba itu kemungkinan tidak akan mencapai sasaran utamanya.
Kesehatan menjadi sektor dengan penurunan persentase terbesar, yakni 2,5%.
Sebaliknya, saham Tesco di London melesat 5,2% setelah peritel bahan makanan tersebut menaikkan batas bawah proyeksi laba setahun penuh. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin