- Bursa Eropa jatuh akibat kekhawatiran inflasi dari konflik Timur Tengah.
- Ekspektasi berubah: ECB diprediksi akan menaikkan suku bunga lebih cepat.
- Sentimen pasar memburuk karena lonjakan harga energi dan ketidakpastian global.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa ambruk, Kamis, menyentuh level terendah sejak Desember, setelah European Central Bank (ECB) memperingatkan bahwa inflasi berpotensi memburuk jika konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Pernyataan ini merupakan yang pertama dari ECB sejak konflik tersebut pecah, sekaligus menegaskan bahwa pergerakan harga aset global masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di kawasan itu. Eropa dinilai sangat rentan terhadap lonjakan harga energi dan gangguan pasokan.
Indeks saham pan-Eropa STOXX 600 ditutup anjlok 2,39% atau 14,29 poin menjadi 583,73, menghapus seluruh penguatan yang sempat terjadi di awal pekan, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (19/3) atau Jumat (20/3) dini hari WIB.
Ekonom Capital Economics, Jack Allen-Reynolds, mengatakan jika harga energi terus meningkat, kemungkinan besar ECB akan mengambil langkah lebih agresif. Menurut dia, ada peluang bank sentral menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir April, bahkan hingga 50 basis poin.
Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut, menyusul serangan Israel ke ladang gas South Pars milik Iran. Peristiwa ini mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat kekhawatiran akan konflik berkepanjangan.
Sebelum konflik terjadi, pelaku pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga hingga 2026. Namun, pandangan itu kini berubah drastis.
Berdasarkan data LSEG , pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini.
Di sisi lain, Bank of England juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, sembari menyatakan kesiapan untuk bertindak guna meredam risiko dari konflik. Sementara itu, Federal Reserve tetap menahan suku bunga pada Rabu dan memproyeksikan inflasi yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian global.
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh bursa utama Eropa. Pasar saham di Frankfurt, Madrid, London, Paris, dan Milan semuanya merosot lebih dari 2%. Indeks DAX Jerman merosot 2,82% atau 662,69 poin menjadi 22.839,56, FTSE 1oo Inggris menyusut 2,35% atau 241,79 poin jadi 10.063,50 dan CAC Prancis melorot 2,03% atau 162,01 poin ke posisi 7.807,87.
Namun, berbeda dengan tren kawasan, pasar saham Norwegia justru melambung 1,6% dan mencetak rekor tertinggi baru. Kenaikan ini didorong saham sektor energi yang mendominasi indeks negara tersebut.
Sebagian besar sektor dalam STOXX 600 berada di zona merah, kecuali saham energi. Saham pertambangan ambles 4,2% seiring melemahnya harga emas, sementara tekanan pada saham keuangan berkapitalisasi besar memperburuk kondisi pasar.
Indeks volatilitas Eropa--yang kerap disebut sebagai indikator ketakutan pasar--juga melesat untuk hari kedua berturut-turut.
Chief European Equity Strategist Morningstar, Michael Field, menilai meski peluang "buy the dip" terlihat menarik, kondisi pasar saat ini belum cukup kuat untuk mendorong reli. Dia menambahkan, kurangnya kejelasan arah menjadi faktor utama yang menahan kepercayaan investor. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin