ANTM Capai Laba Bersih Rp6,9 Triliun, Siapkan Capex Rp6 Triliun untuk EV Battery dan Logam Mulia
Sunday, September 13, 2026       19:26 WIB

AI News - PT Aneka Tambang Tbk melaporkan laba bersih sebesar Rp6,9 triliun pada semester I 2026, naik 34% YoY, sekaligus menyiapkan belanja modal sekitar Rp6 triliun untuk proyek baterai kendaraan listrik dan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik.

Poin Penting

  • Laba bersih semester I 2026: Rp6,9 triliun (pertumbuhan 34% YoY).
  • Net profit margin meningkat menjadi 11% dari 8,7% periode sebelumnya.
  • Rencana belanja modal tahun 2026: Rp6 triliun untuk EV battery dan logam mulia.
  • Penjualan emas semester I 2026: 18,1 ton menghasilkan pendapatan Rp50,39 triliun.
  • Produksi bijih nikel semester I 2026: 7,78 juta wmt dengan penjualan 6,77 juta wmt untuk pasar domestik.

Bagaimana Laba Bersih dan Margin Meningkat pada Semester I 2026?


Bloomberg Technoz melaporkan bahwa mencatat laba bersih sebesar Rp6,9 triliun pada semester I 2026, naik 34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara pendapatan total mencapai sekitar Rp62,7 triliun, hanya tumbuh 6%. Kenaikan laba tersebut didorong oleh perbaikan net profit margin (NPM) yang naik menjadi 11% dari 8,7% pada semester sebelumnya. Peningkatan margin mencerminkan efektivitas pengendalian biaya operasional, termasuk inventory cost, logistik, dan cash cost, sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Arini Kasmira. Artinya, setiap tambahan pendapatan berhasil dikonversi menjadi profit yang lebih sehat, memperkuat posisi keuangan dalam menghadapi volatilitas harga komoditas.

Apa Rencana Investasi Strategis untuk Memperkuat Bisnis Emas dan EV Battery?


Menurut laporan Bloomberg Technoz, menyiapkan belanja modal sekitar Rp6 triliun pada tahun 2026, yang akan difokuskan pada pengembangan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan kapasitas 30 ton emas per tahun serta proyek-proyek baterai kendaraan listrik (EV battery) termasuk HPAL di Buli dan RKEF . Proyek HPAL , dimana memegang 30% kepemilikan, diperkirakan akan menghasilkan 55.000-60.000 ton mixed hydroxide precipitate per tahun dengan investasi US$1,9 miliar, sementara RKEF dengan kepemilikan 40% menargetkan produksi 88.000 ton nickel pig iron per tahun melalui delapan line. Investasi tersebut dipilih berdasarkan indikator keuangan seperti IRR, NPV, dan WACC , memastikan tingkat pengembalian yang optimal bagi pemegang saham. Dengan demikian, berupaya menambah nilai tambah pada rantai nilai mineral sekaligus memperluas kehadirannya di sektor kendaraan listrik.

Seberapa Signifikan Kontribusi Bisnis Emas serta Produksi Nikel terhadap Kinerja ?


Stockwatch mencatat bahwa penjualan emas pada semester I 2026 mencapai sekitar 18,1 ton, menghasilkan pendapatan sebesar Rp50,39 triliun, yang menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan laba . Di sisi lain, produksi bijih nikel tercatat 7,78 juta wet metric ton (wmt) selama periode yang sama, dengan penjualan sebesar 6,77 juta wmt yang seluruhnya dipasarkan ke dalam negeri, menegaskan fokus pada pemenuhan kebutuhan pasar domestik. Penguatan rantai nilai nikel meliputi pengembangan fasilitas HPAL dan RKEF , yang diharapkan meningkatkan nilai tambah serta mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik. Kombinasi kontribusi kuat dari emas dan nikel memperkuat diversifikasi portofolio komoditas , menambah stabilitas pendapatan di tengah dinamika harga global.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News
An error occurred.