Yen Tembus Level Kritis 160, Jepang Kembali Siaga Intervensi Pasar
Thursday, June 04, 2026       04:47 WIB
  • Dolar AS menguat di tengah konflik Timur Tengah.
  • Yen melemah ke level 160 per dolar.
  • Pasar menanti data tenaga kerja AS.

Ipotnews - Penguatan dolar AS yang didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menekan nilai tukar yen hingga menyentuh level psikologis 160 yen, Rabu. Pergerakan tersebut memicu peringatan lisan dari otoritas Jepang dan meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar terhadap kemungkinan intervensi baru di pasar valuta asing.
Dolar AS terakhir tercatat menguat 0,07 persen ke posisi 160,015 yen, membawa mata uang Jepang kembali ke level yang sebelumnya mendorong pemerintah dan Bank of Japan (BoJ) melakukan intervensi besar-besaran, demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (3/6) atau Kamis (4/6) pagi WIB.
Tekanan terhadap yen terjadi setelah konflik di kawasan Teluk kembali memanas. Amerika Serikat menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah sejumlah negara tetangga di kawasan, meski seluruh rudal tersebut dilaporkan gagal mencapai sasaran. Sebagai respons, militer AS melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm di Iran.
Mandeknya upaya diplomasi antara Washington dan Teheran turut memperburuk sentimen pasar global. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, dolar AS kembali menjadi aset safe-haven utama yang diburu investor.
Sebaliknya, yen justru cenderung melemah ketika harga minyak meningkat. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, Jepang menghadapi risiko tekanan ekonomi yang lebih besar saat harga minyak dunia melonjak.
Kembalinya yen ke level 160 per dolar menghapus seluruh penguatan yang sempat terjadi setelah intervensi besar pemerintah Jepang senilai 11,7 triliun yen atau sekitar USD73 miliar pada bulan lalu. Intervensi tersebut merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah Jepang dan bertujuan menahan kejatuhan mata uang domestik.
Chief Market Strategist Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, mengatakan pasar menyadari risiko intervensi dari Bank of Japan semakin besar, namun hal itu belum cukup untuk menghalangi aksi jual terhadap yen.
Menurut Chandler, intervensi yang dilakukan pada April dan Mei hanya memberikan efek sementara. Dia menilai langkah tersebut tidak berhasil membeli banyak waktu bagi otoritas Jepang untuk menstabilkan nilai tukar.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi kemudian menegaskan pemerintah siap merespons pergerakan nilai tukar apabila diperlukan. Pernyataan tersebut sempat memberikan dukungan bagi yen sebelum kembali melemah mendekati level 160 per dolar.
Sementara itu, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengindikasikan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. Dia menyatakan bank sentral perlu mempertimbangkan keuntungan dan risiko kenaikan suku bunga apabila ancaman inflasi lebih besar dibandingkan risiko perlambatan ekonomi.
Kepala Strategi Valuta Asing Scotiabank, Shaun Osborne, menilai komentar Ueda bernada hawkish karena mengisyaratkan suku bunga kebijakan Jepang saat ini masih berada di bawah tingkat netral dan berpotensi dinaikkan lebih lanjut.
Tidak hanya yen, mata uang utama lainnya juga melemah terhadap dolar AS. Euro turun 0,27 persen ke USD1,15995, sementara poundsterling melorot 0,34 persen menjadi USD1,3419.
Secara keseluruhan, Indeks Dolar AS (Indeks DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama naik 0,22 persen ke posisi 99,516.
Perang yang berkepanjangan di Timur Tengah dan tingginya harga energi telah mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter global. Jika sebelumnya investor memperkirakan berbagai bank sentral utama akan memangkas suku bunga, kini pasar justru mulai mengantisipasi potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi.
Perhatian investor saat ini juga tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat. Data tersebut dipandang sebagai indikator penting yang dapat menentukan arah kebijakan Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.
Sebelumnya, data yang dirilis Selasa menunjukkan jumlah lowongan kerja di Amerika Serikat meningkat paling besar dalam lima tahun terakhir, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih kuat.
Makro Strategist SEB, Gustav Helgesson, mengatakan data nonfarm payrolls berpotensi menjadi katalis penting bagi pergerakan dolar. Jika data memperlihatkan pasar tenaga kerja tetap solid, the Fed dapat menjauh dari kecenderungan pelonggaran kebijakan dan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Pasar saat ini memperkirakan total kenaikan suku bunga the Fed sekitar 19 basis poin hingga akhir tahun. Bahkan, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin telah sepenuhnya diperhitungkan pasar untuk Maret tahun depan.
Di kawasan Asia Pasifik, mata uang komoditas turut tertekan. Dolar Australia turun 0,69 persen ke level USD0,713, sementara dolar Selandia Baru merosot 1,02 persen jadi USD0,5865. (Reuters/AI)

Sumber : Admin