- Dolar menguat, yen mendekati 160 dan memicu risiko intervensi Jepang.
- Penguatan dolar didorong ketegangan AS-Iran dan kenaikan harga energi.
- Pasar menanti arah kebijakan BoJ dan data tenaga kerja AS.
Ipotnews - Dolar AS kembali menguat, Rabu, mendorong yen Jepang melemah hingga mendekati level psikologis 160. Pelemahan ini memicu peringatan verbal dari otoritas Jepang yang kembali membuka kemungkinan intervensi di pasar valuta asing, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Kenaikan dolar dipicu meningkatnya permintaan aset safe-haven setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat melaporkan, Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara tetangga di kawasan, meski seluruhnya gagal mencapai target.
Sebagai respons, Washington mengklaim telah melakukan serangan balasan ke Pulau Qeshm, Iran. Di saat yang sama, negosiasi diplomatik antara kedua negara masih mengalami kebuntuan, demikian laporan Reuters, Rabu (3/6).
Dalam kondisi tersebut, dolar AS cenderung menguat karena dianggap lebih tahan terhadap guncangan harga energi, sementara yen melemah karena Jepang sangat bergantung pada impor energi. Kenaikan harga minyak akibat konflik juga memperburuk tekanan terhadap mata uang Jepang.
Pada perdagangan Rabu, yen sempat menyentuh level 160 per dolar, titik yang sebelumnya menjadi perhatian utama pasar dan pernah memicu intervensi besar oleh pemerintah Jepang. Sekitar sebulan lalu, Tokyo melakukan intervensi senilai 11,7 triliun yen (USD73 miliar) untuk menopang mata uangnya.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan pemerintah siap mengambil tindakan yang diperlukan untuk merespons pergerakan nilai tukar yang berlebihan. Setelah pernyataan tersebut, yen sedikit menguat dan terakhir diperdagangkan di level 159,66 per dolar.
Menurut Gustav Helgesson, analis makro SEB, faktor utama pelemahan yen saat ini adalah guncangan neraca perdagangan akibat harga energi yang tinggi. Dia menilai, jika Selat Hormuz kembali dibuka dan risiko geopolitik mereda, tekanan terhadap yen kemungkinan akan berkurang.
Dari sisi kebijakan moneter, perhatian pasar kini tertuju pada Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda yang dijadwalkan memberikan pidato penting terkait kemungkinan kenaikan suku bunga pada Juni. Pernyataan tersebut dinilai dapat memberi arah baru bagi pasar valuta asing Jepang.
Di pasar mata uang global, pergerakan relatif terbatas. Euro melemah tipis 0,1 persen ke posisi USD1,1620, sementara poundsterling Inggris stagnan di USD1,3460.
Data inflasi zona euro yang meningkat akibat harga energi dan jasa memperkuat ekspektasi Bank Sentral Eropa (ECB) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Kombinasi konflik Timur Tengah dan harga energi yang tinggi juga mendorong perubahan ekspektasi kebijakan moneter global.
Investor kini mulai kembali memperhitungkan kemungkinan pengetatan suku bunga di berbagai bank sentral utama, berbalik dari ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sempat mendominasi sebelum konflik meningkat.
Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, tercatat stabil di 99,29.
Sementara itu, data pasar tenaga kerja Amerika Serikat menjadi fokus utama investor, dengan rilis private payrolls dan data nonfarm payrolls yang akan menentukan arah ekspektasi kebijakan Federal Reserve ke depan.
Di sisi lain, franc Swiss melemah tipis terhadap dolar dan euro. Analis ING, Chris Turner, menyebut perubahan ekspektasi terhadap kebijakan the Fed dapat memicu pembalikan posisi pada aset-aset yang sebelumnya diuntungkan dari narasi pelemahan dolar, termasuk franc Swiss, emas, dan bitcoin. (Reuters/AI)
Sumber : Admin