- Yen melemah setelah efek intervensi pemerintah Jepang mulai mereda.
- Dolar AS stabil jelang data tenaga kerja dan isu Iran-AS.
- Pasar menunggu arah suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik.
Ipotnews - Pasar mata uang bergerak relatif terbatas, Kamis, dengan yen melemah setelah sebagian keuntungan akibat intervensi pemerintah mulai terkikis.
Sementara, dolar AS bertahan di dekat level terendah dalam enam pekan karena investor menunggu perkembangan lebih lanjut terkait proposal kesepakatan Amerika Serikat-Iran serta laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat.
Yen diperdagangkan sedikit melemah ke posisi 157,88 per dolar setelah mengalami penurunan moderat dalam dua sesi terakhir. Mata uang Jepang tersebut mengembalikan sebagian keuntungan yang diperoleh setelah intervensi pasar, ketika yen sempat melesat hingga 155,20 per dolar pada Senin, demikian laporan Reuters, di London, Kamis (6/8).
Meski demikian, posisi yen masih jauh lebih kuat dibandingkan level terendah dalam beberapa dekade yang hampir menyentuh 164 per dolar pada Juli.
Kepala Ekonom Capital Economics, Jonas Goltermann, menilai langkah intervensi kali ini memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan penguatan yen dibandingkan intervensi sebelumnya.
"Posisi pasar yang terlalu melebar, keterlibatan Amerika Serikat, serta fakta bahwa yen secara historis masih undervalued menunjukkan putaran intervensi saat ini memiliki peluang lebih besar untuk menopang yen dalam jangka waktu lebih lama dibandingkan beberapa intervensi sebelumnya," ujar Goltermann.
Sementara itu, euro bergerak stabil di USD1,1544, sedangkan poundsterling melemah 0,1 persen jadi USD1,3454. Dolar Selandia Baru dan Australia masing-masing turun 0,2 persen, diperdagangkan USD0,5873 dan USD0,7039.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY) yang mengukur pergerakan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,1 persen menjadi 99,76. Penguatan tersebut terjadi setelah menyentuh level terendah dalam enam pekan, Senin.
Pantau Selat Hormuz
Perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan geopolitik di kawasan Teluk setelah laporan Reuters menyebutkan proposal kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri konflik Amerika Serikat-Iran berpotensi memberikan Teheran kendali terhadap lalu lintas kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.
Namun, hingga kini belum ada komentar resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait proposal tersebut. Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah hampir tercapai. Meski demikian, sejumlah pejabat AS berulang kali menegaskan Washington tidak akan menyetujui pengaturan yang memberikan Iran kendali atas salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Harga minyak mentah Brent bergerak stabil di kisaran USD79,50 per barel, mendekati level yang terakhir terlihat ketika Amerika dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara pada Juni.
Kepala Strategi Valuta Asing National Australia Bank, Ray Attrill, mengatakan pasar saat ini berada dalam kondisi menunggu dan melihat perkembangan selanjutnya.
"Pasar saat ini benar-benar berada dalam mode mengamati dan menunggu. Kita belum melihat volatilitas pasar minyak yang dalam beberapa hari dan pekan terakhir menjadi pendorong utama sebagian besar pergerakan pasar," kata Attrill.
Data Payroll Jadi Fokus
Selain perkembangan geopolitik, investor kini mengalihkan perhatian pada laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang dinilai dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Perhatian meningkat setelah data terbaru menunjukkan sektor jasa AS masih tumbuh kuat pada Juli, meski ekspansi lapangan kerja di sektor tersebut mengalami perlambatan.
The Fed yang terpecah mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan lalu. Namun, Chairman Kevin Warsh tetap menegaskan komitmen kuat the Fed untuk menurunkan inflasi, sehingga membuka peluang perubahan kebijakan, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
"Setiap rilis data setelah pertemuan the Fed pada Juli menjadi sangat penting," ujar analis ING, Francesco Pesole.
Menurut dia, laporan payroll yang dirilis Jumat dapat memberikan dampak besar terhadap pasangan dolar-yen. Jika data memperlihatkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan, investor kemungkinan kembali meningkatkan posisi beli spekulatif terhadap dolar terhadap yen.
Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan laporan ketenagakerjaan Juli akan menunjukkan pertumbuhan nonfarm payrolls 80.000 pekerjaan, meningkat dibandingkan kenaikan 57.000 pekerjaan pada Juni. Tingkat pengangguran diprediksi tetap berada di level 4,2 persen.
Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur Fed Lisa Cook, Rabu, mengatakan dirinya terbuka terhadap kemungkinan bank sentral perlu menaikkan target suku bunga jangka pendek untuk menghadapi tingkat inflasi yang masih terlalu tinggi.
Sementara itu, Presiden Fed San Francisco Mary Daly menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan pekan lalu untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil. Dia menilai bank sentral masih membutuhkan lebih banyak data sebelum menentukan langkah pada pertemuan September. (Reuters/AI)
Sumber : Admin