Wall Street Nyaris Tak Bergerak! Isu Tarif Trump dan Data Ekonomi Bikin Investor Galau
Saturday, July 19, 2025       08:32 WIB

Ipotnews - Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup nyaris tak berubah pada Jumat (18/7) akhir pekan ini, setelah sempat tergelincir akibat laporan Financial Times yang menyebut Presiden AS Donald Trump mendorong tarif baru yang tinggi terhadap produk-produk Uni Eropa.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan tarif minimum antara 15% hingga 20% dalam kesepakatan dagang dengan blok Eropa. Kabar ini sempat menekan pasar sebelum akhirnya sebagian besar pulih.
Indeks S&P 500 turun tipis 0,57 poin (0,01%) menjadi 6.296,79, sementara Nasdaq naik 10,01 poin (0,05%) ke level 20.895,66. Di sisi lain, Dow Jones merosot 142,30 poin (0,32%) ke 44.342,19.
Dalam beberapa pekan terakhir, S&P 500 dan Nasdaq terus mencetak rekor baru, karena investor tampaknya mulai bersikap lebih netral terhadap ancaman tarif dari Trump dan yakin bahwa dampaknya terhadap ekonomi AS tidak akan separah yang dikhawatirkan sebelumnya.
Namun demikian, pekan ini menjadi ujian penting untuk melihat bagaimana kebijakan ekonomi Trump mulai meresap ke dalam perekonomian secara lebih luas.
"Orang-orang mulai lelah menanggapi setiap kabar soal tarif atau tenggat waktu, dan kini lebih fokus melihat bukti nyata dari dampaknya melalui data," ujar Greg Boutle, Kepala Strategi Ekuitas dan Derivatif AS di BNP Paribas.
Data ekonomi terbaru memberikan sinyal yang beragam: penjualan ritel yang kuat, inflasi konsumen yang meningkat, serta harga produsen yang datar untuk bulan Juni. Indeks Sentimen Konsumen dari University of Michigan juga menunjukkan kenaikan bulan ini, meskipun konsumen tetap cemas terhadap tekanan harga di masa depan.
Musim laporan keuangan perusahaan juga dimulai minggu ini, memberikan kesempatan bagi korporasi AS untuk menunjukkan apakah tarif berdampak nyata terhadap bisnis mereka atau tidak.
Saham 3M merosot 3,7% setelah menyatakan bahwa dampak tarif kemungkinan baru akan terasa pada paruh kedua tahun ini.
Dari 59 perusahaan di indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja kuartal kedua, sekitar 81,4% berhasil melampaui ekspektasi pendapatan Wall Street, menurut data dari LSEG I/B/E/S.
Di antara yang mencatat hasil positif pada Jumat adalah Charles Schwab yang naik 2,9% setelah membukukan laba lebih tinggi, serta Regions Financial yang melonjak 6,1% setelah menaikkan proyeksi pendapatan bunga untuk tahun 2025.
Namun, pencapaian di atas ekspektasi bukan jaminan harga saham akan naik. Saham American Express turun 2,3% meskipun mencatat laba kuartalan yang melampaui prediksi. Saham Netflix juga merosot 5,1% meskipun sukses besar serial "Squid Game" membantu perusahaan mengungguli ekspektasi laba, sekaligus menaikkan proyeksi pendapatan tahunan.
Menurut Boutle, meski tidak semua saham merespons laporan keuangan dengan kenaikan harga, pasar secara keseluruhan tetap menunjukkan penguatan bertahap. Ia menambahkan, kenaikan signifikan kemungkinan baru akan terjadi jika sejumlah perusahaan besar mencetak hasil yang benar-benar mengesankan.
Saham-saham kripto turut naik setelah DPR AS meloloskan rancangan undang-undang yang akan membentuk kerangka regulasi untuk mata uang kripto. Robinhood Markets naik 4,1%, sedangkan Coinbase Global menguat 2,2%.
Sektor utilitas menjadi penopang utama S&P 500 hari ini, dengan kenaikan 1,7% yang mendorong indeks ke penutupan rekor tertinggi.
Sebaliknya, sektor energi mencatat penurunan terbesar, yakni 1%. Saham SLB turun 3,9% setelah melaporkan laba kuartalan yang lebih rendah dan memberikan proyeksi yang mengecewakan. Exxon Mobil juga merosot 3,5% setelah kalah dalam gugatan hukum penting terkait akuisisi Hess oleh Chevron.
Secara mingguan, indeks S&P 500 naik 0,59%, Nasdaq menguat 1,5%, dan Dow Jones mencatat penurunan tipis sebesar 0,07%.
(reuters)

Sumber : admin