- Harga minyak Brent dan WTI melonjak sekitar 6% setelah Donald Trump menyatakan gencatan senjata AS-Iran telah berakhir dan menolak melanjutkan negosiasi dengan Teheran.
- Ketegangan meningkat setelah AS menyerang Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz, Iran menilai aksi tersebut melanggar kesepakatan damai.
- Pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan minyak dan kenaikan inflasi, yang berpotensi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Ipotnews - Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus melesat 6,25% menjadi USD74,83 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September menguat 6% menjadi USD78,64 per barel.
Laman CNBC , RAbu (8/7), melaporkan, dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal Mark Rutte di sela-sela KTT di Ankara, Turki, Rabu ini, Trump ditanya apakah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berakhir.
"Menurut saya, ya, itu sudah berakhir. Saya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Bagi saya, semuanya sudah selesai," ujar Trump seperti dikutip CNBC .
Ia menambahkan bahwa delegasi Amerika Serikat sebenarnya ingin merundingkan kesepakatan damai, tetapi ia menilai negosiasi dengan pihak Iran hanya membuang waktu.
Pernyataan Trump disampaikan setelah militer AS melancarkan "serangkaian serangan besar" terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang sedang melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Washington sebelumnya memperingatkan bahwa Teheran akan menghadapi "konsekuensi besar" karena menyerang jalur pelayaran komersial.
"Serangan ini merupakan respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Agresi Iran tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata," demikian pernyataan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui platform X.
Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai kedua negara bulan lalu sempat membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial setelah berbulan-bulan mengalami gangguan.
Sebagai sinyal memburuknya hubungan kedua negara, Departemen Keuangan AS pada Selasa mencabut pengecualian ( waiver ) yang sebelumnya mengizinkan Iran menjual minyaknya.
"Iran hanya akan memperoleh manfaat jika menunjukkan perilaku yang baik," ujar seorang pejabat AS kepada CNBC . "Tindakan Iran di Selat Hormuz sama sekali tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat dan akan ada konsekuensinya."
Dalam pernyataan hari ini, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan AS sebagai "pelanggaran berat terhadap Nota Kesepahaman (MoU)" yang disepakati kedua negara bulan lalu untuk mengakhiri perang.
"Angkatan bersenjata Republik Islam Iran, sebagaimana telah berulang kali dibuktikan, tidak akan ragu mempertahankan integritas wilayah, kedaulatan, dan keamanan nasional Iran dari agresi militer Amerika Serikat," demikian bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip CNBC .
Menurut Joint Maritime Information Center yang dipimpin AS, tiga kapal diserang di atau di sekitar Selat Hormuz pada Selasa kemarin. Lembaga itu kemudian menaikkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut menjadi "parah" ( severe ) dan memperingatkan bahwa aksi permusuhan lanjutan dari Iran masih sangat mungkin terjadi.
Andrew Jackson, analis strategi dari Ortus Advisors, mengatakan Iran kemungkinan tidak berkepentingan untuk segera mencapai kesepakatan karena posisi tawarnya terhadap pemerintahan Trump justru semakin menguat menjelang November, meskipun serangan terbaru itu juga bertepatan dengan prosesi pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pemilu paruh waktu Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung pada November. Menurut Jackson, kenaikan inflasi akibat konflik di Timur Tengah dapat meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Trump.
"Lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan kemungkinan Federal Reserve harus mengambil sikap moneter yang lebih hawkish karena inflasi berpotensi bertahan lebih lama," ujarnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik 5 basis poin menjadi 4,581%. ( CNBC /AI)
Sumber : admin