Trump Ancam Serangan Baru ke Iran, Minyak Melambung Lima Persen
Thursday, July 09, 2026       03:48 WIB
  • Brent naik 5,2% ke USD78,02 per barel, WTI menguat 4,4%.
  • Harga minyak melonjak usai ancaman serangan baru AS ke Iran.
  • Larangan ekspor solar Rusia ikut menopang reli.

Ipotnews - Harga minyak melambung 5%, Rabu, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dapat semakin menghambat lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dunia.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melesat USD3,86 atau 5,2% menjadi USD78,02 per barel, level tertinggi sejak 19 Juni, demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (8/7) atau Kamis (9/7) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melonjak USD3,08 atau 4,4% menjadi USD73,52 per barel, tertinggi sejak 22 Juni.
Trump menyatakan kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu untuk mengakhiri perang dengan Iran telah berakhir. Dia juga mengatakan Amerika Serikat kemungkinan akan melancarkan serangan baru pada Rabu malam sebagai respons atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz.
Meski demikian, Trump kemudian menegaskan Amerika Serikat tidak berniat memulai perang terbuka dengan Iran. Pernyataan tersebut membuat reli harga minyak sedikit mereda setelah sebelumnya sempat melejit hampir 9% pada perdagangan intraday.
Analis RBC Capital Markets menilai memanasnya kembali ketegangan di kawasan tersebut kemungkinan akan semakin membatasi jumlah kapal yang bersedia melintasi Selat Hormuz karena meningkatnya risiko keamanan.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sekitar 20% pasokan minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Sejak konflik berlangsung, Iran mempertahankan kontrol ketat atas pergerakan kapal di jalur pelayaran strategis tersebut sehingga sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah terpaksa memangkas produksi jutaan barel karena tidak lagi mampu mengekspor minyak dalam volume seperti sebelumnya.
Head of Geopolitical Analysis Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan perkembangan dalam beberapa hari terakhir secara fundamental mengurangi keyakinan bahwa gencatan senjata selama 60 hari yang berlaku saat ini dapat berkembang menjadi kesepakatan damai permanen.
Di pasar produk olahan minyak, kontrak berjangka diesel ultra rendah sulfur (ultra-low sulfur diesel/ULSD) Amerika Serikat meroket lebih dari 14% dalam perdagangan intraday setelah Rusia memberlakukan larangan ekspor minyak solar pada Rabu.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah Rusia untuk menjaga pasokan bahan bakar domestik setelah serangkaian serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang minyak memicu kelangkaan bensin dan lonjakan harga di pasar dalam negeri.
Pada hari yang sama, pejabat Ukraina dan Rusia melaporkan drone Ukraina menyerang tiga kilang minyak Rusia, kapal tanker Rusia di Laut Azov, serta sejumlah stasiun pemompaan pipa minyak dalam salah satu gelombang serangan terbesar yang menjangkau wilayah dari perbatasan Ukraina hingga Pegunungan Ural.
Lonjakan harga solar tersebut mendorong spread crack 3-2-1 Amerika Serikat, yang menjadi tolok ukur utama margin keuntungan kilang minyak, mencapai rekor tertinggi berdasarkan data LSEG sejak 2001.
Sementara itu, data Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat menunjukkan persediaan bahan bakar distilat, yang mencakup solar dan minyak pemanas, anjlok hampir 5 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut dipicu kuatnya permintaan domestik dan tingginya volume ekspor.
Di sisi lain, laporan EIA juga memperlihatkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat secara tak terduga justru mengalami kenaikan pada pekan lalu, berlawanan dengan ekspektasi pasar. (Reuters/AI)

Sumber : Admin