- Transaksi timah ekspor melalui JFX mencapai Rp4,06 triliun pada Agustus 2026, memperkuat kesiapan BMKS yang ditargetkan beroperasi 1 Januari 2027.
- Lebih dari 95 persen transaksi timah nasional tercatat melalui JFX, melibatkan lebih dari 60 pelaku usaha aktif.
- Transaksi multilateral JFX mencapai 105.686 lot senilai Rp22,09 triliun sepanjang 1-29 Agustus 2026.
Ipotnews - Transaksi perdagangan timah ekspor yang mencapai sekitar Rp4,06 triliun di sepanjang Agustus 2026 semakin memperkuat fondasi Indonesia dalam mempersiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis ( BMKS ), yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.
Perdagangan tersebut berlangsung melalui Jakarta Futures Exchange (JFX) dengan volume mencapai 4.210 lot. Aktivitas tertinggi tercatat pada 23-29 Agustus 2026, dengan volume perdagangan 1.405 lot senilai Rp1,34 triliun. Capaian ini melanjutkan perkembangan pasar fisik timah yang dibangun melalui bursa sejak 2019.
Menurut Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya di Jakarta, Kamis (3/9), selama lima tahun pertama penyelenggaraan bursa tersebut, lebih dari 95 persen transaksi timah nasional telah tercatat melalui JFX. Perdagangan melalui bursa juga sudah melibatkan lebih dari 60 pelaku usaha aktif, termasuk pembeli dari berbagai negara.
Kanca menilai, perkembangan pasar timah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fondasi yang dapat dimanfaatkan dalam mempersiapkan BMKS . "Sepanjang 2025, sekitar 99 persen transaksi timah nasional sudah dilakukan melalui JFX. Artinya, untuk timah kita sudah memiliki pasar yang berjalan, pelaku yang aktif, serta mekanisme perdagangan yang digunakan oleh industri. Fondasi seperti ini yang menurut kami dapat dimanfaatkan dan diperkuat untuk mempercepat kesiapan BMKS ," paparnya.
Pada pekan terakhir Agustus, aktivitas perdagangan timah meningkat di tengah koreksi harga. Volume transaksi pada 23-29 Agustus mencapai 1.405 lot atau melonjak 65,29 persen dibandingkan 850 lot pada pekan sebelumnya. Nilai transaksi juga tercatat meningkat 62,76 persen, dari Rp824,35 miliar menjadi Rp1,34 triliun.
Pada periode yang sama, harga rata-rata transaksi timah di JFX terkoreksi 1,54 persen. Pergerakan ini sejalan dengan harga rata-rata Tin Ingot di London Metal Exchange (LME) yang menurun 1,2 persen, dari USD55.891 menjadi USD55.223 per ton.
Bagi JFX, ucap Kanca, aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa sejumlah fungsi yang dibutuhkan dalam perdagangan komoditas strategis melalui bursa telah berjalan di Indonesia. Pada perdagangan timah, sistem perdagangan telah terhubung dengan proses kliring dan penyelesaian transaksi, pengawasan dan pelaporan.
Kanca menyatakan, ekosistem tersebut juga telah mempertemukan produsen dan penjual Indonesia dengan pembeli domestik maupun internasional, sehingga kondisi ini bisa menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan BMKS . Dia menyebutkan, keberadaan infrastruktur dan ekosistem JFX yang sudah berjalan dapat dimanfaatkan oleh BMKS , kemudian dilakukan penyesuaian dengan karakteristik komoditas yang akan diperdagangkan.
"Dengan target BMKS beroperasi pada 2027, menurut kami yang terpenting adalah bagaimana kapabilitas yang sudah dimiliki Indonesia dapat langsung dimanfaatkan. Sistem, mekanisme, dan pelaku pasarnya sudah ada. Untuk timah bahkan sudah berjalan dalam skala yang sangat besar. Jadi JFX memiliki basis yang kuat untuk bergerak lebih cepat," tutur Kanca.
Pengalaman perdagangan timah juga memberikan gambaran mengenai peran bursa dalam membangun data pasar domestik. Transaksi yang berlangsung melalui bursa menghasilkan rekam jejak harga, volume, serta aktivitas pelaku yang dapat menjadi basis dalam memperkuat proses pembentukan harga di Indonesia.
Hal tersebut menjadi relevan dengan salah satu tujuan pengembangan BMKS , yaitu memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas strategis. Sebagai produsen utama sejumlah komoditas dunia, Indonesia memiliki kepentingan agar kondisi supply dan demand di dalam negeri semakin tercermin dalam proses pembentukan harga.
"Untuk timah, proses itu sebenarnya sudah mulai berjalan. Harga JFX sudah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan ketika pembeli melakukan transaksi timah Indonesia. Dengan pasar yang semakin dalam dan transaksi yang semakin kuat, basis kita untuk membangun harga referensi dari Indonesia juga akan semakin kuat," ujar Kanca.
Selain timah, aktivitas perdagangan komoditas multilateral di JFX tetap terjaga sepanjang Agustus. Pada periode 1-29 Agustus 2026, total volume transaksi multilateral tercatat sebanyak 105.686 lot dengan nilai transaksi mencapai Rp22,09 triliun. Olein menjadi salah satu kontributor utama dengan volume transaksi 77.533 lot dan nilai transaksi Rp8,64 triliun di sepanjang periode tersebut.
Pada pekan terakhir Agustus, harga rata-rata transaksi olein di JFX meningkat 3,39 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut sejalan dengan harga acuan FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) yang meningkat 4,51 persen dari USD1.175 menjadi USD1.228 per ton.
Sementara itu, perdagangan emas digital on-exchange juga mengalami peningkatan aktivitas pada 23-29 Agustus 2026. Volume transaksi melambung 191,25 persen dibandingkan pekan sebelumnya, dari 0,8 menjadi 2,33. Sementara itu, nilai transaksi melesat 195,14 persen dari sekitar Rp2,02 juta menjadi Rp5,97 juta.
Kanca menyebutkan, perbedaan pergerakan transaksi dan harga pada masing-masing komoditas menunjukkan karakter pasar yang berbeda-beda. Menurut dia, pengalaman JFX mengembangkan perdagangan berbagai komoditas dapat menjadi modal dalam menentukan mekanisme yang sesuai untuk setiap komoditas yang nantinya dikembangkan melalui BMKS .
"Setiap komoditas punya karakteristik yang berbeda. Mekanisme yang berhasil untuk satu komoditas belum tentu bisa diterapkan dengan cara yang sama pada komoditas lainnya. Kita harus memahami apa yang dibutuhkan penjual dan pembeli, kemudian membangun mekanisme yang sesuai dengan karakter pasar tersebut," ucap Kanca.(Budi/AI)
Sumber : admin