- Sawit berjangka Malaysia turun akibat pelemahan soyoil dan lambatnya pembelian kedelai China.
- Target pembelian kedelai China diperkirakan tak tercapai, menekan pasar minyak nabati.
- Teknikal: peluang rebound sawit jika menembus resistance 4.192 ringgit.
Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia turun, Senin, terbebani pelemahan harga minyak kedelai Dalian dan Chicago di tengah kekhawatiran terkait lambatnya pembelian kedelai Amerika Serikat oleh China.
Harga minyak sawit untuk kontrak pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange melorot 57 ringgit atau 1,37% menjadi 4.095 ringgit (USD996,84) per metrik ton pada jeda tengah hari, demikian laporan Reuters, di Jakarta, Senin (8/12).
Direktur The Farm Trade, perusahaan konsultan dan perdagangan yang berbasis di Kuala Lumpur, Sandeep Singh, mengatakan ketidakpastian mengenai pembelian kedelai oleh China terus memberi tekanan pada kompleks kedelai global.
"Dengan kecepatan pengiriman saat ini, kecil kemungkinan China dapat memenuhi target pembelian mereka pada Desember sesuai kesepakatan awal dengan Amerika," ujar Singh.
Pengiriman komoditas Amerika ke China memang mulai meningkat setelah perang tarif yang memanas beberapa bulan terakhir sempat menghentikan perdagangan.
Jadwal pelayaran yang dilihat Reuters menunjukkan sedikitnya enam kapal barang curah dijadwalkan memuat kedelai dari terminal Gulf Coast hingga pertengahan Desember.
Namun, laju pembelian yang lambat memicu kekhawatiran China akan jauh dari proyeksi pejabat kabinet Amerika yang memperkirakan pembelian kedelai mencapai 12 juta ton pada akhir tahun, target yang tidak pernah dikonfirmasi Beijing.
Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif di Dalian turun 0,34%, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 0,28%. Harga soyoil di Chicago Board of Trade juga turun 0,41%.
Harga CPO secara umum mengikuti pergerakan minyak pesaing karena berkompetisi dalam pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia bergerak mendekati level tertinggi dua pekan seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pekan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan energi. Pasar juga terus memantau risiko geopolitik yang mengancam pasokan dari Rusia dan Venezuela.
Penguatan harga minyak mentah biasanya membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan harga CPO berpotensi menguji kembali level resistance 4.192 ringgit per ton, dan jika tembus, kenaikan dapat berlanjut hingga 4.291 ringgit. (Reuters/AI)
Sumber : Admin