- Tembaga dan nikel diproyeksikan naik mingguan meski ada aksi ambil untung, didorong kekhawatiran pasokan.
- Harga tetap didukung gangguan produksi, ketersediaan terbatas, dan potensi merger besar di industri pertambangan.
- Logam dasar lain seperti aluminium, seng, timah, dan timbal juga mencatat pergerakan positif di LME dan SHFE .
Ipotnews - Tembaga dan nikel diperkirakan menutup pekan ini dengan kenaikan, Jumat, meski beberapa investor melakukan aksi ambil untung setelah reli harga baru-baru ini. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran terhadap pasokan serta potensi permintaan yang meningkat seiring percepatan transisi energi global.
Kontrak tembaga yang paling aktif di Shanghai Futures Exchange ( SHFE ) ditutup melorot 0,45% menjadi 101.410 yuan (USD14.526,16) per metrik ton, namun di jalur untuk mencatat keuntungan mingguan 1,60%, demikian laporan Reuters, di Beijing, Jumat (9/1).
Sementara itu, harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) rebound 1,20% ke posisi USD12.873 per ton, dengan potensi kenaikan mingguan mencapai 3,24%.
Awal pekan ini, tembaga Shanghai sempat mencetak rekor tertinggi di 105.500 yuan per ton, sedangkan tembaga London mencapai USD13.386,50 per ton.
Penurunan harga sejak Rabu sebagian besar disebabkan aksi ambil untung investor. Meski demikian, harga tetap mendapat dukungan dari gangguan produksi di tambang dan ketersediaan tembaga olahan yang ketat di luar Amerika Serikat, seiring ketidakpastian tarif perdagangan.
Industri pertambangan global juga sedang mengeksplorasi peluang untuk meningkatkan eksposur terhadap logam seperti tembaga, yang diperkirakan mendapat keuntungan dari percepatan transisi energi dan elektrifikasi.
Sejumlah raksasa tambang, seperti Glencore dan Rio Tinto, membuka kembali pembicaraan merger awal yang berpotensi menciptakan perusahaan pertambangan terbesar dunia, setelah Anglo American dan Teck Resources hampir menyelesaikan penggabungan untuk menciptakan pemain besar di sektor tembaga.
Sementara itu, nikel berjangka yang paling aktif diperdagangkan di SHFE ditutup merosot 2,67% menjadi 139.090 yuan per ton, namun tetap mencatat kenaikan mingguan 2,36%. Nikel sempat mencapai level tertinggi sejak Juni 2024 di 149.600 yuan per ton awal pekan ini.
Di LME, nikel melambung 1,87% menjadi USD17.475 per ton, dan diproyeksikan mencatat kenaikan mingguan 3,86% setelah mencapai level tertinggi sejak Juni 2024 di USD18.800 per ton.
Pemulihan ini terjadi setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tidak memberikan rincian tambahan terkait rencana pemangkasan kuota tambang nikel 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kuota akan disesuaikan untuk memenuhi permintaan smelter lokal.
Logam dasar lainnya di kompleks LME, aluminium melonjak 1,20%, seng (zinc) naik 0,56%, timah melesat 1,78%, dan timbal (lead) menguat 0,67%.
Di bursa berjangka Shanghai, aluminium melambung 1,42%, sedangkan seng turun 0,31%, timbah menurun 0,08%, dan timbal menyusut 0,94%. (Reuters/AI)
Sumber : Admin