Tembaga London Teruskan Tren Positif, Melambung 3,75% Pekan Ini
Friday, October 03, 2025       15:05 WIB
  • Harga tembaga naik untuk sesi ketiga berturut-turut dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan 3,75%, didorong gangguan pasokan seperti force majeure di tambang Grasberg, Indonesia.
  • Gangguan di Grasberg, yang menyumbang 3% produksi tembaga global, diperkirakan mengurangi output hingga 591.000 ton hingga akhir 2026, mendorong sejumlah bank besar merevisi naik proyeksi harga.
  • Permintaan tembaga meningkat berkat transisi energi hijau, pembangunan pusat data AI, dan peningkatan belanja pertahanan global, sementara pelemahan dolar turut mendukung penguatan harga logam dasar lainnya.

Ipotnews - Harga tembaga berjangka menguat untuk hari ketiga beruntun, Jumat, dan diprediksi mencatat kenaikan mingguan yang solid, di tengah gangguan pasokan yang terus berlangsung dan permintaan yang kian meningkat.
Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,72% menjadi USD10.566 per metrik ton pada pukul 14.15 WIB, setelah mencapai level tertinggi dalam 16 bulan pada sesi Kamis, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Jumat (3/10).
Secara mingguan, harga tembaga berjangka London diproyeksikan melambung sekitar 3,75%.
Fokus pasar dalam beberapa hari terakhir tertuju pada gangguan pasokan global, khususnya setelah Freeport-McMoRan mengumumkan status force majeure di tambang Grasberg, Indonesia, yang merupakan tambang tembaga terbesar kedua di dunia dan menyumbang sekitar 3% dari produksi konsentrat tembaga global.
Analis memperkirakan gangguan ini dapat menyebabkan hilangnya produksi sebesar 591.000 ton tembaga antara September 2025 hingga akhir 2026. Situasi ini mendorong sejumlah bank kakap seperti Goldman Sachs, Citi, dan Bank of America, untuk menaikkan proyeksi harga tembaga.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, diperkirakan melorot 0,35% secara mingguan -- penurunan terbesar sejak awal Agustus.
Depresiasi dolar membuat logam yang dihargai dalam dolar, seperti tembaga, menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Permintaan tembaga diperkirakan terus meningkat seiring dorongan global menuju transisi energi hijau, pertumbuhan pesat pusat data untuk kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya belanja militer global, seperti diungkap analis Socit Gnrale Corporate and Investment Banking (SGCIB).
Namun, secara global, aktivitas pabrik menunjukkan kontraksi di berbagai kawasan, terutama disebabkan lemahnya sektor manufaktur di China. Permintaan domestik yang lesu dan kekhawatiran atas dampak tarif baru dari Amerika Serikat turut membebani ekonomi China, yang merupakan konsumen tembaga terbesar dunia.
Di sisi lain, data terbaru memperlihatkan persediaan tembaga global melorot 2,05% dalam sepekan menjadi 140.950 ton per 29 September.
Logam dasar lainnya di kompleks LME, harga aluminium naik 0,02% menjadi USD2.693 per ton, nikel menguat 0,38% jadi USD15.375, timah melonjak 1,46% ke posisi USD37.425, seng (zinc) menanjak 0,33% ke level USD3.030,5, dan timbal (lead) meningkat 0,27% jadi USD2.029,5. (Reuters/AI)

Sumber : Admin