- Sektor properti pulih moderat pada 2026 didorong digitalisasi dan stabilitas ekonomi.
- Fokus pada gedung hijau, TOD, dan PropTech berbasis AI.
- Pemerintah target 3 juta rumah dan pembiayaan murah bagi MBR.
Ipotnews -- Sektor properti nasional diperkirakan memasuki fase pemulihan moderat pada 2026, ditopang oleh tren digitalisasi, keberlanjutan, dan stabilitas makro ekonomi.
Pengamat Properti, Anton Sitorus menilai segmen logistik dan industri akan menjadi penopang utama di tengah stabilisasi pasar residensial. Stabilitas makro ekonomi dan dorongan kebijakan fiskal akan memperkuat keyakinan investor terhadap sektor properti terutama untuk jangka menengah.
Menurutnya, tren utama properti ke depan mencakup gedung hijau berkelanjutan, kawasan transit-oriented development (TOD), dan adopsi PropTech berbasis kecerdasan buatan. Ia memproyeksikan suku bunga KPR turun ke kisaran 4,5-5,5 persen, sementara pertumbuhan ekonomi tetap solid di level 5 persen.
"Pengembang yang adaptif terhadap digitalisasi dan keberlanjutan akan menjadi pemain dominan di lanskap properti masa depan," kata Anton dalam Forum Inabanks Investment & Property Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (12/11).
Dari sisi kebijakan, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PKP) menargetkan pembangunan dan renovasi tiga juta unit rumah hingga 2029. Direktur Pembiayaan Perumahan Perkotaan, Buhari Sirait menyebut program ini sebagai bagian dari peta jalan penyediaan hunian layak dan berkelanjutan.
"Kami ingin memastikan bahwa setiap keluarga, terutama masyarakat berpenghasilan rendah, memiliki akses terhadap hunian layak yang aman dan terjangkau," ujar Buhari.
Untuk mengakselerasi pemenuhan perumahan yang layak huni terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), pemerintah telah menyediakan pembiayaan murah dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan ( FLPP ) senilai Rp25,1 triliun dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di sektor properti hingga sebesar Rp130 triliun.
"Skema rent to own juga akan diperluas bagi pekerja informal agar mereka memiliki rumah melalui pola sewa beli yang lebih fleksibel," katanya.
Buhari juga optimistis sektor perumahan akan tumbuh positif pada 2026, ditopang oleh penurunan suku bunga BI ke level 4,75 persen, stimulus fiskal, serta proyek infrastruktur strategis seperti MRT Fase 2, LRT Jabodebek, dan Tol Layang Jabodetabek. (Marjudin/ AI)
Sumber : admin