Sentimen Geopolitik Di Timur Tengah Terus Menekan, IHSG Terseret di Bawah 7.000 di Transaksi Pagi Ini
Monday, March 16, 2026       09:17 WIB
  • IHSG anjlok hingga -2,29% ke level 6.974, dengan 491 emiten melemah dan seluruh sektor terkoreksi.
  • Sentimen global memburuk: Wall Street jatuh, konflik AS-Israel vs Iran memicu ketidakpastian, jalur Selat Hormuz terguncang.
  • Harga minyak naik 3,11% ke USD98,71/barel dan batubara 2,85% ke USD138,75/ton, membuka peluang pada saham energi & perkebunan (, , ).

Ipotnews - Awal pekan ini, Senin (16/3), IHSG dibuka melemah 0,30 persen atau 22 poin ke level 7.115 dari penutupan akhir pekan lalu di level 7.137.
Sesaat kemudian pada pukul 09.04 WIB indeks semakin tertekan dengan melemah sebesar 2,29 persen atau 163 poin yang menyeret indeks ke level 6.974. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 7.120 dan terendah 6.969 yang terkurung di zona merah.
Terdapat 107 emiten yang bergerak menguat, 491 emiten melemah dan 360 emiten stabil. Frekuensi transaksi mencapai 155,6 ribu kali dengan nilai Rp1,22 triliun serta market kapital perdagangan mencapai Rp12,37 triliun.
Seluruh sektor tercatat melemah dengan rincian sebagai berikut, sektor transportasi terkoreksi -1,96 persen ke level 1.725, bahan baku -2,85 persen menjadi 1.961, konsumer primer -2,10 persen menjadi 940, kesehatan -0,50 persen menjadi 1.790.
Kemudian sektor industri -1,62 persen ke level 1.727, konsumer non primer -1,80 persen menjadi 684, infrastruktur -2,61 persen ke level 1.828.
Lalu sektor properti -1,12 persen menjadi 917, energi -2,88 persen menjadi 3.564, teknologi -1,73 persen menjadi 7.468 dan keuangan -0,85 persen ke level 1.361.
Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah menyatakan bahwa di tengah kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian terutama akibat perang AS, Israel vs Iran, disarankan investor untuk tetap berhati-hati dengan kecenderungan defensif. Terlebih dalam waktu dekat akan ada momentum lebaran dimana volume perdagangan cenderung sangat terbatas.
Kabar dari pasar global kembali memberi tekanan pada arah sentimen investor. Wall Street ditutup serempak melemah, dengan Dow Jones dan S&P 500 bergerak dalam fase downtrend, bahkan S&P 500 berada dalam level terendah di tahun 2026. Pelemahan ini dipicu ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum menunjukkan kejelasan.
Situasi di Selat Hormuz kian memperburuk sentimen. Meski jalur tetap terbuka, kapal-kapal dari AS, Israel, dan sekutunya tidak diperkenankan melintas. Sementara itu, sejumlah kapal non-sekutu memilih menghindari jalur tersebut untuk mengantisipasi risiko.
Dampaknya, harga minyak mentah melonjak 3,11 persen menjadi USD98,71 per barel. Komoditas batubara juga terkerek naik 2,85 persen ke level USD138,75 per ton. Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu inflasi global.
Di dalam negeri, IHSG akhir pekan lalu ditutup melemah signifikan 3,05 persen ke level 7.137. Pelemahan ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap kondisi global yang penuh ketidakpastian. Meski demikian, Hari melihat peluang pada sejumlah saham sektor energi dan perkebunan yang dinilai masih prospektif. Ia merekomendasikan tiga saham untuk aksi beli (buy).
Pertama, PT Bukit Asam Tbk () dengan entry level di 2.910, target price 3.130, dan stop loss di 2.870. Saham ini dinilai akan diuntungkan dari tren kenaikan harga batubara.
Kedua, PT Indika Energy Tbk () dengan entry level 3.620, target price 4.150, dan stop loss 3.770. Kinerja perusahaan energi ini diperkirakan akan positif seiring penguatan harga minyak dan batubara.
Ketiga, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk () dengan entry level 1.290, target price 1.330, dan stop loss 1.260. Saham perkebunan ini direkomendasikan karena potensi kenaikan harga komoditas agrikultur.(Marjudin AI)

Sumber : admin
An error occurred.