Sempat Stabil, Aktivitas Manufaktur Jepang Kembali Melemah pada Juli
Friday, August 01, 2025       07:37 WIB

Ipotnews - Aktivitas manufaktur Jepang kembali mengalami kontraksi pada Juli setelah sempat stabil pada bulan sebelumnya, seiring lemahnya permintaan yang mendorong penurunan produksi, menurut survei sektor swasta yang dirilis pada Jumat (1/8).
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Jepang versi S&P Global turun menjadi 48,9 pada Juli dari 50,1 di Juni, kembali ke bawah ambang batas 50,0 yang memisahkan ekspansi dari kontraksi. Angka tersebut tidak jauh berbeda dari estimasi awal (flash reading) sebesar 48,8.
Sebagian besar data survei dikumpulkan sebelum pengumuman perjanjian dagang Jepang-Amerika Serikat pekan lalu, yang menurunkan tarif atas produk Jepang menjadi 15% dari ancaman sebelumnya sebesar 25%.
"Seiring berlakunya kesepakatan dagang dengan Washington, penting untuk melihat apakah ini akan meningkatkan kepercayaan pelanggan dan penjualan dalam beberapa bulan ke depan," ujar Annabel Fiddes, Associate Director bidang ekonomi di S&P Global Market Intelligence, penyusun survei tersebut.
Sub-indeks utama untuk produksi kembali mengalami kontraksi, bahkan mencatat penurunan paling tajam sejak Maret. Perusahaan secara luas melaporkan pengurangan produksi akibat turunnya volume pesanan baru.
Pesanan baru kembali menyusut pada Juli, meski penurunannya sedikit lebih lambat dibandingkan Juni.
Meski produksi dan pesanan menurun, perusahaan manufaktur tetap menambah tenaga kerja pada Juli, meski laju penciptaan lapangan kerja melambat ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Dari sisi harga, inflasi biaya input mereda ke level terendah dalam empat setengah tahun terakhir. Namun, harga output naik dengan laju tercepat dalam setahun karena perusahaan mulai membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.
Kepercayaan bisnis meningkat ke titik tertinggi dalam enam bulan pada Juli, dengan ekspektasi bahwa permintaan akan membaik dan ketidakpastian terkait perdagangan akan mereda, sehingga mendukung pertumbuhan dalam satu tahun ke depan.(Reuters)

Sumber : admin