Sektor Properti Tetap Prospektif, KPR BRIS Tumbuh di Atas Rata-rata
Wednesday, November 12, 2025       13:55 WIB
  • optimistis sektor properti akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi 2026, dengan pembiayaan KPR BSI Griya tumbuh 8,51%, melampaui rata-rata nasional 7,66%, serta NPF terjaga di level 2,10%.
  • Pertumbuhan positif sektor perumahan didorong dukungan kebijakan pemerintah seperti perpanjangan PPN DTP dan potensi penurunan suku bunga acuan.
  • Tantangan utama industri properti meliputi banyaknya calon pembeli gagal lolos SLIK akibat pinjaman online (sekitar 70%), daya serap pasar fluktuatif, serta proses sertifikasi tanah yang mahal dan lama.

Ipotnews - PT Bank Syariah Indonesia Tbk () menyatakan potensi pembiayaan di sektor properti masih sangat terbuka lebar seiring dengan outlook industri pada 2026 yang diyakini akan semakin membaik. Bahkan industri properti dinilai akan menjadi salah satu leading sektor bagi indikator pertumbuhan ekonomi 2026.
Senior Vice President Consumer Business I , Raka Mulia Agung, menjelaskan kredit pemilihan rumah (KPR) nasional pada Juni 2025 tumbuh 7,66 persen.
Namun pada segmen bisnis KPR perseroan melalui produk BSI Griya tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan KPR nasional, yaitu 8,51 persen. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan kinerja tahun lalu yang tumbuh 8,22 persen.
"Sektor properti ini tidak pernah negatif (pertumbuhannya) sekalipun saat Covid-19. Kalau pertumbuhannya naik turun itu wajar, karena memiliki rumah bukan suatu yang diputuskan hari ini, tetapi direncanakan cukup panjang," kata Raka dalam acara Inabank Investment & Property Outlook: Peluang dan Tantangan Bisnis Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (12/11).
Raka menyatakan porsi pembiayaan terhadap sektor perumahan memang tidak dominan, namun menjadi salah satu yang memiliki kinerja cukup baik. Posisi outstanding BSI Griya per September 2025 berada di urutan 6 besar top growth dari jajaran bank nasional dengan pertumbuhan 4,68 persen, dan non performing finance (NPF) terjaga di level 2,10 persen.
"Bank-bank kompetitor memang tumbuh, tetapi NPF mereka juga naik, sedangkan di BSI terjaga dengan baik, sebab kami menyadari kualitas pembiayaan itu menjadi sangat penting," katanya.
Dia kembali menegaskan industri properti akan tetap tumbuh positif, salah satunya karena pemerintah memberikan dukungan kebijakan seperti perpanjangan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah untuk pembelian rumah hingga tingkat suku bunga acuan yang cenderung mengalami penurunan.
"Kami melihat indikasi perekonomian yang mengarah ke perumahan akan membaik. Insya Allah pada 2026 kita bisa tetap menyalurkan pembiayaan di sektor perumahan," katanya.
Sementara itu, Adri Istambul Lingga Gayo, Kepala Badan Advokasi dan Perlindungan Anggota DPP REI menambahkan penjualan rumah untuk unit kecil di periode triwulan III-2025 bergerak positif hingga 14,95 persen, namun sebaliknya untuk rumah tipe besar anjlok 23 persen.
Sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional, sektor perumahan masih tetap membutuhkan dukungan fiskal demi memaksimalkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dia juga meyakini, ke depan, industri properti masih akan tumbuh lebih kuat meski dihadapkan beberapa tantangan utama.
Beberapa tantangan tersebut adalah banyaknya calon pembeli rumah yang gagal menembus aturan yang ditetapkan pada Sistem Layanan Informasi Keuangan ( SLIK ) dari Otoritas. Sekitar 70 persen nasabah atau konsumen tertolak pengajuannya karena masuk dalam daftar hitam BI Checking.
"Ini biasanya terjadi karena banyak masyarakat kita yang terserap dengan pinjaman online. Maka kita harap masyarakat berhati-hati dan selektif dalam memilih layanan keuangan," kata Adri.
Tantangan lainnya adalah daya serap pasar yang fluktuatif akibat ketidakpastian ekonomi global maupun domestik. Kemudian soal iklim investasi di sektor perumahan yang rumit, mahal dan butuh waktu yang panjang.
"Hambatan investasi di sektor ini karena proses sertifikasi tanah yang memerlukan waktu lama dan biaya tinggi," ungkapnya. (Marjudin/AI)

Sumber : Admin
An error occurred.