Seimbangkan Portofolio ke Arah Saham, Potensi Kenaikan Masih Terbuka - Ashmore
Saturday, January 10, 2026       23:25 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indomesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ini, Jumat (9/1), dengan mencatatkan penguatan IHSG sebesar 0,13% menjadi 8.937, lebih tinggi dari sesi penutupan pekan sebelumnya di posisi 8.748. Pada pekan ini, IHSG berhasil menembus level rekor 9000, untuk pertama kalinya sekalgus mencatatkan rekor tertinggi (ATH) di posisi 9003 pada 8 Januari, dan rekor penutupan tertinggi di level 8.945 pada 7 Januari. Sementara itu investor asing mencatatkan arus masuk ekuitas sebesar USD106 juta sepanjang pekan.
 Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia, mencatat beberapa datapenting pekan ini, antara lain;

Apa yang terjadi sepanjang pekan?
Ashmore mencatat penguatan IHSG pekan ini, antara lain didukung oleh sektor dengan kinerja terbaik yaitu Basic Materials dan Industrials dengan kenaikan 6,25% dan 6,19%. Sedangkan sektor Teknologi menjadi yang terlemah dengan penurunan 0,61%.
Kinerja terbaik pekan ini dicatatkan oleh Indeks Shanghai Composite dengan kenaikan 3,82%, serta harga emas yang menguat 3,29%. Sementara Indeks Hang Seng mengalami koreksi 0,41%.
Ashmore juga mencatat, rilis data PMI AS terbaru menunjukkan gambaran beragam. Sektor manufaktur mengalami kontraksi lebih dalam dari perkiraan akibat penurunan produksi dan persediaan. Sementara itu, sektor jasa tumbuh lebih kuat dari ekspektasi.
Data lowongan kerja AS tercatat terendah sejak September 2024 dan berada di bawah konsensus. Penurunan lowongan kerja terutama terjadi di sektor akomodasi dan makanan, yang mengindikasikan pendinginan berlanjut di pasar tenaga kerja AS.
Di Kanada, data Ivey PMI menunjukkan peningkatan kepercayaan yang lebih kuat dari perkiraan pasar, berbalik dari kontraksi bulan sebelumnya menjadi ekspansi.
Di kawasan Eropa, inflasi utama dan inflasi inti tahunan relatif sesuai ekspektasi. Inflasi utama kembali ke titik tengah target ECB, sehingga memperkuat peluang suku bunga tetap stabil. Tingkat pengangguran kawasan turun ke 6,3% setelah bertahan di 6,4% sejak Mei 2025. Sementara itu, inflasi tahunan Jerman secara mengejutkan turun di bawah perkiraan, menjadi level terendah sejak 2021, terutama didorong oleh pelemahan inflasi barang.
Di Asia, inflasi China tercatat lebih rendah dari konsensus namun menunjukkan percepatan sejak Agustus dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2023. Kenaikan terbesar berasal dari harga pangan, khususnya sayuran dan buah segar. Kendati demikian, indeks harga produsen (PPI) masih berada di zona negatif untuk bulan ke-39 berturut-turut, meski mencatat penurunan paling lambat sejak Agustus 2024.
"Di Indonesia, inflasi tahunan tercatat lebih tinggi dari perkiraan, terutama dipicu oleh kenaikan harga pangan dan perumahan, meski masih berada dalam kisaran target bank sentral," tulis Ashmore.
Sensitivitas pasar terhadap data meningkat
Ashmore menggarisbawahi, memasuki pekan penuh pertama di awal tahun, pasar mulai kembali normal dengan aktivitas yang kembali meningkat. Pasar saham domestik mencatat likuiditas yang tinggi dengan rata-rata nilai transaksi harian yang besar. Reli terjadi di berbagai sektor dan investor asing terus membukukan aksi beli bersih.
Harga nikel melonjak dan mendorong saham-saham terkait nikel menguat, dengan katalis utama berupa rencana pengetatan kuota penambangan pada 2026. Para pelaku pasar global di bursa LME mengambil posisi yang memicu pergerakan harga signifikan sebelum akhirnya mengalami koreksi.
Selain saham, pekan ini juga diwarnai lelang perdana obligasi pemerintah Indonesia yang mencatat permintaan kuat sekitar Rp90 triliun. Pemerintah menerbitkan obligasi bernilai sekitar Rp40 triliun dan imbal hasil mendekati batas bawah penawaran. "Hal ini turut mendukung kepercayaan dan sentimen di pasar obligasi domestik," imbuh Ashmore.
Dalam konteks global, Ashmore melihat, pasar mengawali tahun ini dengan nada serupa seperti akhir tahun lalu, di mana aset berisiko masih mencatatkan kinerja positif. Namun, investor semakin sensitif terhadap rilis data ekonomi AS. "Mengingat sejumlah data sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan AS, pelaku pasar terus mencermati data lanjutan untuk memperoleh gambaran ekonomi yang lebih jelas," papar Ashmore.
Sementara itu, laporan terbaru mengenai lowongan kerja memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS terus mendingin meski masih relatif solid. Pasar kini menantikan data lain seperti tingkat pengangguran yang diperkirakan tetap tinggi di sekitar 4,6%, sehingga konsensus mengarah pada jeda suku bunga The Fed yang lebih lama pada paruh pertama tahun ini.
Di sisi lain, Ashmore juga melihat, pandangan pejabat The Fed masih terbelah; Gubernur The Fed Stephen Miran menyatakan suku bunga sebaiknya diturunkan hingga 150 basis poin tahun ini untuk mendukung pasar tenaga kerja. Sedangkan anggota lain bersikap lebih konservatif terkait risiko inflasi dan pengangguran.
Faktor politik di internal The Fed juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan dalam jangka pendek, terutama menjelang berakhirnya masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell pada Mei 2026, di mana ketua berikutnya berpeluang lebih agresif dalam memangkas suku bunga. "Secara keseluruhan, data ekonomi AS diperkirakan akan menjadi pendorong utama volatilitas dan sentimen risiko dalam waktu dekat," ungkap Ashmore.
Untuk Indonesia, Ashmore menekankan, rilis inflasi terbaru menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan - menjadi level tahunan tertinggi sejak April 2024 - terutama didorong oleh kenaikan harga pangan dan emas. Meski demikian, inflasi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%. Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut.
"Dalam jangka pendek, stabilitas rupiah tetap menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan Bank Indonesia, dengan rapat berikutnya dijadwalkan sekitar dua pekan mendatang," sebut Ashmore.
Dalam kondisi saat ini, Ashmore merekomendasikan investor untuk melakukan penyeimbangan portofolio ke arah saham, mengingat potensi kenaikan masih terbuka sepanjang tahun ini. Katalis utama meliputi efek pengganda yang lebih besar seiring penurunan suku bunga kredit secara bertahap untuk mendukung aktivitas investasi.
Ashmore juga berpendapat, kondisi saat ini dinilai berbeda dibandingkan awal tahun lalu, terutama dengan likuiditas yang lebih longgar berkat dukungan kebijakan domestik, lingkungan suku bunga yang lebih rendah dengan transmisi yang lebih baik ke ekonomi riil, serta belanja fiskal yang lebih signifikan.
"Dalam situasi ini, kami menilai reksa dana saham yang dikelola secara aktif, berpotensi memberikan nilai tambah bagi investor. Kami tetap optimistis pada komoditas tertentu dan lebih memilih emiten berpendapatan dolar AS dalam kondisi pasar saat ini." (Ashmore)


Sumber : Admin