- Sekitar 83% nikel Indonesia masih terserap industri stainless steel, hanya 17% masuk rantai pasok baterai EV
- Ketergantungan pada PLTU captive batu bara melemahkan klaim "green nickel"
- Tren baterai tanpa nikel seperti LFP berpotensi menggerus prospek permintaan
Ipotnews - Ambisi Indonesia menjadi pusat global baterai kendaraan listrik (EV) berisiko meleset, seiring mayoritas produksi nikel nasional masih digunakan untuk industri baja tahan karat, bukan rantai pasok EV.
Laporan terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (Crea) yang dirilis Kamis (16/4) menunjukkan sekitar 83% output nikel Indonesia pada 2025 diserap sektor stainless steel, sementara hanya 17% yang masuk ke produksi baterai EV.
Temuan ini menyoroti kesenjangan antara narasi "green nickel" Indonesia dan realitas struktur industri hilirnya. Padahal, sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia selama ini gencar mendorong hilirisasi dan investasi baterai EV.
Analis Crea, Syahdiva Moezbar, menilai strategi berbasis EV Indonesia masih menghadapi tantangan kesiapan teknologi dan rantai pasok domestik. Ia menekankan pentingnya pengembangan teknologi pemurnian lanjutan seperti high-pressure acid leaching ( HPAL ) untuk menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi dan mengurangi ketergantungan pada stainless steel.
Selain itu, laporan juga menyoroti ketergantungan besar industri nikel terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara captive. Ekspansi smelter nikel diiringi peningkatan signifikan PLTU off-grid yang khusus menyuplai energi ke fasilitas pengolahan.
Crea mencatat industri ini terhubung dengan pipeline kapasitas PLTU captive hingga 31 gigawatt, yang sebagian dimungkinkan oleh celah regulasi dan klasifikasi dalam taksonomi hijau sebagai energi "transisi".
Kondisi ini menciptakan risiko "carbon lock-in", di mana fasilitas industri baru tidak dirancang untuk terhubung dengan energi terbarukan atau jaringan listrik nasional di masa depan.
Analis Crea lainnya, Katherine Hasan, menegaskan pengurangan ketergantungan pada batu bara captive menjadi kunci, baik dari sisi lingkungan maupun daya saing jangka panjang. Ia menyarankan pembangunan fasilitas baru lebih dekat dengan sumber energi terbarukan.
"Transformasi 'green nickel' hanya akan nyata jika Indonesia menghentikan ketergantungan pada aset beremisi tinggi," ujarnya.
Dari sisi pasar, strategi nikel Indonesia juga menghadapi tantangan dari tren teknologi baterai. Baterai tanpa nikel seperti lithium iron phosphate (LFP) kini semakin dominan, terutama di China, dengan pangsa lebih dari 80% karena biaya lebih rendah dan ??? pakai lebih panjang.
Adopsi LFP oleh produsen otomotif China, baik di pasar domestik maupun negara berkembang, mengindikasikan banyak kendaraan listrik di pasar seperti Indonesia tidak lagi bergantung pada nikel.
Di sisi lain, kendaraan berbahan bakar fosil (ICE) masih mendominasi penjualan global. Karena nikel banyak digunakan dalam komponen stainless steel kendaraan konvensional, sebagian besar produksi Indonesia masih secara tidak langsung terkait dengan pasar ICE, bukan EV.
Crea juga mengingatkan bahwa ekspansi cepat industri nikel berpotensi mempercepat penurunan cadangan bijih berkadar tinggi, khususnya saprolit. Penurunan kualitas bijih ini berisiko meningkatkan konsumsi energi, biaya produksi, serta emisi ke depan.(Businesstimes.com.sg)
Sumber : Admin