Sawit Merosot Tertekan Permintaan Lesu dan Pelemahan Minyak Mentah
Thursday, June 04, 2026       12:53 WIB
  • CPO turun 0,77% akibat lemahnya permintaan dan harga minyak pesaing.
  • Ekspor sawit Mei melemah, sementara stok diperkirakan meningkat.
  • Harga minyak dunia turun, sehingga daya tarik sawit untuk biodiesel berkurang.

Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia melorot, Kamis, setelah mencatat kenaikan pada sesi sebelumnya, dipengaruhi lemahnya permintaan ekspor serta tekanan dari harga soyoil dan minyak mentah yang lebih rendah.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 36 ringgit, atau 0,77%, menjadi 4.641 ringgit (USD1.156,49) per metrik ton pada jeda siang, demikian laporan  Reuters,  di Kuala Lumpur, Kamis (4/6).
"Pasar bergerak menurun karena harga minyak kedelai (soyoil) dan minyak mentah melemah selama jam perdagangan Asia, sementara permintaan minyak sawit yang juga melemah baru-baru ini menambah tekanan," ujar David Ng, trader di firma perdagangan Iceberg X Sdn Bhd, Kuala Lumpur.
Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian merosot 0,65%, sementara kontrak minyak sawitnya anjlok 1,19%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai turun 0,36%.
Harga sawit sering mengikuti pergerakan minyak pesaing lainnya karena berkompetisi untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Survei pengawas kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode Mei menyusut antara 8,8% hingga 15,5% dibanding bulan sebelumnya.
Selain itu, harga minyak dunia merosot setelah perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon meningkatkan harapan untuk kesepakatan lebih luas guna mengakhiri konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Disamping itu, DPR Amerika menyetujui resolusi yang berupaya membatasi kekuasaan perang Presiden Donald Trump.
Pelemahan harga minyak mentah membuat sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Nilai tukar ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, melemah 0,58% terhadap dolar AS, menjadikan komoditas ini lebih murah bagi pembeli dengan mata uang asing.
Sementara itu, inventaris minyak sawit Malaysia diperkirakan meningkat untuk bulan kedua berturut-turut pada Mei, karena ekspor yang lesu melebihi dampak penurunan produksi, menurut survei  Reuters. 
Dari sisi teknikal, harga minyak sawit diprediksi dapat menguji level resistance di 4.691 ringgit per ton. Jika berhasil menembus, potensi kenaikan bisa mencapai 4.734 ringgit, kata analis teknikal Reuters Wang Tao. (Reuters/AI)

Sumber : Admin